Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereTokoh Alkitab / Abraham

Abraham


Bentuk singkat dari kata Abraham adalah Abram, yang hanya disebutkan di Kitab Kejadian 11:26-17:4, sedangkan kata Abraham dapat ditemui di bagian lain dalam PL, kecuali 1 Taw. 1:27 dan Neh. 9:7. Etimologi Abram tidak jelas, namun kemungkinan berarti "bapa mulia". Abraham merupakan variasi dari nama Semitic Barat, yaitu A-ba-ra-ma, yang muncul dalam teks tulisan kuno baji dari abad 19 dan 18 SM. Bentuk panjangnya, Abraham, kemungkinan besar merupakan perpanjangan dialektika kata Abram, yang mencerminkan tulisan kuno baji A-ba-am-ra-ma dan A-ba-am-ra-am. Dalam Kej. 17:5, Abraham diartikan sebagai "bapa banyak bangsa", dan meskipun tidak ada akar kata "rhm" yang berarti "banyak bangsa" dalam bahasa Ibrani, namun ada istilah Arab yang cocok (ruham). Meskipun demikian, etimologi kedua nama itu tidak pasti.

RIWAYAT ABRAHAM

Abraham adalah keturunan dari Sem dan anak dari Terah, dan menjadi nenek moyang orang Ibrani dan bangsa-bangsa lainnya (Kej. 17:5). Sejarah pribadinya tercatat di Kej. 11:27b-25:12, dan muncul melengkapi salah satu dari sebelas sumber catatan Mesopotamia yang mendasari Kitab Kejadian. Bagian ini mungkin berjudul "Abram, Nahor, dan Haran" (11:27b), dan cerita itu diakhiri dengan frasa khas Mesopotamia, "inilah keturunan ...." di 25:12. Frasa ini nampaknya menyertakan karakteristik usaha penulisan tanggal berkaitan dengan masa saat Ishak tinggal di Lahai-Roi (25:11), dan untuk menunjukkan bahwa catatan keluarga ini selama beberapa waktu dimiliki oleh Ismael, saudara laki-laki Ishak. Bahan ini, yang terangkum di Kis. 7:2-8, menyatakan bahwa Abram lahir di tanah Ur-Kasdim, di mana Ia tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya, dan akhirnya dengan istrinya, Sarai.

Setelah saudaranya, Haran, mati, Abram bersama dengan istrinya, ayahnya, dan Lot, keponakannya, pindah ke Haran, suatu kota kira-kira dua puluh mil Tenggara Edesssa di Lembah Balikh, di mana Terah kemudian mati (11:26-32). Setelah mendengar panggilan Allah, Abraham bersama Sarai dan Lot pindah dari Haran ke Sikhem dan Bethel sebelum mereka ke Mesir untuk menghindari kelaparan di Kanaan. Di sanalah Firaun ingin menjadikan Sarai sebagai selirnya, karena ia mengira bahwa Sarai adalah adik Abram (12:13). Meskipun pernyataan Abraham menanggapi situasi tersebut secara teknis adalah benar (20:12) dan lebih jauh lagi mencerminkan hubungan adopsi istri-saudara perempuan bangsa Huri, namun hal ini tidak sepenuhnya benar.

Setelah meninggalkan Mesir, ia kembali ke Betel dan akhirnya berpisah dengan Lot, yang memilih untuk menggembalakan ternaknya di Lembah Yordan yang subur (13:1-14). Setelah menerima janji dari Allah bahwa dia akan memiliki seluruh tanah di Efrat, Abram pergi ke Mamre. Koalisi Mesopotamia di bawah perintah Kedorlaomer menyerang dan menghancurkan Sodom dan kota-kota lainnya, tetapi para penyerang itu dikejar oleh Abram dan sekutunya, bangsa Amori, dan dikalahkan di dekat Damaskus (14:1-16).

Meskipun Abram yang tidak memunyai anak telah mengambil Eliezer, hambanya, sebagai ahli warisnya, dia dijanjikan akan mendapatkan keturunan dari istrinya, Sarai. Hal ini dinyatakan melalui suatu perjanjian (Kej. 15). Pada saat itu, Abram telah memunyai anak dari hamba Sarai, Hagar, sesuai dengan budaya setempat, dan tekanan dalam rumah tangga itu selanjutnya membuat Hagar melarikan diri, tetapi karena suatu mukjizat, kembalilah ia kepada Sarai (pasal 16). Tiga belas tahun kemudian, Tuhan menggenapi janjinya, ditandai dengan penyunatan Abram dan digantinya nama Abram menjadi Abraham, dan Sarai menjadi Sara (pasal 17). Janji ini diberikan di Mamre melalui penampakan lain (pasal 18), meskipun Sara tidak memercayainya; dan akhirnya Sodom dan Gomora dihancurkan. Dari Mamre, Abraham pergi ke utara Kanaan, tinggal beberapa waktu lamanya di dekat Gerar. Pada saat Abraham berencana untuk membuat perjanjian untuk mendapatkan hak atas tanah di Bersyeba, Raja Filistin, yaitu Abimelekh, menginginkan Sara, sama seperti raja Mesir sebelumnya. Abraham kembali mengakui bahwa ia memiliki hubungan istri-saudara perempuan dengan Sara, dan hasilnya sama seperti yang terdahulu (pasal 20). Pada saat Abraham berusia seratus tahun, Sara melahirkan Ishak dan tekanan-tekanan dalam rumah tangga membuat Sara mengusir Hagar dan anaknya, Ismael. Tindakan ini bertentangan dengan budaya pada saat itu, dan membutuhkan penampakan lebih lanjut untuk membenarkan tindakan itu (pasal 21).

Peristiwa dramatis yang menguji iman Abraham adalah peristiwa saat Ishak hampir menjadi korban persembahan (Kej. 22:1-14), setelah janji-janji itu dinyatakan lagi. Tak berapa lama kemudian Sarah mati dan dikuburkan di sebuah gua di Makhpela, yang dulunya dibeli Abraham dari orang Hebron (pasal 23). Pada masa tuanya, Abraham menikahi Keturah, yang melahirkan nenek moyang bangsa Dedan dan Midian. Ia juga meyakinkan bahwa Ishak, anaknya, akan menikah dengan salah satu anggota keluarganya, dan akhirnya Ishak menikahi cucu buyut kemenakan perempuan Abraham, Ribka (pasal 24). Di masa tuanya, dia memberikan pemberian kepada anak-anak dari gundik-gundiknya dan memulangkannya ke daerah timur, membuat Ishak menjadi pewaris tunggal kekayaannya. Akhirnya Abraham mati pada usia 175 tahun dan dikubur bersama Sara di Gua Makhpela. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Judul asli artikel : Abraham
Judul buku : The International Standard Bible Encyclopedia; Volume One: A-D
Editor : Geoffrey W. Bromiley
Penerbit : William B. Eerdmans Publishing Company, Grand Rapids 1979
Halaman : 15 -- 16

 

Sumber: Bio-Kristi 27

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru