Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePolitisi / Yap Thiam Hien

Yap Thiam Hien


Orang besar itu ternyata badannya kecil. Saat berdiri, beliau lebih pendek daripada saya. Pundaknya sempit. Ia menatap dan berjabat tangan nyaris tanpa ekspresi. Langsung ia duduk lagi. Saat itu, saya gugup. Saya berhadapan dengan orang besar yang namanya sudah lama saya ketahui. Itulah Yap Thiam Hien.

Tentu bukan bandingan. Saya cuma murid sekolah teologi, sedangkan Yap Thiam Hien (selanjutnya Yap) sudah jadi advokat dan anggota DPR terkenal yang sering muncul di koran mengkritik Presiden Sukarno. Saya baru datang sebagai calon pendeta yang penuh ketidakpastian, ia adalah penatua yang penuh percaya diri. Saya baru 22 tahun, ia 49 tahun. Itu terjadi pada tahun 1962 di GKI Gang Kelinci Jakarta (selanjutnya GKI Samanhudi) menjelang rapat Majelis Jemaat.

Beberapa minggu kemudian, ada Konferensi Pemuda GKI se-Jawa. Saya menyampaikan ceramah bertopik "Perencanaan Program Tahunan Komisi Pemuda Gereja Setempat". Kedua pendeta senior hadir karena mereka supervisor saya. Ternyata, Yap juga hadir! Seusai ceramah, Yap tersenyum manis dan berkata, "Hong An, goed gedaan! Maarjij moet sociologie studeren!" Artinya, "Hong An, kerjamu bagus! Tetapi kamu perlu belajar sosiologi!" Itulah ucapan pertama Yap kepada saya. Ucapannya yang kedua adalah, "Noem mij Pak Yap!" artinya, "Panggil saya Pak Yap!". Zaman itu, sebutan yang lazim adalah Meneer Yap atau Meester Yap.Ternyata, beliau lebih senang dipanggil Pak Yap.

Siapa sebenarnya Yap? Ia lahir di Aceh 25 Mei 1913. Baru saja ia berusia 9 tahun, ibunya meninggal. Sejak itu, ia diasuh oleh neneknya. Ia masuk SMA di Yogyakarta. Di situ, ia mondok pada keluarga keturunan Jerman. Dalam keluarga ini, Yap mulai mengenal gaya hidup Kristus yang berwujud kasih sayang.

Keinginan Yap untuk mengenal iman Kristen dilanjutkan ketika ia belajar di Sekolah Guru di Jakarta. Ia menjadi aktivis pemuda dan guru Sekolah Minggu. Ia ikut katekese dan menerima baptisan di GKI Perniagaan pada usia 25 tahun.

Lulus dari Sekolah Guru, Yap mengajar di SD Cirebon dan Rembang. Kemudian, ia kembali ke Jakarta dan belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sambil tetap menjadi guru SD. Ia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dan ikut memikirkan perjuangan kemerdekaan.

Kecintaan Yap untuk menjadi guru Sekolah Minggu dan aktivis pemuda dilanjutkan ketika ia belajar hukum di Universitas Leiden. Ia berkenalan dengan banyak buku teologi berbobot. Ia dikirim Dewan Sending untuk belajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) Anak dan PAK Remaja/Pemuda selama satu semester di Selly Oak College, Inggris.

Sekembalinya di Indonesia, Yap menjadi advokat dan langsung tenggelam dalam kesibukan di gereja dan masyarakat. Sebagai penatua GKI Samanhudi, ia ikut dalam banyak urusan sinode dan PGI. Ia ikut membentuk Badan Pendidikan Kristen Penabur tahun 1950 dan menjadi ketua tahun 1954-1957. Di kemudian hari, bersama TB. Simatupang ia membentuk UKI. Kemudian hari lagi, Yap juga sibuk di berbagai badan oikumenis di Dewan Gereja Asia dan Dewan Gereja se-Dunia.

Sebagai politikus, Yap lebih sibuk lagi. Di DPR, ia anggota fraksi Partai Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Ketika kemudian Baperki condong ke paham komunis, Yap keluar.

Pernah, Yap memihak para pekerja seks komersial dalam melawan Gubernur Sadikin. Gubernur berang, tetapi dengan jiwa besar mengundang Yap untuk bertemu. Kepada kami di gereja, Yap menceritakan bahwa percakapan itu kaku dan dingin. Namun, sejak itu, kedua orang itu menjadi sahabat dekat.

Bersama dengan Adnan Buyung Nasution, Albert Hasibuan, dan yang lainnya, Yap mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Yap menganjurkan agar tiap gereja mendirikan biro bantuan hukum untuk menolong orang yang tidak mengerti dan tidak berdaya membela haknya. Yap juga turut merintis pembentukan Dewan HAM di Asia. Ia putra Indonesia pertama yang duduk di Komisi Internasional Advokat yang berkedudukan di Jenewa dan konsultan HAM Dewan Gereja se-Dunia di Jenewa.

Ketika Presiden Sukarno jatuh tahun 1965, banyak orang yang semula mendukung Sukarno langsung menghujatnya. Salah seorang sasaran hujatan itu adalah Menlu Subandrio yang diadili di Mahkamah Militer. Yap menjadi pembelanya. Pleidoi Yap terkenal ke berbagai belahan dunia. Ketika itu terjadi, saya sedang bersekolah selama tiga tahun di Instituut Kerk en Wereld di Belanda. Pada malam itu, saya diundang ke rumah Arend van Leeuwen, rektor sekolah kami, penulis buku "Christianity in World History". Rektor itu memperlihatkan naskah pleidoi Yap dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis. Yap dikagumi di dunia internasional.

Dalam pleidoi itu, Yap berdalil bahwa memang benar Subandrio bersalah menjadi pendukung Sukarno, tetapi pada waktu itu, kita semua pun jadi pendukung Sukarno. Oleh sebab itu, siapa gerangan yang berhak menghukum Subandrio karena kita pun sama salahnya seperti dia? Lalu, Yap mengutip cerita Injil tentang seorang perempuan yang hendak dirajam oleh para pemuka agama dengan tuduhan perbuatan asusila. Lalu, Yap mengutip ucapan Yesus kepada para pemuka agama itu, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh. 8:7)

Di tiap rapat Majelis Jemaat, suara Yap lembut dan halus, tetapi kata-katanya tajam dan sinis. Orang yang belum kenal watak Yap bisa langsung tersinggung. Yap langsung marah kalau ada kepura-puraan dan kebohongan.

Untuk edisi 100 Tahun Yap Thiam Hien, dua orang redaktur Majalah Tempo mewawancarai saya selama satu jam dan bertanya apa sumbangsih terbesar Yap untuk gereja-gereja di negara ini. Saya menjawab, "Yap memberi hati nuraninya kepada gereja. Yap mengingatkan gereja agar jangan terlena dalam aspek vertikal individu dengan Allah, melainkan harus mengutamakan aspek horizontal gereja dengan masyarakat." Yap tidak menyukai ibadah yang berlangsung lebih dari satu jam, apalagi yang seremonial. Ia sering mengutip ayat berbahasa Belanda yang ia hafal, "Aku membenci ... perayaanmu ... Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu ... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." (Am. 5:21-24)

Menanggapi semua kritik itu, kami sungguh berpadu hati dengan Yap. Tidak pernah terjadi kerenggangan. Akan tetapi, konflik timbul dalam perkara ganti nama. Pemerintah membuka kesempatan kepada warga negara keturunan Tionghoa untuk berganti nama. Kami berpandangan bahwa pergantian nama dapat memperlancar proses kesatuan bangsa pada generasi-generasi mendatang. Oleh sebab itu, GKI Samanhudi memfasilitasi proses pergantian nama. Yap marah. Ia berkeyakinan, "Yang penting bukan punya nama Indonesia, melainkan punya perbuatan berguna untuk Indonesia."

Akibat perbedaan paham ini, Yap menjadi kecewa pada GKI Samanhudi. Ia tidak ke gereja lagi. Selama Yap tidak mengikuti ibadah gereja, selama itu kami terus mencari jalan untuk bisa berhubungan dengan Yap sekeluarga. Para pendeta GKI Samanhudi tiap Senin pagi berdiskusi dan sering membicarakan dan mendoakan Yap.

Tiap usai kebaktian remaja di SMPK Pembangunan, saya bercakap-cakap dengan Ibu Yap yang menemani putrinya. Ibu Yap selalu berkata dengan penuh perasaan, "Ik zal uw preek aan mijn man vertellen." Artinya, "Saya akan menceritakan khotbah Anda kepada suami saya."

Umat GKI Samanhudi berusaha memelihara hubungan dengan Yap. Memang benar bahwa kami tidak mengunjungi Yap ketika beliau ditahan oleh militer akibat peristiwa Malari 1974, tetapi itu disebabkan karena kami sama sekali tidak diizinkan masuk meski kami berbekal surat resmi. Jadi, kelirulah tulisan yang mengatakan bahwa para tokoh gereja tempat Yap pernah mengabdi seolah-olah melupakannya.Kelirulah tulisan itu yang mengatakan bahwa Yap telah disangkal oleh banyak pemimpin gereja.

Tahun 1978, saya mengunjungi Yap dan meminta ia berceramah di GKI Samanhudi tentang pelayanan bagi para mantan tahanan politik Pulau Buru. Yap datang bersama istrinya. Setahun kemudian, sebagai Kepala Program PWG STT Jakarta, saya selama lima malam berturut-turut menjemput, menjadi moderator, dan mengantar pulang Yap dalam rangka Pekan Studi Warga Gereja.

Saya mengawali pekerjaan di GKI Samanhudi dengan kehadiran Yap dan 38 tahun kemudian mengakhirinya juga di GKI Samanhudi, tetapi tanpa Yap. Pada tahun 1989, Yap meninggal dunia dalam usia 75 tahun ketika menghadiri konferensi di Veurne, Belgia. Ketua sidang mengajak hadirin menundukkan kepala bagi "The great little man, Pak Yap". Artinya, "Orang kecil yang besar, Pak Yap". Benar, Pak Yap orang besar. Badannya kecil, orangnya besar.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Selamat Berpadu
Penulis : Andar Ismail
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2014
Halaman : 127-131
Tags

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru