Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herePenjara Wanita / Elizabeth Fry

Elizabeth Fry


Seorang wanita berusia 32 tahun, ibu dari delapan orang anak ini terkejut ketika melihat kesengsaraan yang terjadi di Balai Pengobatan Penjara Newgate London, Inggris. Ia bersama dengan seorang temannya tergerak membawa pakaian-pakaian flanel untuk semua bayi dan membeli jerami dari sipir penjara untuk alas tempat tidur para pasien di tempat tersebut.

Beberapa hari kemudian, Elizabeth kembali lagi ke Newgate untuk membagikan pakaian kepada para narapidana wanita dan berdoa bersama mereka. Pada saat itu, ia belum menyadari bahwa pertemuannya yang singkat pada tahun 1813 dengan para narapidana wanita itu merupakan awal dari pelayanan seumur hidupnya yang telah menyentuh hati banyak orang untuk datang kepada Yesus Kristus.

Elizabeth Fry yang dilahirkan di Norwich, Norfolk, Inggris, pada tahun 1780, adalah seorang dari tujuh anak perempuan dan lima anak laki-laki dari keluarga John Gurney. Ayahnya adalah penyortir mutu wol dan bankir terkemuka yang kaya. Keluarga ini rajin menghadiri pertemuan-pertemuan Quaker (suatu aliran kekristenan yang menentang perbudakan di Amerika Serikat), namun iman mereka yang sesungguhnya hanyalah iman Kristen KTP (Kartu Tanda Penduduk) -- sebatas status.

Sekalipun Elizabeth Fry seorang yang gemar dengan kehidupan hura-hura dan suka berkelakar, namun ternyata di dalam lubuk hatinya tersimpan pertanyaan yang menggelitik. Seperti diungkapkannya dalam buku hariannya yang menggambarkan bagaimana perhatian serta aspirasinya dalam masalah kerohanian. Ia menulis, "Saya suka menyaksikan keindahan alam sampai kepada sifat Allah. Saya tidak memunyai agama lain kecuali itu, dan saya sama sekali bukan orang yang saleh." Kehidupan agama yang kaku itulah yang dianutnya sampai menjelang usia yang kedelapan belas.

Akan tetapi, sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang kedelapan belas, suatu perubahan terjadi. Seorang pendeta Quaker berkebangsaan Amerika, William Savery, berkhotbah dalam pertemuan keluarga Norwick Friends pada tanggal 4 Februari 1798. Khotbah dalam kebaktian hari itu sangat memengaruhi Elizabeth. Pada pertemuan sore berikutnya, ia pulang naik kereta bersama dengan pendeta yang telah bercakap dengan dia "secara serius". Saat itu, demikian cerita Elizabeth, "Nasihat firman Tuhan yang diperbincangkan laksana air hujan yang menyegarkan, yang jatuh ke tanah, setelah kering selama berabad-abad."

Dalam catatan hariannya, anak perempuan pendeta itu menulis, "Saat itu adalah tanggal 4 Februari 1798, ketika Elizabeth Gurney tampil untuk pertama kalinya dalam acara Pertemua Friends di Norwich. Pengertiannya telah dibukakan sehingga ia menerima Injil Kristus." Perubahan yang radikal terjadi. Kegemarannya akan pesta dan dansa telah berganti dengan rasa belas kasihan terhadap kaum papa. Setiap orang terheran-heran melihat perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Mantan tokoh mode tersebut kini mengumpulkan anak-anak miskin untuk diajar. Ketika jumlah mereka bertambah, mau tak mau ia harus menyediakan sebuah ruangan kosong untuk menampung mereka. Murid sekolahnya semakin bertambah menjadi 70 orang, padahal tenaga pengajarnya hanya Elizabeth Fry seorang diri.

Pada tanggal 19 Agustus 1800, Elizabeth Gurney menikah dengan Joseph Fry, seorang saudagar dari London. Pasangan tersebut menetap di London. Di sanalah mereka tinggal seumur hidup mereka. Dalam 10 tahun pertama pernikahan mereka, pasangan ini sudah memunyai enam orang anak. Jumlah buah cinta mereka 11 orang: 5 laki-laki dan 6 perempuan. Tekanan-tekanan yang mereka alami dalam membina rumah tangga baru, membesarkan anak, menjamu para tamu, serta menjalankan kewajiban-kewajiban di rumah pertemuan keluarga Friends, mengakibatkan aktivitas Elizabeth di luar rumah menjadi terbatas.

Pada tahun 1811, Lembaga Friends mengakui Elizabeth Fry sebagai pendeta. Ia merupakan seorang pengkhotbah dan guru yang disegani dalam pertemuan-pertemuan Friends, namun ia juga rindu untuk dipakai Allah menjangkau orang-orang di luar masyarakat Kristen. Penyingkapan yang singkat pada tahun 1813 mengenai kehidupan narapidana wanita di Penjara Newgate telah menggerakkan hatinya yang terdalam, namun pada saat itu ia merasa bahwa ia belum dapat membaktikan dirinya dalam suatu pelayanan yang terus-menerus.

Empat tahun kemudian, seorang pendeta tamu Quaker berkebangsaan Amerika, Stephen Grellet yang sedang berkunjung, menantang Elizabeth untuk mengunjungi dan melayani para narapidana wanita di Newgate. Lembaga ini digambarkan oleh John Wesley pada tahun 1761 sebagai berikut: "Saya kira, dari semua tempat mengerikan yang ada, hanya beberapa, yang kondisinya melebihi atau bahkan sama dengan keadaan di penjara Newgate." Dalam kurun waktu 56 tahun sejak Wesley menulis tuduhan itu, penjara tersebut hanya mengalami perubahan sedikit.

Ternyata keganasan para narapidana wanita di penjara Newgate melebihi keganasan para narapidana pria, dan para penjaga pria yang bertubuh besar dan tegap sekalipun tidak pernah berani masuk sendirian ke dalam penjara itu. Itulah sebabnya para sipir penjara itu terkejut ketika wanita Quaker yang sedang berkunjung ini bersikeras untuk masuk sendirian dan ia tetap mengenakan arloji dan rantainya.

Setelah Elizabeth memasuki ruangan yang penuh sesak itu, ia segera berada di tengah-tengah sekelompok narapidana. Lalu ia menggendong seorang anak yang kotor sambil memberi isyarat agar mereka semua tenang. Ia memberitahu mereka bahwa ia juga seorang ibu. Tentu saja mereka tidak segan-segan mengemukakan keprihatinan yang dalam tentang masa depan anak-anak mereka.

Elizabeth mengusulkan untuk mulai mendirikan sebuah sekolah bagi anak-anak di dalam penjara tersebut, dan juga bagi narapidana yang lain, yang ingin mendapat pendidikan. Waktu begitu cepat berlalu sementara mereka sedang membuat rencana. Sebelum pulang, Elizabeth berjanji akan segera kembali dan meminta agar mereka memilih salah seorang dari antara mereka untuk menjadi guru.

Hambatan terbesar yang dihadapi Elizabeth saat itu adalah ketidakpercayaan para petugas penjara terhadap dirinya. Dengan menggambarkan usul Elizabeth itu sebagai suatu "usaha kemanusiaan, tetapi hampir tidak ada harapan, hanya sebagai percobaan", mereka menjelaskan bahwa para narapidana wanita di penjara itu adalah orang-orang yang perilakunya "tidak dapat diperbaiki, bahkan tak dapat dipulihkan". Namun Elizabeth Fry tetap teguh pada pendiriannya, dengan dibantu oleh Komisi Kaum Wanita Newgate yang telah dikelolanya. Komisi ini berhasil menyediakan kebutuhan Mary Connor, seorang narapidana yang terpilih menjadi guru. Pada hari pertama, 30 orang anak mendaftarkan diri di sekolah tersebut, sementara itu para anggota Komisi Newgate Wanita lainnya mengajarkan berbagai keterampilan praktis seperti menjahit dan merajut kepada para narapidana wanita.

Elizabeth Fry adalah seorang konselor, pengerja, dan pengajar Alkitab yang sulit ditandingi. Salah seorang yang menjadi buah sulung pelayanannya ini ialah guru Mary Connor. Dialah orang pertama dalam kelompok petobat baru yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus hasil kesaksian Elizabeth Fry kepada para wanita di penjara itu. Kerja keras kelompok Newgate terbukti berhasil dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan para narapidana wanita tersebut sungguh luar biasa sehingga mendorong walikota London dan para petinggi lainnya untuk menggabungkan rencana tersebut ke dalam sistem pemerintah kota yang menyeluruh.

Elizabeth Fry mendapat izin untuk memberitakan Injil kepada para narapidana wanita lainnya. Seorang peninjau bercerita tentang satu kesempatan, ketika Elizabeth Fry menghadapi 100 orang narapidana, "Amanatnya singkat," kenangnya, "dan begitu sederhana sehingga dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Air mata mereka mengalir tak tertahankan, mungkin belum pernah ada orang-orang yang mencucurkan air mata sederas waktu itu. Saya menemukan suatu hal yang sangat luar biasa dalam khotbahnya saat itu, yang begitu kuatnya sehingga mampu memenangkan hati para wanita yang terbuang ini. Elizabeth selalu menyamakan dirinya dengan mereka, sehingga ia tidak pernah berkata kalian tetapi memakai kata kita."

Melalui pembacaan Alkitab dan khotbah yang disampaikan "wanita Quaker" ini, banyak wanita menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Pada waktu ia mengunjungi penjara di Britania, ia selalu diminta oleh para narapidana untuk membaca ayat-ayat Kitab Suci dan ia dengan senang hati menerima tawaran itu. Kecuali itu, Elizabeth juga menganjurkan agar dibentuk komisi penjara lokal wanita Kristen, sebab kelanjutan dari persekutuan pribadi yang teratur dengan para wanita Kristen yang lain sangat dibutuhkan dalam menjalankan suatu pelayanan yang efektif.

Perubahan mengagumkan yang terjadi di Newgate segera menjadi buah bibir setiap orang. Yang sebelumnya merupakan tempat penyelewengan, kekerasan, dan perbuatan jahat lainnya, sekarang penjara narapidana wanita itu berubah menjadi tertib. Para narapidana itu menjadi rajin belajar. Kata-kata kutukan yang biasanya terlontar dari mulut mereka kini berubah menjadi kata-kata pujian. Kabar mengenai perubahan yang radikal ini tersebar ke seluruh Eropa, dan dalam kurun waktu hanya tiga tahun, banyak raja di negara Eropa menulis surat kepada Elizabeth untuk meminta nasihat, baik mengenai pembaruan penjara maupun masalah pelayanan.

Hati Elizabeth Fry tersentuh melihat keadaan menyedihkan yang dialami para narapidana wanita Newgate dan penjara lainnya yang diasingkan ke Australia. Mereka dibawa dengan kereta terbuka menuju ke dermaga dalam keadaan terbelenggu. Para narapidana wanita tersebut menaiki kapal yang sangat sederhana dan tidak diberi petunjuk apa pun dalam pelayaran mereka.

Elizabeth Fry menggunakan pengaruhnya untuk menghadap para penguasa agar mereka menempatkannya sebagai penanggung jawab masalah transportasi para narapidana wanita tersebut. Ia menjamin adanya perubahan besar -- tidak ada lagi belenggu, mereka akan dibawa dengan kereta-kereta tertutup, mengatur para wanita di dalam kapal menjadi beberapa kelompok, dan menentukan kelas-kelas bagi anak-anak mereka. Komisi yang dibentuk Elizabeth Fry bahkan membekali setiap narapidana wanita dengan sebuah kotak praktis yang berisi: Alkitab, sisir, alat-alat makan, gunting, dan peralatan menjahit dalam jumlah yang banyak.

Pada malam sebelum keberangkatan mereka, Elizabeth Fry tinggal bersama mereka di penjara sampai larut malam. Ia membacakan Alkitab, menghibur, dan berjanji untuk ikut menemani mereka sepanjang perjalanan menuju kapal keesokan harinya. Ketika kapal yang membawa mereka kembali dari perjalanannya, kapten kapal tersebut melaporkan bahwa telah terjadi perubahan yang besar dalam pelayaran itu.

Selama 25 tahun (1818-1843), Elizabeth Fry yang mengalami sakit parah masih tetap mengunjungi mereka dan mengatur setiap kapal yang membawa para narapidana menuju daerah koloni. Ada 106 kapal yang diaturnya untuk membawa 12.000 narapidana wanita.

Surat-surat dari Australia yang disampaikan kepada Elizabeth Fry dari "para gadisnya" berisi laporan yang menggembirakan. Banyak di antara mereka yang menceritakan kemajuan kehidupan kekristenan mereka dan ucapan terima kasih mereka atas kesaksian dan pelayanan Elisabeth Fry. Pada tahun-tahun berikutnya ia menerima surat-surat serupa yang tak terhitung banyaknya dari Britania. Komunikasi melalui surat seperti ini disambut gembira, terutama setelah tahun 1843 ketika kesehatan Elizabeth Fry semakin memburuk sehingga ia harus melewatkan waktunya lebih lama di tempat tidur. Saat terakhirnya tiba pada tanggal 12 Oktober 1845 dalam usia 65 tahun, sang pembaru penjara yang masyur dan pekabar Injil berpengalaman ini, membebaskan rohnya dari rumah "penjara"-nya, yaitu tubuhnya sendiri.

Sumber: Decision November 1994

Diambil dari:

Judul majalah : No. 644, Tahun ke-68, Januari 1998
Judul asli artikel : Elizabeth Fry: Sahabat Narapidana
Penulis artikel : Leslie K. Tarr
Halaman : 41 -- 45

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru