Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereHimnis / Issac Watts

Issac Watts


Bapak Kidung Pujian Inggris ini memiliki keunikan dalam banyak hal. Selain tergolong pendek (tingginya hanya 5 kaki) dan sering sakit-sakitan, kepalanya pun terlalu besar serta tidak proporsional. Semua lukisan menggambarkannya dalam jubah besar dengan lipatan-lipatan yang besar -- suatu usaha agar dia tidak terlihat terlalu aneh.

Selain melayani sebagai seorang pendeta, Isaac Watts juga menulis buku ilmu logika yang digunakan selama puluhan tahun di Oxford, Cambridge, Harvard, dan Yale. Dia menulis buku tebal tentang metafisika (cabang filsafat yang mempelajari wujud benda yang sebenarnya). Bukunya yang berisi puisi anak-anak bahkan dicetak sebanyak 95 edisi dalam jangka 100 tahun.

Selain Isaac Watts, tidak ada pemikir lain yang menerbitkan sebuah karya besar yang berkaitan dengan astronomi dan katekisme berdasar tingkat umur untuk anak-anak muda (katekisme pertama untuk anak berumur 5 tahun)! Kidung-kidung pujiannya sudah diterjemahkan dalam lusinan bahasa, dari bahasa Armenia hingga bahasa Zulu.

Suaranya lemah dan semua orang sudah mengetahui perihal penyakit jiwanya yang sering kambuh (sering membuatnya tak mampu berkhotbah). Namun, pada saat dia cukup sehat untuk berkhotbah, banyak orang memegang erat-erat kata-katanya yang mereka percayai tercurah dari hati yang dibungkus dalam hati Tuhan.

Sebagai anak tertua dari delapan bersaudara, Issac lahir pada masa-masa sulit. Kaum Dissenter (kaum yang menolak menyesuaikan diri dengan gereja yang resmi) tidak hanya meniadakan jalan masuk ke universitas dan lapangan kerja; mereka juga bertanggung jawab atas penuntutan dan penghukuman terhadap orang-orang yang tetap menyembah Tuhan sesuai dengan keyakinannya. Ayah Issac, seorang kaum Dissenter, dipenjara setahun setelah menikah.

Issac tumbuh dewasa terlalu cepat. Dia sudah mempelajari bahasa Latin pada umur 4 tahun, bahasa Yunani saat berumur 9 tahun, bahasa Perancis saat berumur 11 tahun, dan bahasa Ibrani saat berumur 13 tahun. Bahasa Perancis biasanya tidak dipelajari di sekolah dasar Inggris pada tahun 1600-an, tapi Issac dibesarkan di Southampton, kota para pengungsi yang lari dari penyiksaan di Perancis. Issac muda berpikir bahwa dia harus bisa berbahasa Perancis agar dia bisa berkomunikasi dengan tetangganya.

Seorang dokter melihat bakat intelektual anak muda itu dan menawarkan dirinya untuk membiayai pendidikannya di Oxford atau Cambridge. Namun untuk diterima di salah satu universitas itu, dia harus meninggalkan keyakinan yang sudah membuatnya menderita. Dia tidak mau melakukannya. Akhirnya, dia masuk Dissenting Academy, institusi setara universitas bagi mereka yang dilarang masuk universitas. Sembari menyelesaikan pendidikan formalnya, dia menulis puisi, yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Latin.

Pada masa ini, kidung pujian dinyanyikan di gereja-gereja Inggris. Pengikut Luther (Lutheran) dari Jerman sudah menyanyikan kidung pujian selama lebih dari 1 abad. Sedang pengikut Calvin (Calvinis) di Perancis dan Swiss tidak. Calvin ingin pengikutnya hanya menyanyikan Kitab Mazmur. Sementara umat Calvinis Inggris juga hanya menyanyikan Kitab Mazmur yang memunyai irama. Komposisi iramanya kaku ("Tapi kita akan mengingat nama-Nya atau nama Tuhan Allah sendiri"), suasananya membosankan, dan suasana ibadahnya suram. Suatu ketika, Isaac tidak tahan lagi dengan situasi seperti itu. Sekembalinya dari ibadah hari Minggu pagi, dia dengan bersemangat mengeluh kepada ayahnya tentang nyanyian Mazmur yang membosankan, yang membuat orang berhenti memuji Tuhan. "Mengapa kamu tidak menulis kidung pujian yang lebih baik?" tantang ayahnya. Sepanjang siang, Watts hanya mencoba membuat kidung pujian, dan pada ibadah malam penyembahan pada hari itu juga, jemaat menyanyikan kidung pujian #1, "Lihatlah kemuliaan Anak Domba" ("Behold the glories of the Lamb"). Kemudian 696 kidung pujian lain menyusul.

Tidak semua orang berterima kasih kepadanya. Beberapa teman sebayanya mengeluhkan kidung pujian yang diciptakannya "terlalu duniawi" bagi gereja. Salah satu kritik mengatakan, "Jemaat Kristen telah menghilangkan mazmur yang kudus dan terbawa terbang dalam khayalan Watts!" Kidung pujiannya membuat banyak orang marah, jemaat terpecah belah (khususnya jemaat yang pernah dilayani oleh John Bunyan, penulis literatur Inggris klasik, bertahun-tahun sebelumnya), dan membuat banyak pendeta dipecat.

Watts, seperti pencipta kidung pujian lain pada zamannya, menulis tentang penjamahan hati manusia oleh Allah dan Allah yang menjadi manusia sesuai dalam pemahaman kita. Namun demikian, keunikan Watts terlihat dalam penekanannya terhadap latar belakang pergaulan Allah dengan hati manusia: kosmos dari kebesaran-Nya yang tak dapat diungkapkan. Watts melihat drama turunnya Allah menjadi manusia dan penyaliban, kematian, dan kebangkitan, sebagai peristiwa-peristiwa kecil yang pada kenyataannya memiliki makna kosmik. Dunia Watts lebih besar dari yang penulis kidung pujian lain bayangkan. (Mungkin dunia seperti itulah yang seorang ahli astronomi harapkan!)

Yakin akan kebesaran Tuhan dan tenggelam dalam kerinduan akan Tuhan, Watts sendiri memiliki pengalaman bersama Tuhan yang paling berarti.

Palingkan, palingkan kami Allah yang penuh kuasa,

Dan bentuklah lagi jiwa kami;

Hancurkan, yang kuasa, hati yang terbuat dari batu ini,

Dan beri kami hati yang terbuat dari daging.

Ketika berusia 50 tahun, Watts merupakan seorang tokoh nasional yang dihormati oleh kaum Anglikan dan Dissenter. John Wesley (kaum Anglikan) telah sejak lama mengakui kejeniusan, kedisiplinan, dan ketaatan Watts. Dan saat Wesley menerbitkan buku kidung pujiannya yang pertama, sepertiga kidung pujian yang ada di buku itu adalah ciptaan Watts. Dia adalah seorang teolog yang handal, dia menemui 44 halaman dari tulisannya yang berjudul "Ruin and Recovery" di buku karangan Wesley yang berjudul "The Doctrine of Original Sin".

Sebagaimana ketidaklazimannya dalam penampilan, talenta, produktivitas, dan sejarah penyakit jiwa, Watts juga sama sekali tidak lazim dalam satu hal yang penting. Seperti semua orang Kristen, ahli logika ini sadar bahwa Tuhan itu dikasihi dengan pikiran, dan karena itu, rasio tidak boleh diabaikan dalam pengalaman iman atau kedisiplinan kehidupan Kristen. Tapi dia sadar bahwa misteri Tuhan, meski selalu rasional, tapi lebih dalam dari samudera atau segala macam rasio.

Di mana alasan tidaklah cukup,

Dengan semua kekuatannya,

Di sanalah iman berlaku

Dan kasih dimuliakan. (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Judul asli artikel : Isaac Watts
Nama situs : Victorshepherd.on.ca
Penulis : Victor Shepherd
Alamat URL : http://www.victorshepherd.on.ca/

 

Sumber: Bio-Kristi 44

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru