Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereAhli Kimia Agrikultural / George Washington Carver

George Washington Carver


Pada tahun 1864, beberapa penunggang kuda malam memasuki sebuah pertanian di dekat Diamond Grove, Missouri dan menculik seorang budak wanita beserta bayinya. Mereka berniat menjual kembali wanita dan bayinya itu di daerah selatan sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan. Moses Carver, yang membeli wanita muda itu untuk menemani istrinya, menawarkan hadiah kuda pacu bagi mereka yang dapat mengembalikan wanita budak beserta bayinya tersebut. Seorang pemburu mencoba berusaha memperoleh hadiah itu, tetapi dia hanya dapat mengembalikan bayi yang sakit. Walaupun demikian, Moses Carver memberikan kuda pacunya.

George kecil, begitulah dia dipanggil, dan kakak laki-lakinya yang bernama Jim dirawat dan dianggap sebagai anak angkat oleh Moses Carver dan istrinya. George terlalu lemah untuk bekerja keras di ladang, tetapi dia sangat mengasihi dunia ciptaan Tuhan. Dia juga selalu merasa ingin tahu: mengapa tanaman bunga tumbuh di sini dan bukan di sana? Apa yang dapat kita lakukan dengan ubi selain memakannya? Mengapa beberapa tanaman tampaknya membuat gersang tanah tempat tanaman itu bertumbuh? Semua makhluk yang berkembang tampaknya mempunyai rahasia yang terkunci di dalamnya-dan George memutuskan untuk mencari kuncinya.

Pertama-tama, dia harus belajar membaca. Sekolah setempat tidak memperbolehkan anak-anak kulit berwarna untuk bersekolah, tetapi George diperbolehkan. Pada usia 14 tahun, dia meninggalkan rumah dengan harapan dapat melanjutkan pendidikan di tempat lain yang menerima ras kulit berwarna. Dia mengerjakan banyak pekerjaan sederhana di banyak kota di sekitar Missouri dan Kansas, dan dia bersekolah di sekolah mana pun yang menerimanya. Buku teks pertamanya adalah Alkitab, dan dia menjaga kedisiplinan untuk membaca Alkitab setiap hari karena Alkitab memberinya arah tujuan dan kekuatan bagi hidup.

Saat dia telah mempelajari semua hal yang diajarkan gurunya, dia pindah, mencoba menafkahi dirinya dengan cara belajar memasak dan membawakan cucian. Sejak awal dia memiliki filosofi bahwa banyak pekerjaan berarti mendatangkan banyak bayaran, dan dia tidak akan pernah menerima sumbangan.

Dengan dukungan dari beberapa sahabat kulit putihnya, Carver mendaftarkan diri ke Highland College di Kansas. Hatinya dipenuhi rasa sukacita saat dia menerima surat tanda diterima. Tetapi saat dia muncul di kampus dan memperlihatkan surat tanda terima itu, wajah sang dekan cemberut. "Kau tidak mengatakan bahwa kau adalah seorang Negro. Highland College tidak menerima orang Negro."

Hati Carver hancur. Ada begitu banyak hal yang harus dipelajari! Dia berjalan keluar, berkecil hati akibat rasialisme yang hanya melihat warna kulit daripada hati dan pikiran seseorang.

Tetapi Carver tidak menyerah. Dia belajar sendiri untuk melukis dan memainkan akordion. Pada tahun 1888, dia memberanikan dirinya sekali lagi untuk mendaftarkan diri di Simpson College di Iowa -- di sana dia menjadi orang kulit hitam kedua sepanjang sejarah perguruan tinggi itu. Dia menyukai seni dan mengejutkan banyak orang dengan lukisan bunganya yang indah. Dengan dorongan dari guru seninya, dia dipindahkan ke Iowa State College jurusan Pertanian dan Seni Mekanik di Ames, Iowa, untuk mempelajari pertanian. Dan akhirnya dia memperoleh gelar sarjana di bidang pertanian dan hama.

Iowa State College menginginkan agar George Carver tetap tinggal di sana untuk mengajar, tetapi dia menolaknya. Apa sebenarnya rencana Tuhan bagi hidupnya? Tuhan telah memberikan begitu banyak hal pada dirinya, bagaimana dia dapat membalas segala hal yang diberikan-Nya dengan cara membantu sesamanya? Jawabannya tiba saat dia menerima surat dari Booker T. Washington, seorang pendidik terkemuka berkulit hitam, yang menginginkan dirinya untuk mengepalai jurusan pertanian di Institut Tuskegee di Tuskegee, Alabama. George Carver mengemasi barang-barangnya.

Dia tiba di kampus Tuskegee pada tanggal 8 Oktober 1896 dan mulai mengajar tiga belas orang murid di kelas program dua tahunnya. Pada musim semi tahun berikutnya, dia mengajar 76 orang murid! Pada musim semi yang sama di tahun 1897 itu, Pusat Eksperimen Tuskegee didirikan di kampus. Carver dan murid-muridnya bereksperimen untuk menemukan cara mengonservasi tanah, memperkenalkan jenis tanaman baru untuk membantu melepaskan cengkeraman "Raja Kapas", hidup mandiri, dan mengembangkan manfaat baru dari jenis-jenis tanaman pertanian untuk membantu menciptakan pasar yang lebih luas. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh diterbitkan dalam buletin dan disebarkan ke kota-kota di sekitarnya-tetapi bagaimana dengan para petani yang tidak dapat membaca?

Carver yakin bahwa "demonstrasi" merupakan bentuk pengajaran yang paling baik. Orang-orang perlu melihat dan menyentuh. Dia mengembangkan berbagai cara untuk membantu para petani setempat. Pertama, dia mengadakan "institut petani" di kampus Tuskegee sehingga para petani dapat datang dan melihat berbagai eksperimen pertanian, menanyakan pertanyaan, dan mendiskusikan masalah mereka. Cara kedua, yaitu "sekolah keliling" di akhir pekan. Carver dan seorang asisten memenuhi kereta taninya dengan berbagai contoh dan peralatan demonstrasi, serta mengadakan perjalanan di sepanjang jalan di Alabama agar dapat bertemu dengan petani miskin. Mereka akan mengajari para petani itu berbagai cara praktis untuk mengembangkan tanah pertanian, keluarga, dan hidupnya.

Setiap hari saat matahari terbit, Carver berjalan ke hutan untuk berdoa. Ayat Alkitab favoritnya adalah Mazmur 121:1-2, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi." Para muridnya mengetahui dari mana dia memperoleh kebijaksanaan sehingga mereka memintanya untuk memimpin Kelas Alkitab setiap minggu, yang pada tahun 1911 dihadiri oleh ratusan murid.

Carver adalah seorang guru yang disukai. "Jangan mengatakan kira-kira benar," katanya suatu kali pada seorang murid yang memberi jawaban kurang tepat, "Kira-kira benar sama saja artinya dengan salah." Dia melanjutkan, "Jika kau tiba di sungai kecil seluas lima kaki, dan kau melompat sejauh empat setengah kaki, ya, kira-kira benar. Tetapi kau hanya dapat hampir sampai di seberang sungai dan berupaya menyelamatkan diri."

Pada pergantian abad, ada banyak kontroversi mengenai jenis pendidikan dan usaha sosial yang paling tepat bagi ras kulit hitam di Amerika. Di satu pihak, W.E.B. DuBois yakin bahwa orang-orang kulit hitam harus memiliki hak sepenuhnya sebagai warga negara, termasuk hak untuk memberikan suara dan memperoleh pendidikan dasar lebih tinggi termasuk sastra, bahasa, dan seni. Di pihak lain, Booker T. Washington bersikap lebih sabar dan penuh hormat sehingga dia lebih berkonsentrasi di bidang pelatihan kejuruan agar orang-orang kulit hitam dapat belajar mandiri dan menjadi pedagang serta pemilik properti. Dia memakai filosofi "mendamaikan" sehingga kedamaian yang tercipta akan menghasilkan rasa hormat dan akhirnya hak sipil dapat terwujud sepenuhnya.

George Washington Carver menolak untuk ikut campur dalam kontroversi mengenai ras atau sejenisnya. Dia tidak mempunyai waktu luang sama sekali karena pekerjaannya yang menumpuk. Walaupun demikian, ia membuat banyak perubahan dalam bidang pertanian yang segera diperhatikan oleh lembaga lain dan pemerintah, yang memintanya untuk memberi kuliah atau mendemonstrasikan penemuannya. Undangan-undangan ini merupakan suatu suka duka bagi seorang pria kulit hitam. Dia sering kali diperlakukan sebagai warga masyarakat kelas dua, tetapi dia juga dipuji sebagai seorang ilmuwan. Carver yakin bahwa mengasihani diri sendiri merupakan sesuatu yang merusak. Dengan diam dia menerima semua ketidakadilan dalam hidupnya karena dia tahu jika dia memikirkan semua hal itu maka dia akan kehilangan banyak tenaga yang seharusnya digunakan untuk keperluan yang lebih baik.

Kadang-kadang dia mengatakan kata-kata tajam bagi mereka yang ingin mendengarnya. "Kau lebih banyak melakukan perbuatan sehingga saya tidak dapat mendengar perkataanmu. Kau mempunyai banyak agama, tetapi tidak mempunyai cukup kekristenan -- terlalu banyak teori, tetapi tidak cukup pengamalannya. Dunia telah kehilangan kebaikan." Di waktu lainnya, dia menjelaskan mengapa seorang kulit putih mengatakan sesuatu yang menyakitkan, Carver berkata, "Dia sebenarnya menderita akibat perasaan inferior sehingga memaksa dirinya untuk mendominasi orang lain sebagai bukti bahwa dia lebih superior."

Sepanjang hidupnya, George Carver mendedikasikan ilmunya untuk membantu sesamanya mencari nafkah. Dia menciptakan 200 produk baru dari kacang dan 118 produk praktis dari ubi, menciptakan pasar baru, dan memperbanyak jumlah jenis tanaman komersial. Dia melepaskan cengkeraman "Raja Kapas" di daerah selatan; memperbaiki keadaan tanah gersang dan semua ini menguntungkan baik bagi warga kulit putih maupun warga kulit hitam.

George Carver sebagai seorang pria cerdas tetap hidup sederhana dan selalu memuliakan Tuhan atas segala prestasinya. Saat dia meninggal pada tahun 1943, di batu nisannya tertulis, "Dia dapat saja menggunakan keberuntungannya untuk menjadi terkenal, namun dia memperhatikan sesamanya, dan dia menemukan kebahagiaan serta penghormatan dengan menolong dunia."

Diedit seperlunya dari:

Judul artikel : Penipuan 40 Akre
Judul asli artikel : The Forty-Acre Swindle
Penulis : Dave dan Neta Jackson
Penerjemah : Lie Ping
Penerbit : Gospel Press, Batam Center 200
Halaman : 163 -- 169

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru