Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePenulis Himne / Frances R. Havergal

Frances R. Havergal


Frances R. Havergal adalah putri bungsu William H. Havergal (penulis himne) dengan istri pertamanya, Jane. Ia lahir pada 14 Desember 1836 di Astley, Inggris, dan meninggal pada 3 Juni 1879 di Caswall Bay, Wales. Dia sudah bisa membaca sejak berusia 4 tahun dan sudah bisa menulis puisi sejak berusia 7 tahun. Dia belajar bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani, serta menghafal Kitab Mazmur, Yesaya, dan sebagian besar Perjanjian Baru. Prestasinya di sekolah pun sangat cemerlang.

Havergal menulis banyak sekali puisi. Bahkan dia menerbitkan koleksi puisi dan himne yang ditulisnya dalam beberapa jilid, yang paling awal adalah tahun 1870. Beberapa di antaranya adalah "The Ministry of Song" (terbit sekitar tahun 1870, edisi ke-5, 1874), "Under the Surface" (1874), "Loyal Responses" (1878), "Life Chords" (1880), "Life Echoes" (1883), "Coming to the King" (1886). Pada tahun 1884, himne-himne tersebut dirilis kembali oleh saudarinya, M.V.G. Havergal, dalam dua volume "Poetical Works". Selain itu, Havergal juga menulis beberapa traktat dan naratif dalam bentuk prosa. Pandangan keyakinan dan kecondongan teologinya diungkapkan dengan jelas dalam puisi-puisinya. Pesan moral perihal pengorbanan yang diberikan secara cuma-cuma dan utuh oleh Sang Juru Selamat bagi semua orang yang berdosa dituangkan dengan apik dalam baris-baris puisinya. Havergal mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyatakan kebenaran ilahi melalui pekerjaannya, karya sastranya, dan kerinduannya terlibat dalam dunia misi. Beberapa himne karyanya telah dicetak oleh J.& R. Parlane dalam bentuk selebaran dan Caswell & Co dalam bentuk kartu hiasan.

Masing-masing himne yang ditulisnya memiliki latar belakang kisah yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah:

"I am trusting Thee, Lord Jesus"

Mengisahkan tentang imannya kepada Tuhan, ditulis September 1874 di Ormont Dessons. Melalui himne ini, Havergal mengungkapkan perlunya keteguhan iman dalam mengarungi hidup yang tidak selalu menyenangkan. Himne ini adalah himne favorit Havergal dan naskah aslinya masih disimpan di dalam Alkitab sakunya setelah dia meninggal.

"Take My Life, and Let It Be"

Himne ini ditulis di Areley House tanggal 4 Februari 1874. Terdiri dari 11 bait yang masing-masing disusun oleh 2 baris. Himne ini diterbitkan dalam "Loyal Responses" pada tahun 1878 dan "Life Chords" tahun 1880. Himne ini diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jerman, Swedia, Rusia, beberapa bahasa Eropa serta beberapa bahasa Afrika dan Asia.

Selain himne di atas, ada banyak sekali himne yang sudah digubah oleh Havergal. Bahkan jumlahnya mencapai kurang lebih 78 himne. Bisa dikatakan bahwa karya Havergal bukanlah karya biasa karena karyanya memiliki sentuhan istimewa yang tidak dimiliki oleh pujangga maupun penulis himne lainnya. Saat kita membaca karya-karya Havergal secara keseluruhan, ada empat hal utama yang bisa kita teladani, yaitu pengabdian dirinya kepada Kristus, ketaatannya kepada Sang Juru Selamat, rasa cintanya terhadap Alkitab, dan ketekunannya dalam berdoa. Berikut beberapa penjelasan dari hal utama tersebut.

1. Penyerahan Diri kepada Kristus

Berikut penggalan himne karya Havergal, "Take My Life, And Let It Be", yang cukup terkenal dan menggambarkan dirinya apa adanya.

"Take my life, and let it be Consecrated, Lord, to Thee,"

Pikiran, tangan, kaki, uang, pengaruh, cinta, dirinya sendiri, semuanya diserahkan untuk melayani Tuan dan Rajanya. Kisah penulisan himne ini tersiratkan melalui kata-kata Havergal. Himne ini menceritakan kisah saat Havergal berkunjung ke suatu keluarga dan memenangkannya. Bahkan sebelum dia meninggalkan keluarga itu, dia memberkati mereka satu per satu.

Pada malam terakhir Havergal berada di rumah keluarga tersebut, ada pegawai pemerintah yang hidup di sekitar tempat itu memintanya untuk menemui dua anak perempuan. Mereka berdua menangis dan kemudian mengaku percaya kepada Yesus dan bersukacita. Kejadian ini terjadi pada hampir tengah malam. Havergal sangat bahagia, dan saat ia hendak tidur, dia memuji-muji Tuhan dan semakin berserah penuh kepada-Nya. Hingga akhirnya dia berseru dalam hati, "Segalanya, semuanya, hanya bagi Engkau!"

2. Pengabdian Diri kepada Sang Penebus

Kasihnya kepada Tuhan Yesus sangat besar, begitu kuat, dan hebat. Di balik kasihnya, ada kekaguman yang tulus dan penyembahan yang sungguh. "Ada waktu ketika aku merasakan kasih Yesus yang luar biasa sampai-sampai aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata. Aku sangat bahagia karena Dia adalah Tuan dan Rajaku, namun aku ingin tetap mendekat kepada-Nya dan janji-Nya dalam Yohanes 14:21 digenapi bagiku. Aku ingin mengasihi-Nya dan aku sangat berharap menyerahkan diriku untuk Dia," kata Havergal. Bahkan dia menyebut Tuhan dengan banyak sebutan dalam himnenya, seperti Juru Selamatku, Gembalaku yang Agung, Tuanku yang Mahakasih, Tuan dan Sahabatku.

3. Kesukaannya terhadap Alkitab

Firman Tuhan merupakan teman setia Havergal. Dia "membacanya". Saudaranya sendiri mendapati Havergal selalu membaca Alkitab 7 jam selama musim panas dan 8 jam selama musim dingin. Havergal membaca kitab Ibrani, Alkitab Romawi, dan leksikon. Dia "menandainya". Dengan rapi, dia menggarisbawahi ayat Alkitab agar dia bisa mencari ayat istimewa dengan mudah. Dia juga sering meninggalkan catatan kaki di bawah ayat yang ditandainya. Selain itu, Havergal "mempelajarinya". Dia hafal 4 Injil, Kisah Para Rasul, Wahyu, dan semua kitab Mazmur di luar kepala. Beberapa tahun selanjutnya dia mempelajari kitab Yesaya dan para nabi.

Tak berhenti di situ. Dia sangat suka mengajak anak-anak untuk menghafal ayat Alkitab. Dulu dia mendorong beberapa anak di desa untuk mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Dia memberikan sebuah Alkitab baru kepada setiap anak yang bisa menirukannya membaca kitab Yesaya pasal 53.

Hari Jumat merupakan hari yang ditetapkannya untuk mereka berkumpul. Pernah saat ia sakit, banyak anak memintanya untuk tetap mengajar. Dia sangat bahagia karena itu. Dia pun memberikan latihan yang lain. Pernah dia berkata kepada saudarinya, "Marie, ini benar-benar tak bisa kuucapkan, apa yang aku lakukan sepertinya tidak sia-sia. Aku menyadarinya pagi ini. Sepertinya aku mendapatkan penggenapan janji dalam Mazmur 1. Firman Tuhan berkata, "... tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam ... dan apa saja yang diperbuatnya berhasil." Aku sangat menyukai Firman Tuhan oleh karena itu semua janji yang ada di dalamnya pasti akan terjadi dalam hidupku."

4. Kebiasaannya Berdoa

Sepertinya tidak ada seorang pun yang berdoa begitu sungguh-sungguh dan tekun serta teratur seperti Havergal. Berdoa merupakan satu aktivitas yang sangat disukainya. Dia berdoa 3 kali sehari. Dia menyimpan selembar kertas di dalam Alkitabnya yang berisi pokok-pokok doa yang dinaikkan pada waktu pagi, siang, dan malam. Selain itu, dia juga membawa nama-nama kerabat dan sahabatnya dalam doa syafaatnya. Tidakkah kita tersentuh untuk berdoa lebih dari yang sering kita lakukan? (t/Setya)

Dirangkum dari:

Frances R. Havergal: English Poet and Hymn Writer. Dalam http://www.wholesomewords.org/

J.M.K. Frances Ridley Havergal: Poet and Hymn Writer. Dalam http://www.wholesomewords.org/

Frances Ridley Havergal. Dalam http://www.cyberhymnal.org/

 

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Sumber: Bio-Kristi 42

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru