Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereBio-Kristi No.139 September 2014 / Kepercayaan Diri dan Agama Franklin Delano Roosevelt

Kepercayaan Diri dan Agama Franklin Delano Roosevelt


Sebagian optimisme Roosevelt mungkin berakar pada kemenangannya atas penyakit polio yang dideritanya. Walaupun pada masa itu polio dianggap sebagai penyakit yang membuat suram bagi kehidupan penderitanya, tetapi Roosevelt mampu bertahan di atas kondisinya dan tetap secara aktif mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat, hingga terpilih menjadi presiden AS. Jika ia sanggup bangkit mengalahkan kekurangan yang disebabkan oleh penyakit itu, segala macam rintangan lain yang menghalangi jalannya dan negaranya akan tampak lebih mudah baginya. Sumber lain yang membuat Roosevelt menjadi seseorang yang percaya akan masa depan dan mampu berkomunikasi dengan saudara-saudara sebangsanya adalah iman Kristen yang juga dibagikannya kepada sebagian besar mereka.

"Saya selalu merasa bahwa agama yang dipegang oleh Franklin ada kaitannya dengan kepercayaan dirinya," ungkap Eleanor, istrinya. "Kekristenan adalah agama yang sederhana," imbuhnya. "Franklin seolah tidak memiliki kesulitan intelektual tentang apa yang ia yakini." Demikianlah yang terjadi pada kebanyakan orang Kristen lain yang kita kenal. Kita tidak berkubang dalam keragu-raguan yang mungkin saja muncul dalam pikiran kita ketika membayangkan tentang Nuh dan bahteranya, Yunus dan ikan besar, serta Musa saat ia berada di Laut Merah. Kita percaya pada Kesepuluh Hukum Taurat dan pada Hukum yang Utama. Roosevelt memandang kebijakan "New Deal" sebagai pengaplikasian iman Kristen. Ketika Roosevelt memberikan pidato pada malam Natal, ia mengutip Khotbah di Bukit, dan pada malam itu juga, ia membacakan kisah "Christmas Carol" kepada keluarganya yang berkumpul di dekat perapian Gedung Putih.

Dalam pidatonya, Roosevelt mengimbau saudara setanah airnya untuk "Berdoa supaya kita diberi kekuatan untuk dapat hidup bagi orang lain" dan mengaitkan kisah tentang Scrooge (Tokoh utama dalam cerita Natal klasik karya Charles Dickens - Red.) dengan apa yang sedang terjadi di Amerika.

"Si Scrooge tua tidak menyadari bahwa Natal bukanlah isapan jempol. Ia menyerahkan dirinya ke dalam semangat menolong sesama. Akan tetapi, pengertian tentang sesama kita saat ini tidak lagi dapat dikungkung dalam pengertian lingkungan yang sempit. Kehidupan telah menjadi lebih rumit untuk hanya dipahami dengan pengertian semacam itu. Di negara kita, arti hidup dengan sesama telah melebarkan cakupannya dari sekadar kota menjadi wilayah, dari wilayah menjadi negara bagian, dan pada akhirnya mencakup seluruh negara ini."

"Misalnya saja, siapa yang akan mengira bahwa seminggu dari besok, tanggal 1 Januari 1940, puluhan ribu manula di setiap negara bagian, di seluruh provinsi, dan seluruh kota di negara ini, akan mulai menerima cek untuk asuransi pensiun hari tua?"

Meskipun orang-orang Kristen sayap kanan telah menjadi bagian hidup bernegara pada masa itu -- Dua orang yang paling ekstrem saat itu adalah Pendeta Gerald L. K. Smith dan Pastor Charles Coughlin, yang menyebut program FDR sebagai "Jew Deal" (Kesepakatan Yahudi) -- Injil, menurut FDR, tetap berlaku bagi sebagian besar kita. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Nama situs : Belief.net
Alamat URL : http://www.beliefnet.com/Faiths/Christianity/2006/11/Fdrs-Confidence-Religion.aspx
Judul asli artikel : FDR's Confidence & Religion
Penulis artikel : Charles Peters
Tanggal akses : 15 Januari 2014

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru