Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereAtlet Kristen / Eric Henry Liddell

Eric Henry Liddell


Sejak berusia enam belas tahun, Eric Liddell sudah menunjukkan bakat alaminya yang luar biasa. Saat itu, ia ditunjuk sebagai kapten regu kriket [permainan bola menggunakan tongkat pemukul, Red.] dan merupakan pemegang rekor lari 100 yard (91,44 meter). Pada tahun 1920, Eric menjadi mahasiswa di Universitas Edinburg. Dalam kurun waktu yang singkat, Eric menjadi bintang universitas di bidang atletik. Setelah beberapa saat, namanya segera menjadi pusat perhatian di seluruh tanah Skotlandia dan seluruh kerajaan Britania karena prestasinya yang luar biasa dalam berbagai kejuaraan atletik internasional. Pada tahun 1924, Eric mencapai puncak kejayaannya dalam bidang atletik setelah memenangkan medali perunggu dalam cabang lari 200 meter dan medali emas dalam cabang lari 400 meter kejuaraan Olimpiade di Paris.

Skotlandia sangat menyanjung anak muda ini. Di lapangan olahraga, Eric menunjukkan stamina, kegigihan, dan sportivitas yang tinggi. Kepolosan dan kerendahan hatinya juga mendapat tempat di hati masyarakat Skotlandia. Pada hari wisudanya, Eric dimahkotai dengan karangan bunga zaitun sebagai lambang kejayaannya di arena Olimpiade dan diarak sepanjang jalan Edinburgh. Setahun kemudian, ketika Eric memutuskan untuk melayani di Cina sebagai misionaris, ia kembali diarak ke stasiun kereta api. Di Jepang dan Cina, walaupun jauh dari publikasi kesuksesannya, Eric acap kali diminta untuk tampil di arena olahraga. Kepopuleran Eric yang mencapai belahan dunia timur terlihat dari sanjungan penonton setiap kali ia tampil.

Dalam masa pelayanannya di Asia Timur, Eric mendapat kesempatan untuk kembali ke Inggris sebanyak dua kali. Masyarakat tetap memberikan perhatian kepada Eric walaupun ia sudah tidak berkecimpung lagi dalam bidang olahraga. Saat Eric meninggal pada tahun 1945, upacaranya diperingati di seluruh dunia. Beberapa tahun setelah itu, berbagai yayasan dan organisasi dibentuk untuk menghormati Eric Liddell.

Hari Sabat

Di arena Olimpiade Paris, Eric memutuskan sesuatu yang mengejutkan dunia. Eric menolak untuk bertanding di arena lari 100 yard, cabang spesialisasinya, karena pertandingan itu diadakan pada hari Minggu. Eric memegang teguh keyakinannya untuk menguduskan hari Minggu sebagai harinya Tuhan.

Keputusan Eric mendapat kritikan tajam dari khalayak ramai. Publik menuduhnya tidak patriotik (karena menyebabkan hilangnya kesempatan Skotlandia untuk meraih medali emas). Di bawah tekanan besar untuk mempertahankan keyakinannya, Eric layak mendapatkan penghormatan atas keteguhannya, dan memang pada akhirnya ia mendapatkan hal itu. Ketaatan rohani yang sama terlihat dari tulisannya yang menantang semua umat Kristen: "Tanyalah pada dirimu sendiri, 'Kalau saya mengetahui sesuatu adalah kebenaran, apakah saya siap untuk mengikutinya, walaupun hal tersebut bertentangan dengan keinginan saya, atau berlawanan dengan apa yang saya percaya sebelumnya. Apakah saya akan mengikutinya walaupun banyak orang akan menertawakan saya, atau akan menyebabkan saya rugi secara materi, atau menyebabkan saya menderita kesusahan.'"

"Dia yang Meninggikan Namaku Akan Kutinggikan"

Penolakannya untuk lari di cabang 100 yard [pada hari Minggu] menunjukkan kepatuhannya kepada Tuannya di Surga dengan risiko menerima kemarahan dari tuannya di dunia. Sebelum pertandingan lari 400 yard (365,76 meter) dimulai, salah satu pelatih Eric menyelipkan kertas kecil yang berisi kutipan dari 1 Samuel 2:30, "'Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati'. Semoga berhasil dan selamat berjuang." Pelatih itu tidak salah. Eric memenangkan medali emas untuk cabang lari tersebut. Seandainya Eric tidak memenangkan medali emas pada saat itu pun, kepatuhannya terhadap perintah Tuhan patut mendapatkan medali emas. Hidup Eric pada tahun-tahun selanjutnya ditandai dengan keputusan-keputusan yang konsisten dengan kepatuhan dan kesetiaan Eric kepada Kristus.

Karier Eric tidak dapat dipisahkan dari kekristenan. Kalau Eric tidak bisa diterima khalayak ramai sebagai pelari Kristen, ia tidak akan mau menjadi pelari sama sekali. Eric tidak bisa menerima bahwa imannya kepada Kristus hanyalah hal pribadi antara ia dan Tuhan. Baginya, hidup sebagai orang Kristen adalah hidup yang bersaksi bagi kemuliaan Kristus, dalam setiap waktu dan dalam segala keadaan. Seandainya cerita kejayaan Eric Liddell berakhir di sini, biografi ini hanya akan menjadi cerita salah satu dari sekian banyak orang yang berhasil dalam hidupnya. Rekor dunia yang dipecahkan Eric pada tahun 1924 sudah ditumbangkan dan dilampaui oleh atlet-atlet dunia lainnya. Akan tetapi, Eric Liddell meninggalkan pada dunia suatu contoh kehidupan yang mencerminkan kepatuhan yang "tidak tawar-menawar" kepada Kristus. Setiap kali Eric akan membuat suatu keputusan, ia selalu bertanya pada diri sendiri. "Apakah hal yang akan saya buat sesuai dengan kehendak Tuhan atas hidup saya?"

Cina

Saat masih di universitas, Eric diminta untuk menjadi anggota "Glasgow Students Evangelistic Union" (GSEU), suatu perkumpulan mahasiswa Kristen yang aktif memberitakan Kristus pada masyarakat Skotlandia. Seorang anggota muda dari GSEU merasa bahwa nama besar Eric akan menjadi magnet bagi masyarakat Skotlandia untuk mau mengenal Tuhan. Ketika anggota GSEU tersebut minta kesediaan Eric untuk menjadi anggota dan pembicara dalam perkumpulan tersebut, pelari terkenal itu menunduk sesaat dan berdoa menyerahkan dirinya untuk menjalankan kehendak Tuhan. Kejadian itu menjadi titik permulaan bagi sesuatu yang baru dalam kehidupan Eric waktu itu: menjadi saksi Tuhan melalui suaranya, berkhotbah. Eric dipakai Tuhan secara luar biasa. Banyak orang yang semula hanya datang karena nama Eric, menerima Tuhan setelah mendengar khotbah-khotbah Eric.

Tuhan rupanya mempunyai rencana yang lebih indah lagi bagi Eric. Begitu Eric menyelesaikan kuliahnya, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke daratan Cina untuk menjadi guru di sekolah bernama Tientsin Anglo Chinese College. Tianjin [ejaan modern untuk Tientsin, Red.] adalah tanah kelahiran yang ditinggalinya selama 23 tahun sebelumnya, ketika orang tua Eric menjadi misionaris di Cina. Keputusannya untuk datang ke Tianjin juga adalah karena ketaatan dan kepekaan Eric atas rencana Tuhan dalam hidupnya. Bukan Eric kalau dia tidak dengan giat bersaksi pada semua murid-muridnya mengenai keselamatan melalui Kristus. Selama 12 tahun berikutnya, Eric menjadi guru di sekolah tersebut dan menjadi saksi bagi Tuhan Yesus.

Tantangan selanjutnya sudah menunggu. Eric harus membuat keputusan untuk menerima tugas pengabaran Injil di daerah pedalaman Xiaozhang. Pengabaran Injil di Xiaozhang bukanlah hal yang mudah karena daerah itu berada dalam keadaan perang (waktu itu Jepang sudah menjalankan misi ekspansinya ke daratan Cina). Jika ia menerima tantangan ini, berarti Eric harus berpisah dari istrinya yang baru dinikahinya 3 tahun sebelumnya. Selama setahun, Eric bergumul dalam doa dan akhirnya ia menerima tugas itu sebagai panggilan yang pasti dari Tuhan.

Belas kasihan Eric kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus begitu memotivasinya untuk melakukan hal-hal yang sering membahayakan jiwanya sendiri. Sering kali, Eric harus masuk ke garis depan medan pertempuran untuk membawa prajurit yang terluka, tidak mempedulikan kewarganegaraan prajurit tersebut, untuk menerima perawatan di rumah sakit misi. Di bawah bayang-bayang pesawat terbang tentara Jepang dan di tengah deru mesiu yang tidak berhenti, Eric menunjukkan bahwa Kristus mengasihi manusia, apa pun kebangsaannya, dengan kesediaannya untuk melayani siapa saja yang memerlukan, tanpa ragu-ragu mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri.

Hidup para misionaris menjadi terancam ketika Jepang menyatakan perang kepada Inggris. Banyak misionaris dari Eropa meninggalkan daratan Cina untuk menunggu waktu yang lebih baik untuk kembali ke Cina. Banyak juga yang bersikeras untuk tinggal di Cina, dan Eric adalah salah satunya. Jepang akhirnya mengumpulkan seluruh misionaris asing di suatu kamp interniran di daerah Weihsien [sekarang bernama Weifang, Red.]. Eric kembali menjadi suara Tuhan di kamp tersebut. Eric memimpin pertandingan olahraga di antara para tahanan, menguatkan iman para tahanan, menghibur orang-orang yang kehilangan harapan, dan mengajarkan pelajaran sekolah kepada anak-anak para tahanan. Eric bekerja begitu keras sehingga akhirnya kesehatannya menurun dengan cepat. Tanpa diketahuinya, di kepalanya tumbuh tumor otak yang ganas. Hanya dalam beberapa minggu setelah Eric sakit, pada tanggal 21 Februari 1945 Eric dipanggil untuk menerima upah ketaatannya dari Bapanya yang di surga.

Ketaatan Eric Liddell, dari kejadian di Olimpiade Paris hingga di kamp Weihsien, menjadi suatu tantangan yang indah bagi semua orang Kristen. Ia menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk berbuat baik kepada semua orang, menjadi saksi bagi Tuhan Yesus, dan menjadi contoh ketaatan pada panggilan Tuhan. Itulah citra yang ditinggalkan Eric bagi kita semua.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : misi.sabda.org
Alamat URL : http://misi.sabda.org
Judul asli artikel : Eric Liddell -- Lebih dari Pemenang
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 25 April 2013

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru