Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

ARIUS


(256 -- 336) Pencetus Bidah Kristen: Arianisme

Arianisme adalah bidah dalam kekristenan yang pertama kali diajukan pada awal abad ke-4 oleh Presbiter Alexandria, Arius. Bidah tersebut menegaskan bahwa Kristus tidak benar-benar ilahi, tetapi suatu ciptaan. Dasar pemikiran Arius adalah keunikan Allah, yang satu-satunya ada dengan sendirinya dan bersifat kekal. Anak, yang ada bukan dengan sendirinya, tidak mungkin adalah Allah.

Sebagai seorang asketis, pemimpin moral sebuah komunitas Kristen di daerah Alexandria, Arius menarik banyak pengikut melalui pesan yang memadukan paham Neoplatonisme, yang menitikberatkan kesatuan ketuhanan yang mutlak sebagai kesempurnaan tertinggi, dengan pendekatan rasionalis dan literal terhadap teks-teks Perjanjian Baru. Kristus dipandang sebagai Makhluk paling sempurna di dunia material, yang integritas moral-Nya membuat Dia "diadopsi" oleh Allah sebagai Anak, yang bagaimanapun juga, tetap menjadi Tuhan kedua, atau Logos, yang secara substansi tidak seperti Bapa yang kekal dan tidak diciptakan, dan tunduk pada kehendak Bapa. Karena ketuhanan adalah unik, itu tidak dapat dibagi atau ditransferkan sehingga Anak tidak mungkin adalah Allah. Karena ketuhanan adalah kekal, Anak, yang tidak kekal (yang diwakili dalam Injil sebagai subjek yang bertumbuh dan berubah) tidak bisa menjadi Allah. Karena itu, Anak harus dianggap sebagai Makhluk yang dipanggil ke dalam keberadaan dari ketiadaan dan telah memiliki sebuah permulaan. Bahkan, Anak tidak dapat memiliki pengetahuan langsung dari Bapa karena Anak terbatas dan berasal dari urutan keberadaan yang berbeda. Tesis ini dipublikasikan sekitar tahun 323 melalui ayat puitis dalam karya besar Arius, "Thalia" (perjamuan), dan disebarkan secara luas melalui susunan lagu-lagu populer yang ditulis untuk para pekerja dan pelancong.

Menurut para penentangnya, terutama Athanasius, pengajaran Arius merendahkan Anak menjadi setengah allah, memperkenalkan kembali paham politeisme (karena penyembahan kepada Anak tidak dilarang), dan merusak konsep Kristen tentang penebusan karena hanya Kristus yang benar-benar adalah Allah, yang dapat menebus dunia. Sejak awal, pertentangan pendapat antara dua pihak terjadi terhadap dasar umum konsep Neoplatonis tentang "ousia" (substansi atau barang), yang asing bagi Perjanjian Baru itu sendiri.

Menindaklanjuti sikap saling mengutuk (323 -- 324) antara kaum Arian dan berbagai persekutuan imam di Mesir, Palestina, dan Suriah, Kaisar Constantine, yang sangat merindukan persatuan dan perdamaian, mengirim utusan untuk menengahi konflik. Upaya ini gagal sehingga ia memerintahkan Konsili Nicea (Konsili Ekumenis Pertama) pada bulan Mei 325, untuk menetapkan apa yang ia sebut dengan "perselisihan atas perbedaan verbal yang sepele dan bodoh". Para uskup mengeluarkan pengakuan iman untuk melindungi kepercayaan Kristen Ortodoks. Pengakuan iman ini menyatakan bahwa Anak adalah "homoousion to Patri" (dari satu substansi dengan Bapa). Dengan demikian, pengakuan ini menyatakan bahwa Dia adalah sama dengan Bapa: Dia benar-benar Allah. Ketika Arius menolak menandatangani pengakuan iman ini, para uskup menyatakannya sebagai bidah, dan mengasingkan Arius beserta para pemimpin Arian lainnya. Hal ini tampaknya telah mengakhiri kontroversi, tetapi sebenarnya ini hanyalah awal dari sebuah perselisihan yang lama dan berlarut-larut.

Walau para pemimpin Arianisme diasingkan, mereka melakukan intrik untuk kembali ke gereja mereka, mengawasinya, dan menghalau musuh-musuh mereka. Sebagian dari mereka berhasil. Dukungan yang berpengaruh dari rekan-rekan mereka di Asia Kecil dan dari putri Kaisar, Constantia, berhasil dalam memengaruhi kembalinya Arius dari pengasingan dan penerimaannya kembali ke dalam gereja setelah menyetujui salam kompromi, meskipun mendapat tentangan dari Athanasius. Namun, sesaat sebelum diperdamaikan, Arius pingsan dan meninggal saat sedang berjalan melewati jalan-jalan Konstantinopel pada tahun 336.

Ketika Constantine meninggal pada tahun 336, Constans menjadi kaisar di wilayah Barat dan Constantius II menjadi kaisar di wilayah Timur. Kaisar Constans bersimpati kepada orang-orang Kristen Ortodoks, sedangkan Constantius berpihak kepada orang-orang Arian. Dalam konsili yang diadakan di Antiokhia (tahun 341), suatu pengakuan iman yang menghilangkan pasal "homoousion" (Anak sama dengan Bapa) dikeluarkan. Konsili lain diadakan di Sardica pada tahun 342, tetapi hanya sedikit hasil yang dicapai oleh kedua konsili ini.

Pada tahun 350, Constantius II menjadi penguasa tunggal kekaisaran; dan di bawah kepemimpinannya, sebagian besar kelompok Nicea (dari Kristen Ortodoks) hancur. Kemudian, para penganut Arianisme yang ekstrem menyatakan bahwa Anak adalah "anomoios" (tidak seperti) Bapa. Pandangan tersebut berhasil disahkan di Sirmium pada tahun 357, tetapi ekstremisme mereka ini merangsang pihak moderat, yang menegaskan bahwa Anak adalah "homoiousios" (memiliki substansi yang serupa) dengan Bapa, dan pihak konservatif, yang menegaskan bahwa Anak adalah "homoios" (sama dengan) Bapa. Awalnya, Constantius mendukung para penganut "homoiousios", tetapi kemudian mengalihkan dukungannya kepada penganut "Homoenas" (Anak dan Bapa adalah sama -- Red.) yang dipimpin oleh Acacius. Pandangan mereka disetujui pada tahun 360 di Konstantinopel. Di sanalah, semua pengakuan iman yang dulu diadakan ditolak. Istilah "ousia" ("substansi" atau "barang") telah ditolak, dan sebuah pernyataan iman dikeluarkan, yang menyatakan bahwa Anak adalah "seperti Bapa yang memperanakkan Dia".

Setelah kematian Constantius pada tahun 361, mayoritas Kristen Ortodoks di wilayah Barat mengonsolidasikan posisinya. Penganiayaan terhadap penganut Arianisme yang dilakukan oleh kaisar Valens (364 -- 378) di wilayah Timur, dan keberhasilan pengajaran Basil Agung dari Caesarea, Gregory dari Nyssa, dan Gregory dari Nazianzus memimpin mayoritas penganut "homoiousios" di wilayah Timur untuk menerima kesepakatan mendasar dengan kelompok Nicea. Ketika kaisar Gratianus (367 -- 383) dan Theodosius I (379 -- 395) mengambil pertahanan ortodoksi, Arianisme runtuh. Pada tahun 381, Dewan Ekumenis Kedua bertemu di Konstantinopel. Arianisme dilarang dan pengakuan iman Nicea disetujui.

Meskipun hal tersebut mengakhiri bidah dalam kekaisaran, paham Arianisme terus ada di antara beberapa suku bangsa Jerman sampai akhir abad ke-7. Pada zaman modern, beberapa penganut Unitarian (paham yang mengakui bahwa Tuhan adalah satu dan menolak doktrin Trinitas -- Red.) pada hakikatnya adalah penganut Arianisme dalam hal ketidakmauan mereka, baik untuk menjadikan Kristus sebagai manusia biasa atau untuk memberikan atribut sifat ilahi yang identik dengan Bapa kepada-Nya. Kristologi dari saksi-saksi Yehovah pun merupakan bentuk Arianisme; mereka menganggap Arius sebagai pelopor Charles Taze Russell, pendiri gerakan mereka. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : NT Canon
Alamat URL : http://www.ntcanon.org/Arianism.shtml
Judul asli artikel : Arianism, and Arius (4th century CE)
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 8 Mei 2014

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru