Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereNegarawan / Theodosius Agung

Theodosius Agung


Theodosius Agung adalah seorang yang berusaha untuk mempersatukan kekaisaran Romawi yang terpecah-pecah kembali setelah masa pemerintahan Kaisar Konstantinus. Ia juga berusaha untuk mengembalikan kejayaan Gereja Katolik yang terancam oleh bermacam-macam bidat dan skisma, bahkan ia mau memperkuat gereja tersebut dengan jalan melarang semua ibadah-ibadah kafir di dalam wilayah kekaisarannya, serta menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi kekaisaran Romawi pada tahun 380. Pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus, agama-agama kafir masih dibiarkan melakukan ibadah-ibadahnya.

Theodosius adalah anak Theodosius, seorang jenderal yang kenamaan pada masa pemerintahan Kaisar Valentinianus. Dilahirkan di Spanyol sekitar tahun 346. Theodosius mulai terkenal ketika ia berhasil memadamkan serangan Sarmatian, tahun 374. Sesudah meninggalnya Valens dalam pertempuran di Adrianopel, maka ia dipanggil oleh Kaisar Gratianus untuk menjadi Augustus Timur pada tahun 379. Sesudah meninggalnya Kaisar Valentinianus, Theodosius diangkat menjadi kaisar Roma, pada tahun 392.

Theodosius adalah seorang yang dididik dalam ajaran kekristenan yang ortodoks, sehingga ia sangat membela keputusan (ajaran) Konsili Nicea. Pertikaian Arianisme yang belum diselesaikan dengan tuntas oleh Konstantinus dan pengganti-penggantinya kini diselesaikan oleh Theodosius. Untuk menyelesaikan pertikaian Arius, maka Theodosius memanggil sebuah konsili umum yang bersidang di Konstantinopel pada tahun 381. Konsili tersebut dikenal dengan nama Konsili Konstantinopel. Dengan konsili ini, pertikaian Arianisme diselesaikan. Kaisar memberi hak-hak istimewa kepada agama negara serta mengeluarkan sejumlah undang-undang yang melarang semua bidat dan perpecahan gereja.

Terhadap kekafiran, ia hanya memberlakukan peraturan larangan terhadap upacara kurban yang berbau magis (tahun 385) untuk sementara, tetapi kemudian perlahan-lahan diperkembangkan dengan dilarangnya semua upacara kurban kafir. Tahun 391 ia melarang setiap perkunjungan ke kuil-kuil kafir dengan tujuan beribadah. Sekalipun demikian, kaisar tidak memecat orang-orang kafir yang menduduki jabatan pemerintahan.

Sekalipun adanya larangan perkunjungan ke kuil untuk ibadah, namun ia tidak mengeluarkan undang-undang untuk menghancurkan kuil-kuil kafir. Ia hanya melanjutkan kebijakan Kaisar Gratianus, yaitu menyita kuil-kuil dan menghapuskan bantuan yang menyokong penyembahan berhala. Namun, rahib-rahib yang fanatik mengadakan aksi penghancuran kuil-kuil kafir di mana-mana, terutama di bagian Timur kekaisaran Romawi. Lima belas tahun lamanya ia memerintah dan sekurang-kurangnya Theodosius mengeluarkan 15 undang-undang yang menghukum penyesat-penyesat. Dengan hati-hati dan perlahan-lahan semua hak pelaksanaan ibadah mereka dilarang, termasuk juga hak mereka dalam jabatan-jabatan sipil dan mengancam mereka dengan penyitaan, pengusiran, dan dalam beberapa kasus dihukum mati.

Suatu peristiwa yang menarik perhatian kita adalah hubungan Theodosius dengan uskup Ambrosius, uskup Milano. Ambrosius menuntut kepada kaisar untuk mengakui dosanya di hadapan umum berhubungan dengan tindakannya atas peristiwa pembunuhan masal (7000 orang) di Tesalonika, pada tahun 390. Ambrosius sangat marah atas kejadian yang sangat menyedihkan itu. Ia menulis sebuah surat teguran yang keras kepada Theodosius dan sang uskup menolak kaisar dari Perjamuan Ekaristi sebelum kaisar mengakui dosanya. Ambrosius menulis antara lain kepada Theodosius sebagai berikut:

"Bagaimanakah engkau menengadahkan tanganmu untuk berdoa sementara tangan-tanganmu berlumuran dengan darah pembunuhan? Bagaimanakah mungkin engkau menerima dengan tangan-tangan yang sedemikian Tubuh Tuhan kita yang Kudus? Bagaimana mungkin engkau dengan mulutmu meminum darah Kristus yang mulia itu? Bertobatlah, jangan menambah kejahatan di atas kejahatan."

Lebih lanjut Ambrosius menuntut agar Theodosius mengikuti teladan Raja Daud yang mengakui dosanya tanpa memperhitungkan kemuliaan dan kehormatannya sebagai seorang raja. Kaisar Theodosius menjawab dan agaknya hendak membela dirinya dengan mengatakan: "Bukankah Daud juga membunuh dan berzinah?" Tetapi Ambrosius tidak kehilangan akal. Ambrosius berkata kepadanya: "Jikalau tuanku telah meniru Daud dalam dosa, sekarang tirulah juga dia di dalam pertobatan". Theodisius tidak berdaya di hadapan uskup yang bijaksana itu. Tidak ada jalan lain bagi Theodosius daripada mengakui dosanya di hadapan umum.

Hubungan Ambrosius dengan Theodosius berjalan dengan baik sekali sampai kaisar meninggal dalam tangan Uskup Ambrosius di Milano, pada tahun 395.

Keputusan Theodosius untuk menjadikan agama Kristen sebagai agama kekaisaran Romawi haruslah dilihat sebagai keputusan politis. Keputusan politis ini membawa dampak yang sangat besar bagi gereja dan kekristenan, baik yang bersifat positif maupun bersifat buruk. Jumlah orang Kristen membengkak, orang-orang berduyun-duyun mendaftarkan diri sebagai seorang Kristen. Para pejabat gerejawi mendapat kehormatan yang luar biasa. Mereka diberi hak-hak yang istimewa serta diberi kekuasaan duniawi. Gedung-gedung gereja yang megah dibangun atas biaya kekaisaran. Ibadah menjadi sangat meriah. Di samping hal-hal yang positif di atas terdapat juga dampak yang negatif, yaitu mutu kekristenan merosot sama sekali. Orang menjadi Kristen bukan lagi didasarkan atas pertobatan pribadi (keputusan yang dewasa dan bertanggung jawab), tetapi karena peraturan pemerintah. Warga kekaisaran Romawi bertindihan tepat dengan keanggotaan gereja.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Judul bab: Theodisius Agung
Penulis: Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman: 235 -- 237

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru