Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereBio-Kristi No.109 Februari 2013 / Henry Clay Morrison -- Sang Orator yang Hebat

Henry Clay Morrison -- Sang Orator yang Hebat


"Suara trompet,
berseru ke seluruh dunia,
meminta hati manusia bersukacita,
di dalam Dia yang mati untuk semua!
Bagi semua Tuhanku disalibkan;
bagi semua, bagi semua, Juru Selamatku telah mati."

Dr. Morrison adalah seseorang yang memiliki bakat alami. Ia dilahirkan sebagai seorang orator alami, sama seperti Spurgeon, Parker, Bascom, dan para pengkhotbah besar lainnya. Perawakannya gagah, kepalanya dimahkotai dengan rambut seputih salju dalam usia senjanya. Wajah dan air mukanya seperti yang digambarkan oleh George Whitefield dalam karyanya yang berjudul "A Magazine of Eloquence". Suaranya bersemangat, nadanya lembut seperti suara seorang anak, tetapi nyaring bagai trompet. Whitefield berkata, "Aku menyukai orang-orang yang menggunturkan firman Allah karena saat ini dunia Kristen sedang tertidur lelap, dan tidak ada yang dapat membangunkan mereka dari tidur itu kecuali seruan yang nyaring."

Hanya ada sedikit orang yang bisa mengungguli Morisson dalam hal ini. Baginya, kefasihan berpidato bukanlah sesuatu yang dipelajari, melainkan sudah ada di dalam dirinya secara alamiah; sama seperti musik bagi seorang musisi, atau puisi bagi seorang penyair. Namun, sama seperti para ahli dalam bidang yang lain, kemampuan seorang orator juga akan diuji, dan ujian terberatnya adalah apakah ia memiliki kekuatan untuk menyentuh dan menghidupkan kembali gairah yang lesu pada orang lain.

Kefasihan berpidato dibawanya sejak lahir dan berdiam di dalam dirinya, seperti yang diteriakkan Richard Brinsley Sheridan (pujangga Inggris, pemilik London Theatre Royal -- Red.) ketika ia gagal berbicara di hadapan penonton yang mengejeknya, "Itu ada di dalam diriku -- itu ada di dalam diriku, dan itu akan muncul."

Benjamin Disraeli, Perdana Menteri Inggris keturunan Yahudi, yang gagal dalam pidato pertamanya di hadapan parlemen juga berseru, "Akan tiba saatnya, Anda akan mendengarkan saya." Hal yang sama juga terjadi pada Morrison muda, saat ia lupa tentang apa yang akan dikhotbahkannya, ia hanya bisa berseru, "Allah telah memanggil saya untuk berkhotbah." Keyakinannya terhadap panggilan itulah yang membuatnya menjadi sang Orator.

Injil memiliki segala sesuatu yang dapat menginspirasi dan menghasilkan seorang orator jika semua hal itu lahir dalam dirinya. Ada keagungan dan kemegahan tentang pesan Injil yang mengobarkan jiwa pengkhotbah, sebagaimana yang dikatakan seseorang, "Para pekabar Injil memiliki lahan terbaik untuk kefasihan yang lembut, khusyuk dan luhur, hal yang paling agung disajikan, kepentingan yang paling penting dibahas, dan motif yang paling lembut didorong. Allah dan para malaikat, pengkhianatan Setan, penciptaan, kehancuran dan pemulihan dunia, inkarnasi, kematian dan kebangkitan serta pemerintahan Anak Allah; hari penghakiman, alam semesta yang terbakar, keabadian, surga dan neraka, semua berlalu di depan mata. Apa pentingnya perselisihan kecil di Yunani atau ambisi Filipus? Apa pentingnya plot dan kemenangan Roma, atau pengkhianatan Cataline dibandingkan dengan ini? Jika secara pendidikan, penelitian, dan (penyertaan) Roh Kudus para pelayan Tuhan cukup memenuhi syarat; jika mereka merasa bahwa topik yang mereka sampaikan sama banyaknya dengan Demosthenes dan Cicero, apakah mereka akan menjadi orang yang paling fasih berbicara di bumi? Dan, apakah mereka akan dihormati di semua tempat yang memiliki pemikiran sepaham? "Pidato tentang Injil benar-benar merupakan khotbah yang disemangati oleh kekuatan keyakinan adikodrati dan persuasi." Cowper, seorang penyair, menggambarkan dengan baik para orator Injil dalam puisinya:

Tema yang diangkatnya bersifat ilahi, jabatannya suci, Ia sangat dapat dipercaya; oleh-Nya hukum yang dilanggar mengguntur. Dan, oleh-Nya dalam alunan semanis yang dilantunkan malaikat, Injil membisikkan perdamaian; Ia menegakkan yang kuat, memulihkan yang lemah, mendapatkan kembali yang tersesat, membalut yang patah hati. Dan, mengelilingi diri-Nya dalam persenjataan sifat surgawi yang lengkap, berhiaskan kekuasaan yang terang seperti milik-Nya dan mengarahkan semua aturan disiplin suci, untuk perang yang mulia, sekumpulan umat pilihan Allah menurut sakramen.

Dalam pelayanan Dr. Morrison, kita melihat ilustrasi dari semua hal ini. Karunianya sebagai orator Injil tidak dibingungkan oleh hal-hal di bumi. Ia bisa mendapat keberuntungan jika ia kuliah, tetapi semuanya itu ditanggapi dengan penolakan yang positif. Pengkhotbah Injil sering kali dimanjakan dengan orator brilian seperti itu. Namun, Dr. Morrison tidak dijual, demikian pula karunianya atau keyakinannya karena karunianya yang besar bukanlah berasal dari bumi, dan ia tidak akan memakai mereka untuk urusan duniawi. Karunia Allah yang besar kepadanya itu harus ditujukan untuk tujuan yang suci. Ia datang seperti seseorang dari zaman dahulu "untuk mengganggu kedamaian mimbar, dan mengguncangkan satu dunia dengan guruh yang lain". Ia memiliki semangat yang besar serta kekuatan yang dramatis.

Ada sebuah cerita tentang seorang profesor yang pergi dengan salah seorang siswa untuk mendengar uskup Simpson menyampaikan salah satu khotbah yang terbesar. Ketika mereka keluar, siswa itu mulai membicarakan tentang seni berdeklamasinya. Profesor itu menjawab, "Seni berdeklamasi! Itu bukan seni berdeklamasi. Itu adalah Roh Kudus." Jadi, pada kesempatan besar ketika Dr. Morrison membumbungkan sayap pemikiran dan emosi suci dari orang-orang yang duduk di bawah, ia merasakan ada sesuatu yang lebih daripada kekuatan manusia dalam khotbah. Itu adalah Roh Kudus.

Hugh Price Hughes, penyulut semangat mimbar dari Inggris, pernah berkata kepada Dr. Jowett, "Pendeta penginjilan selalu di ambang jurang. Benar, selalu ada sesuatu yang bergerak dalam jiwanya." Sebelum pikiran menjadi sebuah gairah, maka pikiran tidak akan menjadi kekuatan. Bagi Dr. Morrison, berkhotbah merupakan gairah sehingga ia selalu menjadi model dan contoh yang bagus. Tidak hanya untuk orang- orang yang ia layani, tetapi juga untuk mereka yang ia ajar. Para siswa di Asbury College merupakan contoh perhimpunan yang istimewa. Ketika Dr. Morrison akan datang dari beberapa kampanye dan akan berkhotbah di kapel, serta berbicara di pertemuan khusus mahasiswa, mereka duduk di kaki salah satu pengkhotbah besar Amerika. Tidak terlalu mengherankan jika di Asbury ternyata banyak sekali pendeta dan penginjil. Banyak khotbah paginya yang menyala dengan pikiran luhur, berkilau dengan humor, mengguntur dengan kebenaran, kefasihan yang sensasional, dan pesona seperti puisi untuk musik. Kefasihan, gairah, dan pidatonya, merupakan teguran untuk ketenangan mimbar, keduniawian gereja, dan tidak melakukan apa pun dari banyak orang yang mengaku Kristen. Tampaknya, ia sedang berkata seperti salah satu orator zaman dahulu, "Saudara-saudara, untuk tidak berkobar-kobar adalah kegilaan, jika kita memercayai keyakinan kita." Ia menentang jenis agama yang dingin, formal, suam-suam kuku, dan tidak murni. Keyakinannya adalah, jika gereja ingin menjadi murni, gereja harus bergairah. Dia mengecam kecenderungan modern yang menekan emosi dalam agama dan gereja. Ia percaya bahwa api pengabdian dan kesucian harus terus menyala di atas altar gereja.

Tugas kita usai. Penghargaan kita diberikan kepada orang besar -- mungkin juga orang baik -- salah seorang dari orang-orang besar Allah. Kapan kita melihat orang yang seperti dia lagi? Kita akan merindukannya. Suatu kali di Westminster Abbey, London, kami berdiri di depan batu nisan John dan Charles Wesley; di atasnya tertera kata- kata: "Allah mengubur pekerja-pekerja-Nya, tetapi Allah melanjutkan pekerjaan-Nya." Para pengkhotbah, penginjil, misionaris, orang percaya yang besar telah mati, tetapi Allah melanjutkan pekerjaan mereka. "Berbahagialah orang mati, yang mati dalam Tuhan dari sekarang: Ya firman Roh, supaya mereka beristirahat dari jerih lelah mereka; dan karya-karya mereka berlanjut."

Dalam arti sebenarnya, karya Dr. Morrison akan berlanjut. Meskipun ia telah pergi ke rumah kekalnya untuk peristirahatan abadi, namun karyanya berlanjut. Melalui khotbah-khotbah yang telah diberitakan dan dipublikasikan, dan buku-buku yang telah ia tulis, ia masih melanjutkan karyanya. Melalui para pengkhotbah, penginjil, dan misionaris yang terinspirasi dan diajar olehnya, karyanya akan terus berlanjut. Melalui perguruan tinggi dan seminari di mana ia mencurahkan waktu, dana, perhatian, dan pengabdian yang tak kenal lelah, ia masih melanjutkan. Melalui pers yang didirikan dan diurusnya, pesan-pesan disiarkan ke negara dan sampai ke ujung bumi melalui majalah dan buku dalam volume yang tidak berkurang, ia masih melanjutkan karyanya.

"Mereka yang mempertobatkan banyak orang kepada kebenaran, akan bersinar seperti bintang selama-lamanya." (t/Jing Jing)

Diambil dan diterjemahkan dari:

Nama situs : O Christian.com
Alamat URL : http://articles.ochristian.com
Judul artikel : HENRY CLAY MORRISON -- PROPHET, WARRIOR, ORATOR
Penulis : George Whitefield Ridout
Tanggal akses : 18 Januari 2013

Komentar


Cari semua situs SABDA

Loading
Cari misalnya: 'alkitab'
Akan membuka halaman baru

Join Us

Selamat Merayakan Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta 2017

'Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus' Matius 28:19

Kunjungi situs Doa SABDA
Kunjungi situs TOP Berdoa


Aplikasi Android Kristen


android.sabda.org

Navigation

Follow Us

 

Member login

Permohonan kata sandi baru