Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereReformis / Thomas Cranmer

Thomas Cranmer


"Dan, karena tanganku menyinggung perasaan ketika menulis sesuatu yang bertentangan dengan hatiku, maka tangankulah yang akan pertama kali dihukum." Inilah kata-kata Cranmer saat menjalani hukuman mati.

Thomas Cranmer lahir pada tahun 1489 di Aslacton, Nottinghamshire. Di sana, ayahnya adalah seorang tuan tanah desa yang miskin. Ia mengenyam pendidikan dasarnya di rumah, kemudian masuk ke Perguruan Tinggi Yesus (Jesus College) di Cambridge, pada tahun 1503. Ia menjadi mahasiswa penerima beasiswa dari Perguruan Tinggi pada tahun 1510, tetapi dipaksa untuk melepaskan posisi tersebut setelah menikah dengan istri pertamanya, Joan. Setelah kematian istrinya dalam proses melahirkan, ia kembali masuk gereja dan sekali lagi, ia menjadi mahasiswa penerima beasiswa.

Cranmer merupakan seorang penerima beasiswa yang antusias, dan ia menyadari bahwa dirinya bersimpati dengan pergerakan benua menuju reformasi gereja, yang menekankan pentingnya Alkitab maupun otoritas sekuler di atas otoritas kepausan.

Cranmer mungkin telah puas menjalani hidupnya dengan belajar di Cambridge, namun kehidupan pribadi Raja Henry VIII akan membawa tokoh gereja tak terkenal ini mendapat pengakuan internasional. Ketika perceraian Raja Henry terhadap Katherine dari Aragon menemui rintangan hukum, perhatian Raja Henry tertuju pada Cranmer.

Ketika "sweating sickness" (penyakit mematikan dan berbahaya yang menyerang manusia, dengan gejala demam tinggi yang bisa menjangkit banyak orang di suatu daerah tertentu dengan cepat - Red.) menyerang Cambridge pada musim panas tahun 1529, Cranmer meninggalkan kota untuk tinggal di Waltham, Essex. Di sana, ia bertemu dengan dua orang penasihat kepala Raja Henry, Edward Fox dan Stephen Gardiner, yang terkesan dengan argumen teologisnya terkait dengan perceraian sang Raja. Mereka membawa Cranmer ke hadapan raja, yang menyuruh Cranmer dengan segera menulis pembelaan teologis atas posisinya, dengan menyatakan pendapat bahwa pernikahan Henry dengan janda dari mendiang saudara laki-lakinya adalah tidak sah.

Cranmer mempertahankan risalah ini di hadapan para teolog di Universitas Oxford dan Cambridge, yang dalam prosesnya memperoleh penghargaan dari Henry dan kebencian dari para pendukung Katherine, termasuk putrinya, Mary. Setelah itu, Henry mempekerjakan Cranmer pada beberapa kedutaan luar negeri, pertama kepada Paus dan akhirnya untuk membuat kontak diam-diam dengan para pemimpin Protestan di Eropa.

Pada tahun 1532, Cranmer menikah untuk kedua kalinya dengan Margaret, putri dari seorang Sarjana Lutheran. Namun, keberadaan Margaret di muka umum hanya singkat.

Tahun berikutnya, Cranmer diangkat sebagai Uskup Agung Canterbury. Namun, karena mempertahankan keberatan raja atas pernikahan rohaniwan, ia terpaksa mengirim istrinya ke tempat tersembunyi dan selanjutnya mengasingkannya secara sah. Keadaan yang aneh dari urusan ini terus berlanjut sampai reformasi dalam masa pemerintahan anak Henry, Edward VI, memperbolehkan seorang pendeta untuk menikah, dan Cranmer sekali lagi dapat hidup bersama istrinya secara terang-terangan.

Pada saat yang sama, di depan umum, Cranmer mendukung sejumlah manuver pernikahan Henry. Dalam perannya sebagai Uskup Agung Canterbury, ia secara resmi membatalkan pernikahan Henry dengan Katherine dari Aragon, dan kemudian membantu memimpin persidangan Anne Boleyne, perceraian dari Anne of Cleves, serta pengadilan dan penjatuhan hukuman atas Catherine Howard. Dalam semua tindakannya tersebut, Cranmer menunjukkan sifatnya yang lemah, tampaknya ia tidak mampu untuk menyangkal Henry dalam setiap keinginannya.

Cranmer tampaknya benar-benar ditentang oleh pelengseran pemerintahan Henry atas biara, meskipun baktinya terhadap kekuasaan sekuler dari atasannya tidak membuatnya memiliki cukup ruang untuk menentang keputusan-keputusan Henry! Sudah pasti Cranmer merupakan salah satu pelayan Henry yang paling berharga selama pembubaran. Dengan demikian, ia banyak menyalahkan mereka yang menentang kebijakan tersebut.

Selama masa pemerintahan Henry VIII, Cranmer mengerjakan reformasi gerejawi yang masuk akal, termasuk sebuah Alkitab terjemahan baru dalam Bahasa Inggris. Namun, itu adalah aksinya selama pemerintahan Edward VI yang membuat Cranmer menjadi figur yang benar-benar kontroversial, yang secara bergantian dibenci dan disanjung oleh orang-orang Katolik dan Protestan di Inggris.

Pada tahun 1549, Cranmer menulis Buku Doa Umum (versi revisi kedua diisukan dibuat pada tahun 1552), yang memperkenalkan badai pertentangan. Cranmer menyatakan pandangan bahwa Komuni orang-orang Kristen yang tepat bergantung lebih pada hati daripada pelaku, dibandingkan roti dan anggur yang benar-benar digunakan dalam upacara. Ia juga mendorong pembacaan Alkitab secara publik melalui seluruh jemaat.

Walaupun bagi para pendengar modern hal tersebut tampak masuk akal, atau setidaknya menganggap hal itu sebagai pertimbangan yang beralasan, namun pada saat itu, hal-hal itu tidak lain merupakan sebuah bentuk revolusi yang pendek. Cranmer dicela oleh gereja Katolik dan kadang-kadang oleh kaum Protestan yang bersemangat, yang menyatakan bahwa ia tidak cukup revolusioner!

Gerakan singkat reformasi Cranmer itu dibatalkan ketika Mary I naik takhta pada tahun 1552. Mary, yang merupakan seorang Katolik yang kuat, menyalahkan Cranmer atas perceraian ibunya. Ia dengan cepat memerintahkan agar Cranmer diadili dan dihukum mati karena pengkhianatan. Meskipun hukuman mati tidak dilakukan, Cranmer telah diadili karena dianggap melakukan bidah (penyesatan). Selama pengadilannya, Cranmer dengan bijaksana menarik pandangan reformasinya dan menegaskan kembali kekuasaan tertinggi dari Paus dan kehadiran fisik dari Kristus dalam roti dan anggur komuni. Ia menandatangani sebuah dokumen resmi sambil meninggalkan pandangan reformasinya.

Meskipun ia telah menarik kembali pandangannya, ia tetap dinyatakan bersalah atas bidah dan dihukum mati. Mungkin karena menyadari bahwa kesempatannya untuk tetap hidup telah berakhir, Cranmer menghadapi kematian dengan begitu tenang. Pada tanggal 21 Maret 1556, ia dibakar di tiang Oxford.

Saat api naik di sekitarnya, Cranmer menyatakan penyangkalannya sebelumnya dan mengacungkan tangan kanan yang tidak setia, yang telah menandatangani dokumen-dokumen pengakuannya supaya tangannya itu yang pertama-tama terbakar oleh api. Cranmer merupakan satu dari tiga uskup yang kematiannya diperingati oleh Martyr's Memorial di Oxford.

Walaupun kematiannya dramatis, tetapi Thomas Cranmer dikenang sebagai salah satu arsitek utama Inggris dari penyembahan gereja Katolik tradisional menuju kepada bentuk ibadat religius Anglikan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Britain Express
Alamat URL : http://www.britainexpress.com
Judul asli artikel : Thomas Cranmer
Penulis : David Ross
Tanggal akses : 21 Agustus 2013

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru