Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePolitisi / Lebih Jauh tentang Gubernur William Penn (1644 -- 1718)

Lebih Jauh tentang Gubernur William Penn (1644 -- 1718)


images-54.jpg
William Penn lahir di London pada tahun 1644. Dia tumbuh di kota itu dan di Irlandia. Hidupnya dipenuhi kemudahan karena dia adalah putra sulung Laksamana Sir William Penn, yang berhasil merebut Jamaika dari pihak Belanda pada tahun 1655. Walaupun dia adalah seorang yang sangat sekuler pada masa mudanya, dia berubah menjadi seorang Quaker pada tahun 1666, saat kuliah di Oxford -- keputusan ini ditentang oleh ayahnya. Pada tahun 1668, Penn ditangkap karena menulis sebuah traktat yang menyerang doktrin Gereja Inggris. Saat berada di dalam penjara pada tahun 1669, dia menulis sebuah buku kebaktian klasik berjudul No Cross, No Crown (Tidak Ada Salib, Tidak Ada Mahkota). Walaupun Sir William Penn merasa kecewa terhadap anaknya, sang laksamana akhirnya dapat mengatur pembebasan William dari penjara.

Setelah kematian ayahnya, pada tabun 1670, William mulai merasa bahwa kaum Quaker tidak mempunyai masa depan di Inggris. Dia melakukan perjalanan ke Amerika pada tahun 1677 dan 1678 untuk mencari sorga yang aman. Kemudian pada tahun 1681, William menerima "Pennsylvania" dari Raja Charles II sebagai pembayar utang besar terhadap ayahnya. Dengan menggunakan uang sendiri, dia membiayai pembentukan sebuah koloni baru sebagai sebuah rumah bagi kaum Quaker dan orang-orang terhukum lainnya. Di koloni ini, Penn memulai "Eksperimen Kudus"-nya tentang persamaan kesempatan (dia bahkan mengatur agar orang-orang miskin dapat memperoleh rumah baru), toleransi beragama, dan perlakuan wajar serta adil terhadap suku Indian. Sementara pembunuhan besar-besaran merupakan hal biasa yang terjadi di koloni-koloni Amerika lainnya, pembunuhan terhadap orang kulit putih oleh seorang Indian justru tidak pernah terjadi selama pemerintahan Penn. Perjanjiannya dengan suku Indian merupakan satu-satunya perjanjian yang tidak pernah dilanggar. Walaupun sang raja telah memberikan Pennsylvania kepadanya, Penn mengakui bahwa suku Indianlah "pemilik Pennsylvania yang sesungguhnya dan orang-orang kulit putih dapat bermukim di daerah itu utas izin suku Indian serta telah membeli tanah dari mereka. Akibatnya, suku Indian sangat mengasihi dan menghormati Penn.

Tetapi Penn sendiri mengalami masalah pribadi serius sepanjang hidupnya. Dia hanya dapat menetap di koloninya selama dua periode singkat (1682 -- 1684, 1699 -- 1701). Dia dituduh melakukan pengkhianatan sebanyak dua kali dan kehilangan kendali atas Pennsylvania pada tahun 1692 -- 1694 akibat persahabatannya dengan raja Inggris yang turun takhta secara paksa, James II. Istrinya, Gulielma, meninggal pada tahun 1694, dan putra sulungnya menjadi seorang perusuh yang mengecewakan akibat dimanja serta kurangnya disiplin dari sang ayah. Kesulitan keuangan yang dialami Penn membuat dirinya dipehjara dalam waktu singkat. Pada tahun 1699, akhirnya dia kembali ke Pennsylvania bersama putrinya yang berusia 21 tahun, Latitia, dan istri barunya, Hannah. Dia menghadapi kesulitan yang muncul akibat kebijaksanaan-kebijaksanaannya yang sangat toleran. Kebijaksanaan-kebijaksanaan itu dikeluarkan setelah dia memulai "Eksperimen Kudus"-nya. Orang-orang yang berpikiran egois mengambil keuntungan dari pemerintahan pusat yang relatif lemah dan kebijaksanaannya yang murah hati.

Dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dia "memiliki" tiga orang budak Afrika yang mengurus kebun-kebunnya di Pennsbury Manor (selama sang gubernur tidak berada di Pennsylvania, seorang mandor perkebunan mengurus usaha perkebunan miliknya). Dia membebaskan ketiga budak itu dan berusaha keras agar pemerintah mengakhiri perdagangan budak serta mengeluarkan sebuah hukum yang membebaskan para budak setelah bekerja melayani majikannya selama empat belas tahun. Tetapi para Majelis mengabaikan semua prakarsanya. Filsafat kebebasan umum membenarkan semua orang melakukan hal yang mereka sukai [namun pada tahun 1780, Society of Friends (Masyarakat Persahabatan) berjuang melawan perbudakan secara menyeluruh].

Para bajak laut juga menganggap Selat Delaware sebagai sebuah surga bagi operasi-operasi mereka. Ada satu alasan yang menyebabkan Kelompok Quaker milik Penn dipersalahkan dalam masalah bajak laut. Akibat tidak merasa nyaman menggunakan keberasan untuk membela diri sendiri, mereka dituduh menolong dan bahkan memperoleh keuntungan melalui perdagangan dengan para bajak laut. Dalam beberapa hal, kebiasaan "hidup dan biarlah hidup" mulai bersemai.

Di dalam lingkungan, seperti itu, persaingan antargolongan yang berkembang di koloni Penn, membuat koloni itu sulit untuk mencapai kesamaan pendapat, sulit untuk diperintah, atau sulit menegakkan hukum-hukum atau peraturan-peraturan.

Pada tahun 1712, Penn terserang stroke dan menjadi lumpuh. Dia meninggal pada tanggal 30 Juli 1718 di Buckinghamshire, Inggris.

 
 
Diedit seperlunya dari:
Judul buku : Tawanan di Kapal Nighthawk
Judul asli : Hostage on the Nighthawk
Penulis : Dave dan Neta Jackson
Penerjemah : Lie Ping
Halaman : 177 -- 180
Penerbit : Gospel Press, Batam Center 2004

Komentar


Cari semua situs SABDA

Loading
Cari misalnya: 'alkitab'
Akan membuka halaman baru

Join Us

Selamat Merayakan Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta 2017

'Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus' Matius 28:19

Kunjungi situs Doa SABDA
Kunjungi situs TOP Berdoa


Aplikasi Android Kristen


android.sabda.org

Navigation

Follow Us

 

Member login

Permohonan kata sandi baru