Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

You are herePenulis Kristen / John Owen

John Owen


Dia melalui semuanya dengan jujur. Ayahnya (bungsu dari limabelas bersaudara -- semuanya laki-laki) telah lama menanti gereja yang korup direformasi sehingga dia bisa dikatakan "Puritan", sebuah label yang akan disandang anaknya, John selama beberapa dekade dengan segala talentanya.

Owen lahir di desa Stadham, Oxfordshire, dari pasangan penuh perhatian yang memberikan "sekolah di rumah" untuk anak mereka yang terlalu cepat menjadi dewasa sebelum mengirimnya ke SMU dan kemudian, pada umur duabelas tahun, ke Oxford. Di universitas, Owen mempelajari matematika, filosofi, dan musik. (Bertahun-tahun kemudian, ketika dia menjabat sebagai kepala administrasi di Oxford, dia memilih guru menyulingnya sebagai professor musik.)

jhon owen

Saat Owen menenggelamkan dirinya dalam belajar (tidur tidak lebih dari 4 jam setiap malam), seorang tokoh kampus menetapkan peraturan yang berhubungan dengan sesuatu yang dia tentang selama hidupnya. Uskup besar Laud, Rektor Oxford, dan musuh abadi dari yang dilakukan kaum Reformis Inggris (English Reformers), memutuskan untuk membersihkan universitas dari orang-orang yang tidak setuju terhadap agenda anti-Injilnya. Dia langsung membuat sebuah ketetapan baru dalam bidang keagamaan yang dia tahu bahwa yang dilakukannya itu tidak akan disetujui oleh para mahasiswa pendukung reformasi, kemudian menggunakan ketidaksetujuan mereka sebagai dalih untuk membuang mereka. Dia memaksa mereka yang belum juga keluar dari universitas melalui Star Chamber dan High Commission yang terkenal buruk. High Commission mengajukan mereka yang belum mau keluar dari universitas ke London Chamber, tempat terjadinya kezaliman , kesewenang-wenangan, dan interogasi berlebihan tanpa adanya banding. Laud menyaksikkan Owen yang dengan sedih keluar dari universitas tempat dia sudah menghabiskan sembilan tahun yang indah bersatu dengan belahan jiwanya: belajar.

Sementara itu, atasan Laud, Raja Charles I, sedang melakukan tindakan kejam dengan melontarkan penghinaan kepada parlemen dan korupsi untuk meningkatkan keuangan. Perang saudara terjadi.

Di tengah situasi tersebut, anak muda yang secara rohani kehilangan arah itu berjalan bermil-mil jauhnya ke sebuah gereja untuk mendengarkan khotbah si gembala sidang. Hari itu, si gembala sidang tidak berkhotbah. Pendeta pengganti mengatakan, "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" (Mat. 8:26). Pada akhir ibadah, Owen menyadari kedamaian yang memberikan pemahaman sejak khotbah itu disampaikan di tengah pergolakan yang ada dalam hatinya dan kondisi di lingkungan sekitarnya. Tuhan yang telah dia coba hindari selama bertahun-tahun, tetapi tidak berhasil, akhirnya membebaskannya dengan merangkulnya. Sejak itu, Owen terus mencari -- tapi tak pernah menemukan -- nama orang yang khotbahnya telah membuatnya menerima Yesus.

Owen bahagia bekerja sebagai pendeta dan rajin bekerja sebagai penulis saat buku pertama dari 27 buku besar dan tebalnya tertulis dari ujung penanya.

Pada Januari 1649, Charles I diadili dan dihukum mati atas dakwaan pengkhianataan, kezaliman, dan pembantaian. Diminta untuk berkhotbah kepada anggota parlemen pada bulan April, Owen menguraikan Goncangan Atas Langit dan Bumi (Ibrani 12:27). Saat itulah, dia menarik perhatian Oliver Cromwell, pimpinan pasukan parlemen dalam perang saudara. Cromwell melihat Owen bukan hanya sebagai seseorang yang brilian, tapi juga seorang pengelola yang sangat andal. Owen segera menjadi wakil rektor di Universitas Oxford, posisi yang mengatur semua urusan universitas. Tenaga eksekutif diperlukan dalam universitas itu, sejak keadaan akademi membaik, organisasi dalam universitas tidak beroperasi lagi, sedangkan sebagian dari organisasi itu digunakan untuk menampung tentara dan bekal persediaan, sementara universitas dililit utang yang sangat banyak. Owen membuat berhenti para pemimpin universitas yang marah-marah dan mengasihani diri mereka sendiri, dengan berkata, "... meratap tidak akan membuat kita menjadi orang yang akan diingat dan dihargai. Semua itu adalah hasil dari ketegaran kita untuk bertahan menghadapi beban berat." Tidak lama kemudian, universitas itu mulai bangkit, profesor-profesor yang diakui secara internasional dipilih, mahasiswa miskin dibantu, dan seorang teman yang tidak beruang sama sekali, yang menulis tentang Owen dalam bahasa Latin, diangkat sebagai dosen! Saat itu, Owen adalah anggota komite Cromwell, dia menulis teologi tentang keberadaan dunia, dan dia menjadi anggota parlemen.

Ketika sebagian besar anggota parlemen mencalonkan Cromwell untuk menjadi raja, Owen menulis laporan singkat yang membuat pencalonan itu batal. Cromwell marah lalu menunjuk anaknya, Richard, sebagai rektor universitas. Dalam enam minggu, Richard menyingkirkan Owen. Dengan keluhuran budi, dan bukan kepahitan, Owen pindah ke jemaat desa.

Pada tahun 1660, setelah kematian Cromwell, kerajaan dipulihkan. Sekali lagi kaum puritan ditentang. Sebuah Undang-Undang mengilegalkan penyembahan yang dilakukan lebih dari lima orang kaum puritan. Murid-murid Owen lenyap dan jemaatnya tersebar. Pada tahun 1662, Undang-Undang lain (penyebab timbulnya pengusiran besar-besaran atau The Great Ejection) membuat 2.000 pendeta kaum puritan tidak mempunyai tempat tinggal dan uang sama sekali. Mereka berjalan di malam hari dan berkhotbah di siang harinya dengan bekal iman. Undang-Undang lain memberi imbalan bagi mereka yang mau mengkhianati kaum puritan.

Penghuni gereja membludak dan kapal-kapal emigran memenuhi kargo-kargo mereka dengan manusia ketika penyakit mewabah di London. Para pengurus dan majelis Established Church melarikan diri supaya tak tertular, sementara para tokoh puritan membantu mereka yang sekarat dan masih bertahan hidup. Di kota-kota besar, bentukan baru menghargai para pendeta puritan -- meski begitu, Undang-Undang lain melarang pendeta puritan untuk berkhotbah lagi sejauh 5 mil dari tempat dia berkhotbah sebelumnya. Terasing ke desa-desa terpencil, mereka kembali ke London ketika kebakaran besar (The Great Fire) melalap bangunan-bangunan gereja yang lenyapnya secepat munculnya gereja besar puritan yang dibangun dari kayu. Owen sendiri kembali ke London. Dengan pergolakan yang terjadi di mana-mana, dia menulis tentang alat diagnostik hati manusia yang paling akurat, Sin and Temptation. Dengan tabah, dia tetap tinggal di London, bahkan saat parlemen memberlakukan lagi Undang-Undang yang menentang kaum puritan.

Meratap tidak akan membuat kita dihargai. Ketegaran kitalah yang diperlukan dalam menghadapi beban berat-John Owen

FacebookTwitterWhatsAppTelegram

Sehari sebelum meninggal, Owen menulis, "Aku meninggalkan gereja yang ibaratnya adalah kapal yang diterpa badai; tapi selama Sang Nakhoda yang luar biasa berada dalam kapal itu, hilangnya seorang pendayung tidak akan ada artinya."

Hari Minggu setelah kematiannya, pengikutnya, Rev. David Clarkson, meratap, "Kita pernah mempunyai cahaya pada lilin ini. Kita tidak cukup menghargainya."

Benarkah? Dari dulu sampai sekarang, cahaya yang dari puritan itu, tak ternilai harganya.

Victor Shepherd

April 1997

(t/Dian)

 

Audio: John Owen



Diterjemahkan dari:
Judul asli artikel : John Owen (1616--1683)
Penulis : Victor Shepherd
Nama situs : victorshepherd.ca/john-owen
Tahun : 1997

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru