Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereBio-Kristi No.106 Januari 2013 / Bio-Kristi No.106 Januari 2013

Bio-Kristi No.106 Januari 2013


Pengantar Bio 106 Januari 2013

Salam sejahtera,

Selamat Tahun Baru 2013! Senang sekali kita bisa bertemu lagi pada tahun baru 2013 ini. Mari kita awali pertemuan kita dengan membaca renungan "Tahun Baru", untuk menguatkan kita dalam menapaki hari-hari ke depan. Setelah itu, Anda dapat menyimak kolom Riwayat yang membahas tentang seorang olahragawan Indonesia.

Ronny Melahirkan Pesepak Bola Cilik

Ronny Pattinasarany memiliki cita-cita yang mulia. Ia ingin sepak bola di Indonesia maju dan berkembang, serta diakui di Asia dan dunia. Untuk meraih cita-citanya ini, ia membina para pemain sepak bola sejak usia dini. Ia merintis pembangunan Sekolah Sepak Bola (SSB) untuk anak-anak. Hingga saat ini, sudah banyak SSB lain yang tumbuh subur dan menyebar ke seluruh penjuru tanah air, dan menampung bakat-bakat pesepak bola cilik.

Ronny Pattinasarany

Ronald Hermanus Pattinasarany yang lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 9 Februari 1949. Ronny adalah salah satu pemain sepak bola legendaris, sekaligus pelatih sepak bola yang memiliki jam terbang tinggi di Indonesia. Dia juga mendapat sebutan "Sang Macan Lapangan" karena selalu siap menjemput bola di mana pun berada. Pada masa-masa jayanya, ia mendapatkan banyak permintaan untuk bergabung dengan klub-klub sepak bola papan atas.

Tahun Baru

Bacaan: Lukas 4:16-21

Prioritas Utama

Ada kecenderungan di kalangan umat Kristen untuk menganggap bahwa ibadah hari Minggu hanyalah sekadar formalitas. Artinya, beribadah pada hari Minggu di gereja akan dilakukan bila tidak ada "acara" atau "kesibukan lain". Ibadah bersama jemaat di gereja menjadi prioritas kedua (second priority). Kecenderungan ini tidak hanya akan mengakibatkan hadirnya Kristen-Kristen yang tidak tahu mensyukuri kasih dan penyertaan Allah, tetapi juga akan menciptakan Kristen- Kristen yang tidak tahu menghormati karya dan kebesaran Allah dalam hidupnya. Sikap ini sungguh bertentangan dengan pengajaran dan sikap yang diperhatikan langsung oleh Tuhan Yesus. Mari kita lihat bagaimana Tuhan Yesus memprioritaskan ibadah kepada Allah Bapa-Nya dalam hidup- Nya. Sikap ini menunjukkan bahwa selain Dia sangat menghormati Bapa, Dia juga menghormati ibadah persekutuan umat di rumah Tuhan, dan menjadikan ibadah itu sebagai bagian dari hidup-Nya.

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru