Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereKomponis Musik Orkestra / George Frederic Handel

George Frederic Handel


Diringkas oleh: Sri Setyawati

George Frederic Handel lahir pada tahun 1685. Handel adalah seorang Jerman dan dibesarkan di lingkungan Lutheran. Dia hidup sezaman dengan Bach. Namun, Handel dan Bach tidak pernah bertemu. Walaupun banyak buku riwayat komponis-komponis besar menyebutkan Bach lebih awal, faktanya Handel lahir beberapa minggu lebih dulu, yaitu 23 Februari 1685. Ayah Handel adalah seorang "ahli pemangkas rambut" yang praktis dan polos. Dia memutuskan untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah hukum. Meskipun Handel muda sudah menunjukkan bakat musik yang istimewa, ayahnya tidak mengizinkannya untuk masuk sekolah musik.

Saat Handel berusia sekitar 8 atau 9 tahun, seorang bangsawan Jerman mendengarkan dia memainkan organ saat mengiringi ibadah. Bangsawan itu meminta ayah Handel agar memberikan pelatihan musik secara formal untuk anaknya. Beberapa tahun kemudian, saat Handel berusia 12 tahun, ia sudah mengarang lagu dan memainkan organ dengan begitu mahir. Tidak jarang dia menggantikan gurunya untuk memainkan organ. Pada suatu hari Minggu, setelah menghadiri ibadah di sebuah gereja di luar kota, Handel bertanya kepada seorang organis di sana apakah dia boleh memainkan organ. Ketika jemaat-jemaat mulai meninggalkan gereja, Handel memainkan organ dengan begitu memukau, sehingga orang-orang yang akan pulang, kembali ke tempat duduknya dan tidak mau beranjak pergi. Petugas organis menghentikannya, dan memintanya untuk tidak memainkan organ jika seluruh jemaat belum pulang.

Pada tahun 1706 -- 1710, dia pergi dan menetap di Itali. Di sana, dia bekerja sebagai anggota musik istana. Dia menjadi pemain biola, dan mengarang lagu untuk teater opera Hamburg. Setelah itu, dia hijrah ke Roma. Di Roma, dia menulis karya musik dan orkestra bertema religius yang pertama -- "The Resurrection". Di Itali, dia bertemu dengan beberapa musisi sezamannya, salah satunya Domenico Scarlatti.

Pada tahun 1712, setelah beberapa waktu tinggal di istana Hanover, dia hijrah ke Inggris. Dia menghabiskan sisa hidupnya di sana. Di Inggris, dia mengubah namanya menjadi Georg Friedrich Hendel. Dia mengganti huruf "a" dengan huruf "e". Sejak itu, beberapa penerbit menggunakan ejaan yang berbeda-beda untuk menyebutnya. Di Inggris, Handel membuat karya terbesarnya, sekaligus mengalami kemunduran pribadi. Tidak adanya sponsor tetap dari pihak kerajaan, persaingan dengan komponis Inggris yang ternama, dan penonton yang tidak selalu mendukung dan sulit dipuaskan, membuatnya mengalami kerugian berkali-kali. Salah satu karya drama alkitabiahnya yang kontroversial, "Ether and Israel in Egypt", yang ditampilkan di teater-teater sekuler dikecam oleh gereja Inggris. Hasil penjualan tiket pertunjukannya juga kalah bersaing dengan industri-industri yang lain. Namun, dia tetap berusaha tanpa lelah untuk memulihkan kondisinya, hingga kesehatannya menurun.

Menjelang tahun 1741, dia terjerat hutang besar. Tanggal 8 April 1741, dia mengadakan pertunjukan yang disebutnya sebagai konser perpisahan. Bahkan, dia merasa harus pensiun pada usia 56. Akan tetapi, dua peristiwa yang tidak dinyana-nyana terjadi, dan mengubah hidupnya. Salah seorang temannya yang kaya, Charles Jensen, memberinya sebuah buku yang berisi syair lagu opera bersumber pada kehidupan Kristus yang seluruhnya diambil dari Alkitab. Dia juga diminta Dublin, organisasi penggalang dana, untuk mengadakan pertunjukan amal. Dia pun mengerjakan karyanya di rumah kecilnya di Jalan Brook di London. Saking asyiknya, dia pun jarang keluar dari kamarnya. Dia beristirahat hanya untuk makan. Dalam waktu 6 hari, bagian satu sudah selesai. Dalam waktu 9 hari, dia sudah menyelesaikan bagian dua, dan 6 hari kemudian, bagian tiga. Sekumpulan lagu-lagu orkestra utuh pun diselesaikan 2 hari berikutnya. Semua karyanya (berjumlah 260 halaman) diselesaikan dalam jangka waktu 24 hari.

Sir Newman Flower, salah satu dari penulis biografi Handel, mengatakan, "Lagu Handel ini akan bertahan, mungkin selamanya. Benar-benar suatu pencapaian terbesar di sepanjang sejarah karangan musik." Karyanya itu berjudul "Messiah" dan dipentaskan pertama kali tanggal 13 April 1742 untuk acara amal. Dari pertunjukan itu, mereka berhasil mengumpulkan uang 400 pound dan membebaskan 142 narapidana yang terbelit hutang. Setahun kemudian, Handel mementaskannya di London. Kontroversi pun muncul dari gereja Inggris yang terus berkelanjutan menghantam Handel. Akan tetapi, Raja Inggris menghadiri pertunjukan Handel. Saat syair lagu kemenangan "Haleluya" pertama kali diperdengarkan, sang raja berdiri, lalu protokol kerajaan dan seluruh penonton pun berdiri. Segera sesudah peristiwa ini, karier Handel mulai meroket. Popularitas yang diraihnya dengan susah payah mampu bertahan hingga kematiannya. Menjelang kematiannya, "Messiah" ditetapkan sebagai standar lagu drama. Pengaruhnya terhadap komponis-komponis lain sangat luar biasa. Ketika Haydn mendengar lagu "Haleluya", dia menangis seperti seorang anak kecil, kemudian berseru, "Dialah guru kita semua!"

Handel memimpin lebih dari tiga puluh pertunjukan "Messiah". Konser-konsernya sangat menguntungkan bagi rumah sakit yang memelihara anak-anak terlantar. Banyak dermawan yang menyumbang dalam pertunjukan Handel. Mendengar ribuan pound yang diperoleh dari pertunjukan "Messiah" dikumpulkan untuk amal, seorang penulis biografi berkomentar, "'Messiah' benar-benar memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi perlindungan bagi yatim piatu, lebih dari produksi musik tunggal yang lain." Penulis lain berkata, "Kemungkinan tidak ada karya dari komponis lain yang memberi kontribusi begitu besar dalam melegakan penderitaan manusia." Karya ini memiliki dampak rohani yang luar biasa bagi kehidupan para pendengarnya. Salah seorang penulis menyatakan, "Lagu ini cukup berhasil meyakinkan ribuan orang bahwa ada Tuhan di sekitar kita, bahkan lebih meyakinkan daripada semua karya teologis yang pernah ditulis." Seusai pertunjukan "Messiah" untuk kali pertama di London, Lord Kinnoul menyelamati Handel atas "hiburan" yang luar biasa tersebut. Handel menjawab, "Tuan, maafkan saya karena saya hanya menghibur mereka, saya berharap saya bisa membuat mereka menjadi lebih baik."

Keyakinan religius Handel dalam menciptakan karya religius terpopuler di seluruh dunia, membingungkan banyak ahli di bidang musik. Meskipun komponis opera sekuler dan orkestra ini, tidak mengikuti pola pada umumnya, namun dia adalah seorang pengikut Kristus yang setia dan sangat terkenal karena kepeduliaannya terhadap sesama. Moralitas Handel benar-benar tidak bisa disepelekan. Di gereja, dia sering berlutut dan mengekspresikan semangat pengabdiannya yang menyala-nyala lewat penampilan dan gerakan-gerakan tubuhnya.

Keteguhan hatinya membuatnya mampu melewati masa-masa terburuk. Dia tetap tegar dan semangat meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sayangnya, sebagai sarjana konformis, Handel diketahui suka mengumpat dalam beberapa bahasa, setiap kali dia mulai marah. Namun, pada saat yang sama, dia bisa mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan cepat. Handel dikenal karena pendapatnya yang sederhana dan jujur tentang diri dan bakatnya.

Temannya, Sir John Hawkins, menuliskan bahwa Handel mewujudkan nilai-nilai keagamaan yang mendalam melalui hidupnya. Dia senang memasukkan ayat-ayat dalam Kitab Suci ke dalam musiknya. Perenungannya tentang perikop-perikop yang agung dalam kitab Mazmur yang mengagumkan, telah memberikan kontribusi untuk pertumbuhan rohaninya.

Secara fisik, Handel memiliki perawakan tinggi, bertulang besar, dan bersuara keras. Dia sering memakai wig warna putih yang indah, dengan model keriting yang terurai hingga ke bahunya. Gaya bicaranya pun mudah dikenali. Dia sering mencampur bahasa Inggris dengan berbagai kata dari bahasa Jerman, Prancis, dan Itali. Namun, lebih dari itu, Handel dikenal secara mendunia karena kemurahan hati dan kepeduliannya kepada orang-orang yang menderita. Handel bahkan memberikan amal meskipun dia mengalami kebangkrutan finansial. Dia orang yang sangat optimis dan tidak mengenal lelah. Imannya kepada Allah membuatnya bertahan melewati setiap kesulitan. Karena dibesarkan menjadi seorang Lutheran yang tulus, dia tidak memiliki kecenderungan untuk memihak satu sekte dan denominasi apa pun.

Beberapa hari sebelum Handel meninggal, dia mengatakan keinginannya untuk mati pada hari Jumat Agung, dengan harapan bertemu dengan Allahnya yang baik, Tuhan dan Juru Selamatnya yang manis, pada hari Kebangkitan. Dia hidup hingga hari Sabtu Suci pagi, tanggal 14 April 1759. Kematian pun menjemput 8 hari kemudian, setelah dia memainkan karya besarnya, "Messiah", untuk terakhir kalinya.

Sahabatnya, James Smyth, menulis, "Handel meninggal saat dia menjalani hidup Kristen yang saleh, baik kepada Allah dan kepada sesama. Amalnya bagi dunia sungguh sempurna." Handel disemayamkan di Westminster Abbey, dan dihadiri sekitar 3.000 orang yang melayat. Sebuah patung yang memperlihatkan dia yang sedang memegang naskah solonya yang terbuka di bagian ketiga lagu "Messiah", yang berbunyi, "Aku tahu bahwa Penebusku hidup", didirikan di atas makamnya.

Semasa hidupnya, tidak jarang Handel mendapat cibiran. Bahkan, tokoh religius setenar John Newton (pengarang himne "Amazing Grace") pun menentang pertunjukannya yang dianggap "sekuler" itu. Namun demikian, Handel tidak menanggapi dengan menyerang balik saudara-saudara Anglikannya. "Salah satu kebahagiaan dalam hidupku adalah tinggal di sebuah negara yang penduduknya tidak ada yang menderita akibat pelecehan atau ketidaknyamanan yang terkait dengan prinsip-prinsip agamanya," katanya. (t/Setya)

Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama situs : Handel's Messiah
Alamat URL : http://www.messiahcd.com/Information/about_The_Messiah/about_the_messiah.html
Judul asli artikel : About The Messiah
Penulis : Patrick Kavanaugh
Tanggal akses : 13 April 2011

 

Sumber: Bio-Kristi 71

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru