Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

You are hereBio-Kristi No. 185 Junil 2018 / Corrie ten Boom

Corrie ten Boom


"Never be afraid to trust an unknown future to a known God."(Corrie ten Boom)

Hanya sedikit orang yang pernah mendengar tentangnya. Dia bukanlah pribadi yang populer. Akan tetapi, sejarahnya layak diketahui karena peranannya yang begitu luar biasa dalam menyelamatkan orang-orang Yahudi dan yang lainnya selama pendudukan Nazi di Belanda pada masa Perang Dunia ke-2.

Awal sejarah


Gambar: Corrie
Corrie ten Boom pada usia senja.

Corrie ten Boom lahir pada 1892 dalam keluarga Kristen yang kental, yang kedermawanan dan komitmen sosialnya telah diakui sejak lama. Rumah mereka selalu terbuka bagi orang-orang yang membutuhkan.

Kakek Corrie, Willem, mendirikan toko pembuat jam pada 1837 di jalan no. 19, Barteljorisstraat, Haarlem, Holland, kota tempat dia dilahirkan. Toko tersebut terletak di lantai bawah, sementara keluarganya tinggal di lantai atas.

Beberapa waktu kemudian, toko tersebut diwarisi oleh Casper, putra Willem, hingga akhirnya tiba giliran Corrie untuk mewarisinya, dan oleh karena itu dia menjadi wanita pembuat jam berkebangsaan Belanda yang pertama.

Namun, dia bukan hanya menjadi wanita perajin yang pertama. Sangat mungkin, dia adalah wanita pertama yang memimpin gerakan perlawanan terhadap Nazi di negaranya.

"Ide" yang menyelamatkan

Ketika dia berumur 48 tahun, melihat pada apa yang sedang terjadi di Belanda di bawah rezim nasional-sosialis -- khususnya penganiayaan yang tidak henti-hentinya terhadap orang Yahudi -- dia memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Kemudian, dia merancang suatu cara untuk membantu mereka, suatu gagasan yang langsung disetujui oleh ayah dan saudaranya. Dengan begitu, dia dapat "melawan" para Nazi, tetapi dalam caranya yang khusus, tanpa kekerasan, dan sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip dan keyakinan Kristen.

Yang manakah ide Corrie?

Dia mengembangkan ide agar rumahnya digunakan sebagai tempat pengungsian. Enam atau tujuh orang bisa disembunyikan di dalamnya. Ketika idenya dipraktikkan, empat dari pengungsi itu adalah orang Yahudi, sedangkan yang lain adalah para pejuang perlawanan Belanda. Dalam beberapa waktu tertentu, mereka tinggal di sana hanya selama beberapa jam, menggunakannya sebagai tempat menunggu untuk transit menuju tempat pengungsian lain yang aman; pada kesempatan lain mereka tinggal selama berbulan-bulan sampai mereka bisa pergi ke tempat-tempat yang lain. Akan tetapi, ketika ide itu dijalankan, arus orang-orang yang dianiaya menjadi permanen.

Tempat pengungsian

Tempat persembunyian dengan panjang 2,5 meter dan lebar 0,70 meter dibangun di dalam kamar tidur Corrie sendiri, di lantai dua bangunan tersebut. Pintu masuknya disembunyikan di belakang lemari baju, dan ruangan yang tersedia bisa memuat maksimal enam orang sekaligus, jika semuanya dalam posisi berdiri tanpa membuat gerakan sedikit pun.

Setiap kali bunyi alarm terdengar (bel kecil yang terletak dekat tangga), para pengungsi punya waktu kurang lebih satu menit untuk bersembunyi di dalam tempat itu, dengan membawa barang-barang mereka. Mereka tetap di situ sampai bahaya telah lewat, dalam kesunyian mutlak dan benar-benar tidak bergerak.

Toko pembuat jam itu adalah "tabir" yang ideal untuk aktivitas ini, karena fakta bahwa orang sering masuk dan keluar bangunan ini tanpa menimbulkan kecurigaan.

Dengan cara ini, sedikit demi sedikit, Corrie mendapati dirinya memimpin sebuah jaringan yang beranggotakan kurang lebih delapan puluh orang, Kelompok "Beje" ("Beje" nama bisnis toko itu), yang membaktikan diri mereka untuk mencari pengungsi di rumah-rumah orang Belanda pemberani yang lain, yang juga memberikan suaka seperti yang dia lakukan. Dalam sebagian besar waktunya, dia sibuk merawat para pengungsi setelah dia bisa menemukan tempat untuk memondokkan mereka.

Diperkirakan bahwa dengan cara ini, dia telah menyelamatkan nyawa sekitar 800 orang Yahudi, dan banyak anggota perlawanan Belanda dan siswa-siswa yang dianiaya karena menolak bekerja sama dengan para Nazi.

Pengkhianatan

Akan tetapi, sesuatu mendadak terjadi dan aktivitas-aktivitas itu harus dihentikan. Pada suatu hari, seorang pria memasuki toko keluarga ten Boom dan memberi tahu Corrie bahwa dia dan istrinya adalah orang Yahudi dan bahwa mereka memerlukan uang untuk menyuap seorang polisi. Corrie menjawab bahwa dia bisa mendapatkannya.

Ini adalah pria yang pada 28 Februari 1944 mengadukan mereka kepada Gestapo (polisi rahasia Nazi). Agen-agen mereka menunggu seharian sambil memantau toko pembuat jam itu, dan kemudian menahan setiap dan semua orang yang berusaha memasuki gedung itu. Hingga matahari terbenam, mereka telah menangkap sekitar tiga puluh orang tawanan.

Kemudian, mereka menggerebek rumah itu, tempat mereka menangkap Corrie, ayahnya, Casper, saudara dan saudarinya -- Willem, Nollie, dan Betsie, dan keponakannya, Peter, yang kemudian ditempatkan dalam penjara di Scheveningen.


Gambar: Rumah Corrie
Rumah Corrie ten Boom

Meskipun Gestapo mencurigai bahwa ada orang-orang yang bersembunyi di suatu tempat dan karena itu memeriksa dengan hati-hati seluruh bangunan itu, mereka tidak dapat menemukan tempat pengungsian tempat empat orang Yahudi (dua pria dan dua wanita) dan dua pejuang perlawanan bersembunyi pada waktu itu. Meskipun rumah itu terus-menerus dipantau, mereka semua bisa diselamatkan oleh anggota-anggota yang lain dari jaringan Corrie. Selama 47 jam yang mereka habiskan untuk bersembunyi sampai mereka dibebaskan, mereka berhasil diam tidak bergerak dan tidak bersuara, serta tanpa makanan ataupun air. Empat orang Yahudi itu dibawa ke tempat pengungsian yang lain, dan tiga dari antara mereka mampu bertahan hidup dalam peperangan, sedangkan dua anggota perlawanan tadi, salah satu dari mereka meninggal beberapa waktu setelah itu dan satu orang lainnya berhasil bertahan hidup.

Nasib keluarga ten Boom

Dalam penawanan, ketika Casper diberi tahu bahwa dia bisa saja dijatuhi hukuman mati karena menyelamatkan orang-orang Yahudi, dia menyatakan: "Suatu kehormatan untuk memberikan nyawaku bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah." Dan, hal itu kemudian menjadi kenyataan, karena dia meninggal sepuluh hari setelah penahanannya, pada usia 84 tahun.

Corrie dan saudarinya, Betsie, ditahan dalam tiga penjara yang berbeda selama sepuluh bulan berikutnya, sampai akhirnya mereka dikirim kembali ke kamp konsentrasi (penjara yang didirikan khusus oleh Rezim NAZI bagi orang-orang Yahudi dan para pemberontak kebijaksanaan mereka, yang dikenal dengan kekejamannya - Red.) Ravensbrück, dekat Berlin, di Jerman.

Betsie, yang berusia 59 tahun, meninggal segera setelah diasingkan: dia tidak bisa mengatasi kondisi yang dibebankan kepadanya.

Saudaranya, Willem, yang berusia 60 tahun, dan yang "kejahatannya" adalah kerja samanya dengan gerakan perlawanan, jatuh sakit karena tuberkulosis selagi berada di dalam penjara, dan meninggal segera setelah perang berakhir.

Salah satu keponakan Corrie, Christian, yang pada waktu itu berusia 24 tahun, dibawa ke kamp kematian Bergen Belsen dan juga dituduh ambil bagian dalam gerakan perlawanan. Kabarnya tidak terdengar lagi sejak saat itu.

Singkatnya, empat dari sepuluh anggota keluarga Boom memberikan nyawanya dengan komitmen mereka untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Nasib Corrie

Akan tetapi, Corrie kembali.

Pada akhir 1944, hampir secara ajaib, namanya termasuk dalam daftar orang yang harus dibebaskan. Dia kembali ke Belanda dan dapat pulih dari masalah kesehatan yang menimpanya sejak dia ditahan di penjara. Dia menghabiskan bulan-bulan musim dingin terakhir perang itu di rumahnya sendiri di Haarlem, tetapi dia tidak hanya berdiam diri. Sebagaimana yang dia katakan, "Allah memberi kita kasih untuk memampukan kita mengampuni musuh-musuh kita."

Corrie mengampuni. Dia memaafkan kematian orang-orang terdekatnya dan penderitaannya sendiri, yang telah ditimpakan kepadanya selagi berada di kamp konsentrasi. Dan, dia bahkan bertindak lebih. Suatu kali, pada 1947, di Muenchen, seorang pria ingin menyapanya dan menjabat tangannya. Saat melihat wajahnya, dia segera mengenali orang itu sebagai salah satu penjaga terkejam di Ravensbrück, salah satu dari sekian banyak (penjaga) yang di hadapannya dia harus berjalan telanjang bersama saudarinya Betsie ketika, sesuai dengan kriteria khusus yang ditetapkan para Nazi, mereka memilih siapa yang masih berguna di antara orang-orang yang tidak dapat bekerja lagi. Bagaimana mungkin dia menjabat tangan pria ini? Pria itu memberitahunya bahwa dia telah masuk Kristen setelah perang, dan bahwa dia percaya jika Allah telah mengampuninya atas segala kejahatan yang dia lakukan di kamp konsentrasi. Akan tetapi, dia memerlukan Corrie untuk memberitahunya secara pribadi bahwa Corrie telah memaafkan dirinya. Corrie melakukannya dan menjabat tangannya.

Dan, sebagai bukti bahwa dia memiliki banyak hal untuk diberikan, dia mendirikan Bloemendaal. Sebuah rumah pemulihan yang ditujukan untuk penyembuhan dan peristirahatan korban perang yang selamat.

Dia merasa bahwa hidupnya adalah suatu karunia Allah dan bahwa dia perlu membagikan kepada orang lain apa yang dia dan saudarinya Betsie telah pelajari di kamp konsentrasi: "Tidak ada luka yang begitu dalam yang tidak dapat dijangkau oleh kasih Allah."

Ketika dia berumur 53 tahun, Corrie memulai pelayanan di seluruh dunia untuk menyebarkan keyakinan dan pengalamannya, yang karena alasan itu, dia bepergian ke lebih dari 60 negara yang berbeda dalam 33 tahun berikutnya.


Gambar: Museum Corrie
Museum Bencana Yerusalem

Pada 1968, Museum Bencana Yerusalem (Yad Vashem) memintanya menanam pohon untuk menghormati kenangan atas banyak nyawa orang Yahudi yang telah diselamatkan olehnya dan saudarinya. Dia melakukannya, dan pohon itu masih tumbuh di sana.

Sebuah film juga diambil pada 1975 berdasarkan riwayatnya.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Corrie adalah seorang wanita yang memiliki keyakinan dalam Allah. Pada 1978, dia menderita stroke cerebral-vascular yang membuatnya lumpuh. Dia meninggal pada 15 April 1983, pada hari ulang tahunnya yang ke-91. Sangat luar biasa bahwa dia meninggalkan dunia ini pada tanggal khusus itu. Menurut tradisi orang Yahudi, hanya orang-orang yang benar-benar diberkati oleh Allahlah yang diberikan hak istimewa untuk meninggal pada tanggal yang sama dengan hari ulang tahun mereka.

Tempat pengungsian tua diubah menjadi museum

Bangunan yang terletak di jalan no. 19, Barteljorisstraat, di Haarlem, tidak berubah banyak sejak tahun 40-an. Pada masa kini, lebih mudah dan lebih cepat untuk mencapainya karena tempat itu berjarak 15 menit dengan kereta dari Amsterdam.

Yayasan Corrie ten Boom membelinya pada 1987, dan pada tahun berikutnya membukanya untuk umum dan mengubahnya menjadi museum karena tempat itu adalah situs yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi dan menjadi sumber inspirasi bagi orang percaya. Museum itu menunjukkan ruangan-ruangan di rumah itu dengan mebel, barang-barang, dan foto-foto keluarga mereka; "ruang pengungsian" dan pameran permanen Gerakan Perlawanan Belanda.

Sesungguhnya, sekali lagi, rumah itu menjadi "rumah terbuka" bagi semua orang sebagaimana yang dirancang oleh keluarga ten Boom sesuai dengan prinsip-prinsip dan keyakinan mereka karena hak masuk ke rumah itu tidak dibatasi. Dan, untuk menjaga tradisinya tidak berubah dan terus berjalan, sebuah toko pembuat jam masih berfungsi di lantai bawah.

Sejarah Corrie ten Boom tidak lebih (dan tidak kurang) dari kisah hidup seorang wanita biasa yang berhasil mencapai hal-hal yang luar biasa. Seorang wanita yang bahkan hari ini, melalui perbuatannya yang mulia, membantu kita untuk terjaga dan menjauhi penolakan dan ketidakpedulian yang banyak kita rasakan ketika dihadapkan dengan hal-hal yang terjadi di dalam dunia. (t/Odysius)

Audio: Corrie ten Boom

Diambil dari:
Nama situs : Bio-Kristi
URL : http://biokristi.sabda.org/corrie_ten_boom_juru_selamat_belanda
Judul asli artikel : Corrie ten Boom, Juru Selamat Belanda
Penulis artikel : Patricia M. Ferreira
Tanggal akses : 13 November 2017
Sumber asli:
Nama situs : The International Raoul Wallenberg Foundation
URL : http://www.raoulwallenberg.net/saviors/others/corrie-ten-boom-dutch-savior/
Judul artikel : Corrie ten Boom, a Dutch Savior
Penulis artikel : Patricia M. Ferreira
Tanggal akses : 5 Maret 2014

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru