Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereMisionaris / George Muller (II)

George Muller (II)


George tidak bisa masuk ke lembaga pelatihan penginjilan tanpa persetujuan ayahnya dan izin itu tak dia dapatkan. Ayahnya sangat bersedih karena setelah menyekolahkannya supaya dia memiliki hidup yang lebih mapan sebagai pegawai gereja, dia justru memilih pelayanan penginjilan. George merasa bahwa dia tidak bisa lagi menerima uang dari ayahnya. Namun Tuhan memberikan kasih-Nya sehingga George pun bisa menyelesaikan pendidikannya. Dia mengajar bahasa Jerman kepada beberapa profesor di universitas dan mereka menggajinya dengan nilai tinggi atas pelayanannya. Kini dia menjadi alat Tuhan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Dia menyebarkan ribuan traktat dan selebaran dan menceritakan tentang penyelamatan jiwa kepada banyak orang.

Meskipun sebelum pertobatannya George Muller menyurati ayahnya dan memberitahukan tentang khotbah yang dia sampaikan, dia tidak pernah memberikan khotbah hingga beberapa waktu setelah percakapan mereka. Khotbah tercetak pertamanya yang diingatnya saat ini. Dia hanya memiliki sedikit kebebasan dalam mengkhotbahkannya. Kali kedua dia berkhotbah tanpa persiapan dan mendapat kebebasan yang lebih banyak. "Sekarang saya lebih sering berkhotbah," katanya, "baik di gereja- gereja di kota namun saya tidak dengan senang hati melakukannya kecuali saat saya bisa berbicara dengan cara yang sederhana meskipun khotbah yang diulang-ulang yang telah terpatri di benak mendatangkan pujian dari orang-orang terdekat.

Sebenarnya dengan cara khotbah yang berbeda pun saya tidak melihat hasilnya. Mungkin suatu hari nanti akan terlihat keuntungan atas usaha-usaha yang kurang sungguh. Salah satu alasan mengapa Tuhan tidak mengizinkanku melihat buah pelayananku sepertinya, aku akan diangkat lebih tinggi oleh keberhasilanku. Mungkin juga karena aku jarang berdoa untuk pelayanan Firman, dan karena aku berjalan setengah hati dengan Tuhan dan tidak layak menjadi bejana yang disucikan dan dimuliakan yang berkenan bagi pekerjaan Tuhan.

Tahun 1827 George Muller pergi kepada orang-orang Jerman di Bucharest sebagai penginjil sukarelawan namun perang antara bangsa Turki dan Rusia menghalanginya. Tahun 1828 dia menawarkan diri kepada London Missionary Society sebagai penginjil kepada bangsa Yahudi. Dia begitu lancar membacakan ayat Alkitab dalam bahasa Ibrani dan sangat menyukainya. Oleh karenanya persekutuan tersebut menghendaki agar George Muller berkunjung ke London agar mereka bisa melihatnya secara langsung. Oleh karena pemeliharaan Allah, dia selamat dalam melakukan pelayanan di antara tentara Rusia dan bisa pergi ke Inggris tahun 1829 saat berusia 24 tahun.

Waktu George Muller tiba di Inggris, dia tidak bisa menggunakan bahasa Inggris untuk itu dia harus belajar giat agar dia bisa berkomunikasi dengan baik. Begitu semangatnya dia belajar sampai- sampai dia sakit. Saat itulah dia merasa lemah. Namun hatinya merasakan sukacita yang luar biasa. Dia pikir dia akan sulit sembuh. "Selama hidupku aku tak pernah merasa diriku bersalah, namun kini aku bisa menyadari bahwa aku sangat berdosa, seolah semua dosa-dosa yang telah kuperbuat kembali teringat di benakku namun pada saat yang sama aku yakin bahwa seluruh dosaku telah diampuni. Aku telah dibasuh dan disucikan, aku benar-benar kudus oleh darah Yesus. Aku rindu untuk selalu berada bersama dengan Yesus," kata Muller.

Peristiwa-peristiwa rohani yang dialami Muller dituliskannya dalam sebuah surat yang muncul dalam British Christian, tanggal 14 Agustus 1902. Dalam surat tersebut Muller menceritakan saat dia mengalami pertobatan dan lahir baru dalam Tuhan Yesus. Dia menjadi orang percaya pada bulan November 1825. Saat dia berada di Devonshire dia mendapatkan berkat dari khotbah yang disampaikan.

Kesehatan Muller semakin menurun saat dia tinggal di London namun rohnya tetap berapi-api untuk melayani Tuhan. Sekalipun London Missionary Society tidak mengutusnya tanpa ada pelatihan apapun dia tetap maju dan mengandalkan pertolongan Tuhan semata. Tak lama kemudian dia menjadi pendeta di Kapel Ebenezer, Teignmouth, Devonshire. Pernikahannya dengan seorang wanita Devonshire, Mary Groves, berjalan mulus. Istrinya itu memiliki pandangan yang sama dengannya dan kehidupan keluarga mereka begitu bahagia. Pendapatan mereka pun kian hari kian bertambah namun mereka tidak menggunakannya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Mereka begitu murah hatinya membantu orang-orang yang membutuhkan dan bahkan mereka memberikan semua yang mereka miliki dan mempercayakan diri kepada Tuhan "Sang Roti Hidup" mereka.

Tahun 1832 masa kerjanya di Teignmouth telah berakhir dan pada waktu dia pergi ke Bristol pada tahun yang sama dia heran mengetahui bahwa Tuhan telah menyediakan pekerjaan di sana. Setelah menggumulkan masalah ini dan ternyata ini seturut dengan Firman Allah dan pimpinan-Nya dia pun mulai bekerja di Bristol. Muller memulai pelayanannya di Bristol sebagai pendeta muda bersama temannya Bapak Craik yang lebih dulu dipanggil untuk melayani di kota itu. Tanpa gaji sepeserpun atau meja sewaan pelayanan mereka begitu luar biasa memberkati jemaat Kapel Gideon dan Bethesda. Gereja-gerja ini sekalipun menyebut dirinya tak beraliran namun mereka biasanya berkumpul dengan kelompok orang yang dikenal dengan sebutan "Plymouth Brethren."

Tahun 1834, Muller mendirikan Lembaga Pemahaman Alkitab (Scripture Knowledge Institution) di dalam dan luar negeri. Sasarannya adalah untuk membantu sekolah-sekolah Kristen, membantu para penginjil dan menyebarkan Firman Tuhan. Lembaga ini tanpa perlindungan dari pemerintah, tanpa bantuan siapapun, tanpa kontrak hutang, tanpa pengurus, pelanggan ataupun anggota namun hanya benar-benar hanya mengandalkan iman percaya pada Tuhan saja mampu mendapatkan dan mengeluarkan uang lebih dari £1,500,000 ($7,500,000) saat Muller meninggal. Sebagian besar dari dana tersebut dimanfaatkan untuk panti asuhan.

Ketika Muller meninggal ada 122.000 orang yang belajar di sekolah yang didanai oleh keuangan lembaga dan kira-kira ada 282.000 Alkitab dan 1.500.000 Testamen telah disebarkan dengan menggunakan dana tersebut. Selain itu juga ada 112.000 buku-buku rohani, pamflet, dan traktat yang sudah diedarkan, pelayanan penginjilan di seluruh dunia pun telah dibantu, dan lebih dari puluhan ribu anak yatim piatu yang bisa dipelihara dengan dana yang sama.

Pada usia 70-an. Muller mulai mengadakan perjalanan penginjilan besar-besaran. Dia berkeliling ke seluruh dunia dan mengajar banyak orang dari berbagai bahasa. Dia sering sekali berkhotbah di depan 4.500 atau 5.000 orang. Dia melakukan penginjilan hingga ia mencapai umur 90-an tahun. Selama 17 tahun menginjil kira-kira dia telah memberitakan Injil kepada 3 juta jiwa. Semua kebutuhan yang dimilikinya telah dipenuhi sebagai jawaban doanya.

Pelayanan terbesar di antara pelayanan-pelayanan yang dilakukan Muller adalah pembangunan dan pemeliharaan beberapa panti asuhan besar di Bristol. Dengan modal 2 shiling (50 sen) namun karena jawaban doa dan tanpa memberitahu siapapun dia mampu membangun gedung tersebut dan membiayai anak-anak yatim piatu tersebut selama 60 tahun. Selama Muller mengelola panti itu selalu saja ada orang yang mengirim makanan pada waktunya sehingga anak-anak tak pernah berkekurangan soal makanan. (t/Setya)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul artikel : George Muller
Penulis : J. Gilchrist Lawson
Alamat URL : www.wholesomewords.org

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru