Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereKarya / Sojourner Truth

Sojourner Truth


Anggota gerakan penghapusan perbudakan dan pembela hak-hak perempuan

"Tuhan telah menjadikan saya pertanda untuk bangsa ini, dan saya berkeliling bersaksi dan menunjukkan kepada mereka dosa-dosa mereka terhadap bangsa saya."

Pada sebuah pertemuan pendeta terkemuka dan anggota gerakan penghapusan perbudakan di rumah Harriet Beecher Stowe, penulis Uncle Tom’s Cabin, Stowe diberitahu bahwa Sojourner Truth ada di lantai bawah dan ingin bertemu dengannya.

"Kamu pernah mendengar saya, saya rasa?" mantan budak itu bertanya kepada Stowe ketika dia turun.

"Ya, saya kira demikian. Anda mengajar, bukan?"

"Ya, Sayang, itulah yang saya lakukan. Tuhan telah menjadikan saya tanda untuk bangsa ini, dan saya berkeliling bersaksi dan menunjukkan kepada mereka dosa-dosa mereka terhadap bangsa saya."

Terpesona oleh cerita dan sikap Truth, Stowe memanggil beberapa pendeta yang lebih terkenal di kumpulan orang itu. Ketika ditanya apakah dia berkhotbah dari Alkitab, Truth mengatakan tidak, karena dia tidak bisa membaca.

"Ketika saya berkhotbah," katanya, "Saya hanya memiliki satu teks untuk dikhotbahkan, dan saya selalu berkhotbah dari satu teks ini. Teks saya, 'Ketika saya menemukan Yesus.'"

"Nah, Anda tidak bisa menemukan yang lebih baik," kata salah satu pendeta.

Bahkan, Truth berkhotbah tentang tema-tema lain — dua di antaranya penghapusan perbudakan dan hak-hak perempuan — dan menjadi salah seorang pengkhotbah keliling yang paling terkenal dan kontroversial di zaman-nya.

Keluar dari perbudakan

Lahir sebagai seorang budak bernama Isabella Baumfree di tenggara New York, yang di kemudian hari menjadi anggota gerakan penghapusan perbudakan, memiliki beberapa majikan selama masa kecilnya — banyak dari mereka yang kejam — sebelum berakhir jadi milik John Dumont pada usia 13. Selama 17 tahun, ia bekerja untuk pria itu dan kemudian melarikan diri. Dia berjalan ke rumah Issac dan Maria Van Wagener — yang rumahnya katanya ditunjukkan oleh Tuhan padanya dalam suatu penglihatan. Pasangan Quaker membelinya dari Dumont dan kemudian membebaskannya.

Beberapa tahun kemudian, ia memiliki pengalaman yang meneguhkan imannya yang baru. Menurut otobiografinya yang didiktekan, pada suatu hari "Allah menyatakan diri kepadanya, dengan kilatan petir yang tiba-tiba, menunjukkan kepadanya, 'dalam sekejap mata, bahwa Dia ada di segalanya,' bahwa Dia menguasai alam semesta,' dan bahwa tidak ada tempat di mana Allah tidak ada.'"

"Saya hanya berjalan berputar-putar dalam sebuah mimpi," mantan budak itu kemudian mengatakan kepada Stowe. "Yesus mengasihi saya! Saya tahu itu, saya merasakannya."

Selama tahun-tahun awal, meskipun, imannya mengalami kebingungan, dan pada satu titik dia bergabung dengan sebuah sekte yang pemimpinnya akhirnya membunuh salah satu anggota; untuk periode lain, ia mengikuti Millerit, yang meramalkan Kristus akan datang kembali pada tahun 1843.

Ingin membuat sebuah awal baru, Isabella meminta Tuhan sebuah nama baru. Sekali lagi dia mendapat penglihatan — Allah memberinya namanya menjadi Sojourner "karena saya melakukan perjalanan bawah tanah, menunjukkan orang-orang dosa-dosa mereka, menjadi sebuah tanda untuk mereka." Dia segera meminta Allah untuk nama kedua, "karena orang lain memiliki dua nama, dan Tuhan memberi saya Truth, karena saya menyatakan kebenaran kepada orang-orang."

Dengan misi baru ini, dia meninggalkan New York dan bepergian ke seluruh New England, menghadiri pertemuan doa lokal dan lain-lain yang diadakannya sendiri. Pada tahun 1850 ia menerbitkan otobiografinya, ditulis dengan Olive Gilbert. Ini membuatnya tenar, dan dengan ketenaran muncul pelecehan. Ketika ia pernah mendengar bahwa gedung dimana ia akan berbicara akan dibakar jika ia berkhotbah, ia menjawab, "Maka, saya akan berbicara dengan abu." Kecerdasan dan tekadnya hanya berhasil pada satu titik. Setelah diserang secara fisik oleh satu massa yang sangat keji, ia terpaksa berjalan dengan tongkat untuk sisa hidupnya.

Sikapnya yang menentang perbudakan itulah yang menyebabkan terjadinya serangan paling mematikan kepada mantan budak itu. Namun, ia juga seorang wanita, dan sekali ia bertemu anggota penghapusan perbudakan perempuan lain, ia menjadi pendukung setia hak-hak perempuan juga. Bagi banyak orang utara, hal itu bahkan lebih kontroversial dari khotbah penghapusan perbudakannya. Beberapa mencoba untuk menghentikannya berbicara di Konvensi Hak-Hak Perempuan di Akron, Ohio, pada tahun 1851 — mereka takut hal itu akan melemahkan gerakan penghapusan perbudakan. Namun, Truth tetap berbicara pula, menyampaikan pidatonya yang paling terkenal:

"Pria yang di sana itu mengatakan bahwa wanita perlu dibantu dalam gerbong dan diangkat dari parit dan memiliki tempat terbaik di mana-mana. Tidak ada yang membantu saya di tempat terbaik manapun. Dan bukankah saya seorang wanita? Lihat saya! Lihatlah lengan saya. Saya membajak, saya menanam, dan saya mengumpulkan ke dalam lumbung. Dan tidak ada pria yang bisa memimpin saya. Dan, bukankah saya seorang wanita? Saya bisa bekerja sebanyak dan makan sebanyak pria — ketika saya bisa mendapatkannya — dan menanggung cambukan juga! Dan, bukankah saya seorang wanita? Saya melahirkan anak-anak dan melihat sebagian besar dari mereka dijual sebagai budak, dan ketika saya berseru dalam kesedihan seorang ibu, tidak ada seorangpun kecuali Yesus yang mendengar saya. Dan, bukankah saya seorang wanita?"

Pada akhir Perang Saudara, Truth telah bertemu dengan Abraham Lincoln, lengannya terkilir oleh trem konduktor rasis, mengajukan petisi kepada pemerintah agar membebaskan lahan barat untuk orang kulit hitam, dan membuat pidato yang tak terhitung jumlahnya atas nama Amerika dan perempuan Afrika. Pada tahun 1875, ia pensiun di rumahnya di Battle Creek, Michigan, di mana ia tetap tinggal di sana sampai kematiannya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

/tr>

e

Nama situs : Christianity Today
Alamat URL : http://www.christianitytoday.com/ch/131christians/activists/sojourner.html
Judul asli artikel : Sojourner Truth.Abolitionist and women's rights advocat
Penulis artikel : Tidak diantumkan
Tanggal akses : 5 November 2015

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru