Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereBio-Kristi No.150 Agustus 2015 / George Washington Carver: Ahli Kimia Pertanian

George Washington Carver: Ahli Kimia Pertanian


Diringkas oleh: N. Risanti

Masa Muda

George dilahirkan di daerah pertanian Diamond Grove, Missouri, sekitar tahun 1864, yaitu setahun sebelum perbudakan berakhir. Ketika masih bayi, ia dan ibunya diculik oleh penjual budak sampai akhirnya mereka dibebaskan oleh seorang petani Jerman yang baik hati bernama Moses Carver di Arkansas. George dan kakaknya kemudian diadopsi oleh Moses Carver sehingga mereka kemudian dikenal sebagai anak keluarga Carver. Ibu kandung George sendiri kemudian tidak lagi diketahui nasibnya karena ia tidak pernah ditemukan lagi. Sementara itu, ayah mereka telah tewas karena kecelakaan sewaktu bertani. Dalam keluarga Carver, George dan kakaknya, James, dididik untuk mengasihi Tuhan dan memercayai firman-Nya melalui pembacaan Alkitab yang mereka lakukan setiap hari.

Pendidikan

Moses Carver memberikan kesempatan bersekolah kepada kedua anak angkatnya, meskipun pada waktu itu hampir semua anak berkulit hitam hanya memperoleh pendidikan rendah atau malah tidak mendapat pendidikan sama sekali. Meski James kemudian berhenti sekolah untuk bekerja, George tetap meneruskan pendidikannya dan berhasil meraih prestasi yang gemilang di sekolah menengah. Ia kemudian mendapat beasiswa untuk memasuki perguruan tinggi di Kansas. Namun, ia ditolak ketika pihak universitas mengetahui bahwa ia berkulit hitam.

George akhirnya masuk ke perguruan tinggi di wilayah utara, yaitu di Simpson College di Indianola, Iowa, setelah tidak ada kesempatan untuk memasuki perguruan tinggi di wilayah selatan bagi orang berkulit hitam. Ia merupakan orang kedua yang belajar di sana.

Setelah lulus pada tahun 1895, ia kemudian melamar ke Iowa State College of Agricultural and Mechanical Arts, dan diterima sebagai mahasiswa pascasarjana sekaligus staf pengajar. Di sana, ia memberi kuliah botani dan mengurusi rumah kaca jurusan hortikultura sebelum akhirnya lulus pada tahun 1896 sebagai yang terbaik dari kelasnya.

Lalu, George Carver menerima tawaran untuk mengajar di Institut Tuskegee di Alabama, yang berarti membuatnya meninggalkan kedudukan bergengsi, gaji tinggi, dan fasilitas penelitian yang sangat baik. Langkah menerima tawaran ini bukan langkah yang baik bagi kariernya dipandang dari kacamata manusia.

Rencana Tuhan Bukan Rencana Manusia

Carver selalu mencari tahu apa rencana Tuhan baginya yang ia lakukan dalam rutinitas jalan paginya setiap hari. Carver telah berhasil mengentaskan dirinya dari kemiskinan, dan sekarang ia menyadari bahwa Tuhan memanggilnya untuk kembali ke selatan, menolong orang lain melepaskan diri dari kemiskinan dengan mempelajari cara bertani yang lebih baik. Sebagai tanggapan atas bimbingan Tuhan, Carver berangkat ke Alabama pada akhir tahun 1896 untuk memulai tugas barunya.

Para petani di selatan terperangkap dalam lingkaran kemiskinan karena rendahnya produktivitas pertanian. Penanaman kapas yang berulang-ulang selama bertahun-tahun akhirnya menguras mineral tanah, yang kemudian diperburuk lagi oleh erosi. Carver menyadari bahwa jalan keluar satu-satunya adalah menanam tanaman selingan yang akan mengembalikan kandungan nitrat di dalam tanah. Namun, tanaman selingan itu harus bisa memberikan pendapatan juga bagi petani sementara tanahnya disuburkan kembali.

Carver mulai mendirikan pertanian eksperimen di Institut Tuskegee. Dengan pertolongan para mahasiswanya, ia mendirikan laboratorium untuk meneliti berbagai tanaman dan tanah itu sendiri. Lalu, ia menanam sejenis kacang (cowpea) untuk menambah kesuburan tanah serta cara membuat makanan yang lezat dan bergizi dari kacang yang tadinya dianggap hanya sebagai makanan ternak itu. Selain itu, ubi jalar juga ternyata dapat menambah kesuburan tanah. Ketika kemudian tanah ditanami kapas kembali, hasilnya dua setengah kali lipat dari sebelumnya. Ini menunjukkan keberhasilan Carver dalam memperbarui daya produksi tanah.

Manfaat Lain untuk Panenan

Carver kemudian mengembangkan kegunaan dari produk tanaman selingan tersebut sehingga produknya dapat dipasarkan. Dengan ubi jalar, ia mengembangkan lebih dari seratus produk, seperti tepung kanji, cuka, kembang gula, perekat, dan semir sepatu. Carver mengembangkan tiga ratus macam kegunaan kacang tanah selain untuk menyuburkan tanah, yaitu: selai kacang dan minyak kacang, penghasil bahan pewarna, tinta, sabun, krim cukur, sampo, kosmetik, dan lain-lain. Ia juga mengembangkan produk kacang tanah sebagai pengganti susu, es krim, kopi, dan daging. Firman Tuhan selalu menjadi dasar baginya dalam melakukan penelitian. Ia percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia flora dan fauna yang indah untuk kesejahteraan dan kebutuhan manusia, dan manusia bertanggung jawab untuk menemukan sebanyak mungkin manfaatnya bagi umat manusia.

Berbagi Temuan

Carver kemudian membagi temuannya kepada banyak orang, terutama mereka yang hidup di pinggiran kota agar mereka dapat terbebas dari jerat kemiskinan. Ia mengubah keretanya menjadi sekolah pertanian berjalan, lalu berkeliling mengajar para petani mengenai rotasi tanaman dan cara memelihara kesuburan tanah. Carver menyarankan mereka untuk menghasilkan sebanyak mungkin tanaman untuk kebutuhan sendiri selain untuk dijual. Selain itu, ia juga mengajari mereka cara mengenali dan memerangi serangga maupun hama yang menyerang tanaman dan pohon buah mereka, serta untuk meningkatkan nilai gizi makanan yang mereka siapkan.

Sebagian petani menerima saran Carver, tetapi sejumlah petani kulit putih di daerah selatan tidak bisa menerima bahwa seorang kulit hitam mantan budak, mengajari mereka cara mengolah ladang mereka. Namun, keadaan berubah ketika hama boll weevil (hama dari sejenis kumbang pemakan tunas tanaman kapas - Red.) menyerang dan memusnahkan tanaman kapas di Alabama pada tahun 1914. Hama itu memusnahkan tanaman kapas, tetapi tidak pada tanaman kacang. Mereka yang semula mengejek Carver dan melontarkan hinaan rasialis terhadapnya, justru berdatangan untuk minta tolong. Carver tidak menyimpan dendam kepada mereka dan siap memberi saran untuk menghentikan "boll weevil", yakni dengan mengubur tanaman kapas ke dalam tanah, menggunakan insektisida, dan kemudian menanam kacang tanah sebagai gantinya.

Carver kemudian juga mewakili para petani untuk berbicara di depan senat (dewan perwakilan rakyat di Amerika Serikat - Red.) mengenai perlindungan tarif ketika para petani mengalami kerugian karena pasar dibanjiri kacang tanah impor yang lebih murah harganya. Persuasinya berhasil sehingga akhirnya senat menyetujui perlindungan tarif bagi kacang tanah. Industri kacang tanah kemudian berdiri dengan kokoh setelah para pengusaha mendapat peluang untuk mendirikan usaha manufaktur dari produksi berbagai produk kacang tanah yang dikembangkan Carver. Di daerah selatan, industri kacang tanah yang didirikan Carver kini sudah berkembang menjadi bisnis bernilai jutaan dolar.

Masih banyak temuan yang dihasilkan oleh Carver, di antaranya plastik yang dipakai sebagai hiasan dasbor mobil, enam puluh produk dari kacang pecan (sejenis kacang-kacangan yang banyak dihasilkan di wilayah selatan Amerika Serikat - Red.), serta mengembangkan beberapa jenis cat dengan menggunakan tanah liat Alabama.

Watak Kristiani

Dengan watak kristiani yang kental tertanam dalam dirinya, Carver tidak berupaya untuk mendapatkan hak paten atas temuan dan menimbun keuntungan untuk menjadi kaya raya. Semua karyanya diberikan secara cuma-cuma untuk dunia dan ia terus bekerja di Tuskegee dengan gaji yang sangat kecil selama 47 tahun. Ia menolak tawaran untuk bekerja sama dalam penelitian dengan Thomas Edison atau ajakan dari pengusaha mobil, Henry Ford. Ia lebih suka bekerja untuk memperbaiki keadaan petani miskin di selatan. Pada tahun 1940, Carver bahkan menyumbangkan tabungan hari tuanya kepada sebuah yayasan di Tuskegee untuk membiayai penelitian dalam bidang pertanian dan kimia pertanian.

Ia dianugerahi Lencana Roosevelt atas prestasinya yang istimewa dalam bidang ilmu, dengan pernyataan resmi yang tertulis demikian: "Kepada ilmuwan yang dengan rendah hati mencari bimbingan Tuhan dan pembebas bagi kaum kulit putih maupun hitam". Popularitasnya yang jauh sampai ke mancanegara tidak berarti banyak untuknya karena satu-satunya yang penting dalam hidupnya adalah hubungannya dengan Tuhan.

Carver meninggal tanggal 5 Januari 1943 dalam keadaan melajang. Banyak waktu luangnya di Tuskegee dia manfaatkan untuk mengajarkan Alkitab kepada para mahasiswanya, membantu mereka untuk belajar mengasihi dan melayani Tuhan. Doa yang sering diulangi Carver adalah: "Semoga mereka yang telah ditebus-Nya belajar untuk berjalan dan berbicara dengan Dia, tidak hanya setiap hari dan setiap jam, tetapi setiap saat, melalui segala sesuatu yang diciptakan-Nya".

Diringkas dari:

Judul asli buku : 21 Great Scientist Who Believed The Bible
Judul buku terjemahan : Para Ilmuwan Mempercayai Ilahi
Judul bab : George Washington Carver. Ilmu Kimia Pertanian
Penulis : Ann Lamont
Penerjemah : Lillian D. Tedjasudhana
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta
Halaman : 267 -- 279

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru