Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePenulis / Charles Dickens

Charles Dickens


Beberapa novelnya tanpa ampun mencerca orang Kristen. Namun penulis Victorian besar ini juga menulis kisah yang hormat mengenai kehidupan Yesus.

Charles Dickens disebut "mungkin novelis Inggris yang terbesar." Beberapa orang mungkin menganggap penghargaan seperti itu berlebihan, tapi tidak ada yang dapat menyangkal kejeniusan dan kontribusinya yang luar biasa untuk kesusastraan.

Sepanjang hidupnya, Dickens adalah pembela kaum miskin dan tertindas, serta kritikus aristokrat dan elitisme High-Church. Karya-karya populer seperti "David Copperfield", "A Christmas Carol", dan "Pickwick Papers" mengungkapkan penghinaan terhadap korupsi dan kebodohan dalam bisnis, hukum, agama, dan pendidikan Victoria Inggris. "In Our Mutual Friend," tulis Neil Philip, mengutip salah satu contoh, "[Dickens] menggambarkan pelepas nafsu birahi [agama] yang berbicara dengan memanjang-manjangkan My Dearerr Childerrenerr ... tentang kedatangan Sepulchre yang indah; dan mengulangi kata Sepulchre (umum digunakan pada bayi) lima ratus kali, dan tidak pernah mengisyaratkan apa artinya. "

Merasakan Kemiskinan

Kehidupan Dickens mengikuti cerita klasik yaitu dari miskin menjadi kaya. Ia lahir di Landport, di Portsea, pada tanggal 7 Februari 1812. Ayahnya, John Dickens, adalah seorang pegawai di angkatan laut - pekerjaan yang memungkinkan keluarga itu untuk tinggal di tempat yang nyaman, tetapi yang tidak terlalu memanjakan, kelas menengah.

Sayangnya, pengelolaan uang yang ceroboh dan masa-masa sulit menjadi penyebab penurunan keuangan John Dickens tahun 1820-an. Barang-barang rumah tangga harus dijual, dan Charles diberi tugas yang tidak enak dengan membawa buku keluarga berharga ke toko gadai lokal. Pada usia 12, Charles dikirim untuk bekerja di sebuah rumah beratap tanah berumput yang kotor. Ini membuat semua harapannya kandas untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Keadaan menjadi lebih buruk, ketika ayahnya berakhir di penjara debitur.

Dickens bekerja di rumah beratap tanah berumput mulai dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, dengan satu jam untuk makan malam dan 30 menit untuk waktu minum teh. Dia melakukan yang terbaik dari situasinya, dan pada waktunya menjadi jelas bagi mandor bahwa Charles berbeda. Dia tidak hanya bersikap dengan cara yang tidak seperti anak-anak lain, ia juga lebih kuat bekerja daripada mereka.

Setelah ayahnya bebas dari penjara, Charles kembali ke sekolah. Dia mempelajari metode menulis cepat dan akhirnya mendapat pekerjaan sebagai reporter parlemen —pertama untuk The True Sun, lalu Morning Chronicle. Dan ia menyumbang artikel untuk Monthly Magazine dan Evening Chronicle.

Kekecewaan terhadap Agama

Pengaruh agama pernah hadir dalam kehidupan Dickens, meskipun ia tidak terlibat dalam kegiatan keagamaan yang terlihat dengan jelas. Penulis Biografi Edgar Johnson menulis bahwa orang tua Dickens "adalah anggota Church of England, meskipun bukan yang benar-benar taat, atau tertarik pada masalah-masalah doktrin. ... Mereka bahkan tidak datang ke gereja secara teratur." Charles kecil juga mengalami khotbah membosankan pendeta Baptis William Giles. Dengan merefleksi pengalaman ini, Dickens menjadi tidak suka pada gereja. G. K. Chesterton menulis bahwa "nada Dickens terhadap agama, meskipun seperti itulah kebanyakan orang sezamannya, secara filosofis mengganggu dan agak mengabaikan secara historis, menjadi sebuah elemen yang menjadi sifat khas pada dirinya sendiri. Dia menghadapi semua prasangka itu di zamannya. Dia menghadapi, misalnya, ketidaksukaan dari dogma yang didefinisikan, yang benar-benar berarti preferensi untuk dogma yang tidak teruji."

Politik dan Gereja

Sikap ini tidak muncul secara kebetulan; dengan rapi dipertajam melalui pengalaman hidup yang tidak menyenangkan terhadap agama formal. Namun, penghinaan Dickens tidak dapat dianggap sebagai permusuhan dengan Allah atau Yesus Kristus. Dia hanya mengamati bahwa gereja, dengan semua dogma dan upacaranya, gagal menyadari, setidaknya dalam praktik, adanya kebutuhan untuk aksi sosial.

Pada tahun 1834, misalnya, Sir Andrew Agnew berusaha untuk mengesahkan sebuah RUU yang melarang rekreasi dan bekerja pada hari Minggu. Ini membuat Dickens marah, karena itu menggambarkan sisi fanatik agama yang semakin ia benci. Orang kaya menikmati liburan sepanjang minggu karena uang mereka memungkinkan mereka untuk membayar orang lain melakukan pekerjaan mereka, tetapi pekerja miskin harus bekerja enam hari, hanya tersisa hari Minggu untuk rekreasi dan kegiatan lain yang diperlukan. Sekarang para fanatik agama ingin mengambil sumber kesenangan yang singkat dari orang-orang yang paling membutuhkannya.

Dickens menyerang RUU dengan pamflet berjudul "Sunday Under Three Heads: As it is; As Sabbath Bills would make it; As it might be made." RUU itu tidak pernah diberlakukan, tapi isu itu menegaskan penghinaannya kepada religiusitas fanatik.

Dickens kemudian terlibat dengan sebuah sistem yang menarik banyak rekan intelektual: Unitarianisme. Ini memungkinkan dia untuk hidup tanpa kepercayaan dogmatis agama Kristen historis, tetapi menegaskan keberadaan kemanusiaan dan ilahi Tuhan dan misi Yesus Kristus. Dan Unitarianisme mempromosikan kesadaran sosial. Penulis Robert Browning mengatakan bahwa "Mr. Dickens adalah Unitarian yang tercerahkan." Setelah tahun 1847, bagaimanapun, ia menghadiri gereja Anglikan di dekat rumahnya. Dan, dia berdoa setiap pagi dan malam.

Menetap Sampai Sukses

Tahun 1836 adalah penting untuk Dickens. Dia menikah dengan Catherine Hogarth pada 2 April dan memulai sebuah keluarga yang akhirnya memiliki sepuluh anak. Juga, karir menulisnya diluncurkan dengan sungguh-sungguh. Chapman and Hall mempekerjakannya untuk menulis teks singkat pada serangkaian gambar olahraga oleh ilustrator Robert Seymour. Dickens memulai rencana alternatif yang melahirkan Pickwick Papers. Bersamaan dengan itu, "Oliver Twist" terbit secara berkala di Miscellany di Bentley. Dickens sekarang adalah penulis yang mapan dengan reputasi yang meningkat. Popularitasnya menyeberangi Atlantik, dan segera dia pergi ke Amerika, di mana ia disambut dengan antusias.

Dickens menyampaikan keprihatinan sosialnya ke sejumlah besar orang melalui novelnya. Dia membuatnya sebagai sebuah poin untuk mengekspos ketidakadilan. Sebuah contoh adalah kerusuhan anti-Katolik pada zaman itu. Dickens sama sekali tidak simpatik terhadap Katolik, dan ia membenci fanatisme. Pada tahun 1841 ia menulis Barnaby Rudge, yang mengekspos kebodohan masa anti-Katolik dan mereka yang mendukungnya.

"Tuhan memberkati Kita, Semua Orang"

Meskipun Dickens membenci agama yang ada, ia mempertahankan kepekaan terhadap prinsip-prinsip sosial Kristen, prinsip-prinsip yang dinyatakan dengan cukup jelas dalam salah satu novel paling populer dan menawan, "A Christmas Carol."

Ditulis ketika Dickens berusia 31, kisah tentang hantu dan keserakahan ini begitu membuat dia senang sehingga ia benar-benar menangis dan tertawa karenanya. Tokoh protagonis, Scrooge, adalah penindas, serakah, pencinta uang — seorang pria malang yang dingin, yang telah kehilangan semua rasa kebaikan. Dari semua tokoh di galeri Dickens, orang tua yang kikir adalah representasi paling mengesankan dari apa yang Dickens benci pada individu-individu dan masyarakat.

Nilai-nilai moral dan spiritual ditaburkan ke seluruh cerita yang tak ternilai harganya. Misalnya, Scrooge menyamakan kebahagiaan dengan kekayaan; ironisnya, ia adalah tokoh yang paling tidak bahagia. Scrooge menyatakan bahwa mereka yang tidak mampu merawat diri sendiri akan menolong masyarakat dengan meninggal dunia, sehingga membantu mengurangi kelebihan penduduk. Kemudian, bagaimanapun, Scrooge diambil oleh Hantu kedua untuk mengunjungi rumah karyawannya yang miskin Bob Cratchit. Scrooge tertarik dengan Tiny Tim, anak laki-laki yang menderita penyakit yang berpotensi fatal. Scrooge bertanya tentang kesehatan Tim, dan Hantu menyatakan bahwa anak itu akan mati kecuali si kikir tua mengubah jalannya. Namun, siapa yang peduli, karena "Jika dia memilih untuk mati," kata Hantu itu, "dia lebih baik melakukan itu, dan menurunkan populasi." Scrooge menjadi malu.

Akhirnya, Scrooge melihat kebodohan dari hidupnya dan berseru, "Saya bukan orang yang dulu. Saya tidak akan menjadi orang yang seperti dulu sejak pertemuan ini. "Sebuah pertobatan agama? "Keselamatan" Scrooge datang bukan dari perjumpaan dengan Kristus, tetapi perjumpaan dengan diri. Dia menampilkan pandangan Dickensian bahwa keselamatan diperoleh dengan mengasihi sesama Anda, memberikan secangkir air kepada mereka yang membutuhkan. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kegiatan tersebut merupakan hasil pertobatan rohani; bagi Dickens, mereka adalah sarana.

Sebuah Karya Rahasia Terungkap

Pada tahun 1849, Dickens menulis sebuah naskah penting yang tidak dicetak sampai tahun 1934. Karya ini sangat pribadi baginya sehingga dia meminta agar itu tidak dibuka ke publik selama 85 tahun. Karya itu menceritakan kembali mengenai kisah-kisah Injil, berjudul The Life of Our Lord. Marie Dickens, putri menantu Charles Dickens, memberikan deskripsi yang tepat untuk karya rahasia Dickens ini:

"Buku ini, karya terakhir Charles Dickens yang diterbitkan, memiliki kepentingan individu dan tujuan yang terpisah sepenuhnya dari segala sesuatu yang ditulis oleh Dickens. Terlepas dari tema Ilahinya, naskah ini secara khusus bersifat pribadi bagi novelis, dan tidak begitu banyak penyataan dari pikirannya sebagai penghormatan untuk hatinya dan kemanusiaannya, dan juga, pengabdiannya yang mendalam kepada Tuhan kita."

Dickens menulis "The Life Our Lord" supaya anak-anaknya menjadi akrab dengan Yesus Kristus, dan ia sering membacakan cerita untuk mereka. Ketika anak-anaknya meninggalkan rumah, ia memberi mereka masing-masing Perjanjian Baru (meskipun tidak seluruh Alkitab). Di salah satunya, ia menulis, "Aku meletakkan Perjanjian Baru di antara buku-bukumu, untuk alasan yang sama, dan dengan harapan yang sama yang membuat aku menulis catatan singkat untukmu, ketika kamu kecil; karena itu adalah buku terbaik yang pernah ada atau akan dikenal di dunia..." "The Life of Our Lord" paling jelas mengungkapkan disposisi agama Dickens. Dia menghormati pendiri agama Kristen, Yesus Kristus, yang mempraktikkan apa yang begitu ingin Dickens temukan dalam kemanusiaan. Yesus mengasihi semua orang. Dia ada bersama dengan orang-orang yang dibuang secara sosial, menegur elitis kaya, dan sangat mengutuk kemunafikan. Jika pernah ada seseorang yang bisa mendapatkan rasa hormat yang tertinggi dan kebaikan hati Dickens, Kristuslah orangnya, dan Dia memang mendapatkannya.

Sementara pernyataan tertentu tentang Kristus terlihat ortodoks, gambaran keseluruhan yang Dickens lukiskan tidak dapat dianggap ortodoks bila diukur dengan Alkitab atau kredo bersejarah Kekristenan. Dickens menggambarkan Yesus sebagai orang baik yang dikasihi oleh Allah seperti seorang anak. Dia menulis tentang Kebangkitan, tetapi mengabaikan Kelahiran dari Perawan dan Perjamuan Kudus, dan ia menyatakan bahwa seseorang akan diterima ke surga dengan melakukan perbuatan baik.

Namun, satu hal yang pasti: Dickens menghormati Alkitab dan Kristus dan berusaha untuk menanamkan pada anak-anaknya penghormatan yang sama. Menjelang akhir hidupnya ia menulis kepada pembaca: "Saya selalu berupaya dalam tulisan-tulisan saya untuk mengekspresikan penghormatan untuk kehidupan dan pelajaran dari Juru Selamat kami; karena saya merasakan itu; dan saat saya menulis ulang sejarah untuk anak-anak saya— masing-masing dari mereka mengetahuinya karena diulang-ulang kepada mereka —lama sebelum mereka bisa membaca, dan segera setelah mereka bisa berbicara. Tapi saya tidak pernah membuatnya diketahui oleh publik."

Urusan yang Belum Selesai

Pada tahun 1858, Dickens berpisah dari istrinya. Beberapa berspekulasi bahwa penyebab utama hancurnya pernikahan itu adalah kecenderungannya untuk menempatkan dirinya dan tulisannya sebagai yang utama. Dickens kemudian mengabdikan dirinya lebih lagi untuk berkeliling dan pembacaan publik dari karya-karyanya. Dia juga mengembangkan hubungan dengan seorang aktris muda.

Dickens memaksakan diri bekerja terlalu keras begitu lama sehingga kesehatannya mulai memburuk. Akhirnya, ia terpaksa berhenti sebagian besar dari kegiatannya berbicara di depan umum dan mengundurkan diri untuk menulis. Pada tahun 1869 ia mulai bekerja pada The Mystery of Edwin Drood, yang terhenti oleh kematiannya karena kejang pada 9 Juni 1870. Dia berusia 58. Dia dimakamkan di Poets 'Corner, Westminster Abbey.

Dalam surat wasiatnya yang terakhir, ditulis pada tanggal 12 Mei, tahun 1869, Dickens menulis, "Saya menyerahkan jiwa saya kepada belas kasihan Allah melalui Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, dan saya menasihati anak-anak saya yang terkasih untuk dengan rendah hati berusaha membimbing diri mereka sendiri dengan ajaran Perjanjian Baru dalam keleluasaan kualitasnya, dan agar tidak menempatkan iman dalam konstruksi sempit siapapun juga dari surat sini atau di sana."

Dickens menghina, dan dalam buku-bukunya dengan fasih menggambarkan ketidakadilan yang kotor dan gaya hidup yang buruk dari banyak orang yang mengklaim ajaran Kristen. Namun penelitian yang utuh mengenai hidup dan karyanya menunjukkan bahwa ia bukan pembenci Kristus atau Kekristenan. Temannya John Forster menyimpulkan bahwa surat wasiat Dickens menunjukkan "imannya yang teguh dalam agama Kristen itu sendiri, terlepas dari sekte dan perpecahan." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christianity Today
Alamat URL : http://www.christianitytoday.com/history/issues/issue-27/faith-behind-famous-charles-dickens.html
Judul asli artikel : The Faith Behind the Famous: Charles Dickens
Penulis artikel : Stephen Rost
Tanggal akses : 9 Agustus 2016

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru