Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePahlawan / Pahlawan

Pahlawan


Yohanes Amos Comenius

Dirangkum oleh: Doni K.

Hingga saat ini, Yohanes Amos Comenius dikenal sebagai Bapak Pendidikan Modern. Ia lahir pada tanggal 28 Maret 1592 di sebuah desa bernama Nivnice, di Morawi Tanggara, dekat tapal batas Hongaria. Keluarga Comenius berasal dari Desa Komna. Itulah sebabnya, Comenius memiliki nama fam "Komensky", yang diambil dari nama Komna, desa asal keluarganya. Nama ayah Comenius adalah Martinus Komensky, ia memiliki usaha penggilingan gandum. Selain itu, ayahnya juga seorang yang taat beribadah dan aktif dalam komunitas masyarakat Morawi Tenggara. Orang tua Comenius menjadi anggota Persekutuan Bruder (belakangan dikenal sebagai Bruder Bohemia atau Gereja Moravia), yaitu sebuah kelompok agama yang muncul sejak pertengahan abad ke-15. Kelompok itu berada di bawah pengaruh Kaum Wandens dan tokoh reformis lain, seperti Peter Chelchicky.

Penggerak Gereja Kebangsaan

Sam Ratulangi adalah orang Kristen yang memiliki rasa kebangsaan yang cukup tinggi. Bahkan, rasa nasionalismenya tersebut dibawanya ke lingkup gereja. Sam Ratulangi menjadi salah satu motor penggerak terbentuknya gereja baru, yang disebut Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, yang disingkat menjadi KGPM. Sam memberi sumbangsih pada tercetusnya semboyan gereja ini yang berbunyi, "Yesus Kristus dalam kebangsaan, kebangsaan dalam Yesus Kristus."

Sam Ratulangi

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949) adalah salah seorang politikus dan pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Filsafatnya yang berbunyi, "Si tou timou tumou tou" -- manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia -- sangat terkenal hingga sekarang.

Ampunilah Musuhmu, Berdoalah Baginya

Beberapa menit sebelum dieksekusi, Robert Wolter Monginsidi -- pemimpin gerilya yang ditakuti tentara Belanda -- menjabat tangan dan mengampuni regu serdadu yang bertugas menghabisi

Mike Murdock -- Penginjil, Pengkhotbah

"Barangsiapa menguasai waktunya, menguasai hidupnya."

Robert Wolter Monginsidi

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Robert Wolter Monginsidi adalah salah satu pahlawan nasional yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam usia yang relatif muda, dia telah mengurbankan banyak waktu dan tenaga serta hidupnya untuk bangsa yang dicintainya. Inilah salah satu sikap yang harus diteladani seluruh bangsa Indonesia, yang akhir-akhir ini sudah mulai langka. Rasa cinta tanah air yang melekat dalam dirinya benar-benar mendasari kesetiaannya kepada negara.

Ignatius Slamet Riyadi

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Slamet Riyadi, seorang Pahlawan Nasional Indonesia, pada awalnya bernama Sukamto. Slamet Riyadi lahir di Donokusuman, Solo, pada tanggal 28 Mei 1926. Slamet Riyadi adalah putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta. Karakter yang sangat menonjol dari sosok Slamet Riyadi adalah kecakapan dan keberaniannya, terutama setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Ia merupakan pencetus pasukan khusus TNI yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kopassus.

Laksamana Muda TNI Yosaphat Sudarso

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Yosaphat Sudarso, yang dikenal dengan sebutan Yos Sudarso, lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925. Yos Sudarso lahir dari pasangan Sukarno Darmoprawiro (polisi) dan Mariyam. Yos berperawakan kecil, cerdas, pembawaannya tenang, dan santun. Saat anak-anak, Yos bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School), setingkat SD, di Salatiga. Setelah tamat dari HIS pada tahun 1940, orang tuanya menginginkan Yos menjadi guru, tapi ia malah masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Semarang. Baru 5 bulan di situ, Jepang datang. Yos pun kembali ke Salatiga, kemudian masuk SMP Negeri di sana. Dia berhasil menamatkan pendidikan SMP pada tahun 1943. Setelah lulus SMP, Yos masuk ke Sekolah Guru di Muntilan, namun sekolah ini tidak dapat ditamatkannya karena pada masa itu terjadi peralihan pendudukan dari Belanda ke Jepang. Pada zaman pendudukan Jepang, Yos melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang selama setahun dan mengikuti pendidikan opsir di Goo Osamu Butai. Di sana, Yos termasuk salah satu lulusan terbaik. Oleh karena itu, pada tahun 1944, ia dipekerjakan sebagai mualim di Kapal Goo Osamu Butai.

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru