Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereTahukah Anda / Tahukah Anda

Tahukah Anda


Kolom Tahukah Anda Publikasi Bio-Kristi

Sejarah Lagu "Yesus Yang Kupilih"

Judul lagu : I`d Rather Have Jesus
Penulis : Rhea F. Miller
Komposer : George Beverly Shea

Yesus yang kupilih, bukan harta. `Ku milik Yesus, bukan milik harta.

Yesus yang kupilih, bukan gedung, biar tangan-Mu menuntun daku.

`Ku tak mau jadi raja dunia, di bawah kuasa dosa.

Yesus yang kupilih, bukan dunia, serta kemewahannya.

Yesus yang kupilih, bukan mulia. `Ku mau berkorban milik Tuhan.

Yesus yang kupilih, bukan nama, rela setia kabarkan Injil.

`Ku tak mau jadi raja dunia, di bawah kuasa dosa.

Yesus yang kupilih, bukan dunia, serta kemewahannya.

Ronny Melahirkan Pesepak Bola Cilik

Ronny Pattinasarany memiliki cita-cita yang mulia. Ia ingin sepak bola di Indonesia maju dan berkembang, serta diakui di Asia dan dunia. Untuk meraih cita-citanya ini, ia membina para pemain sepak bola sejak usia dini. Ia merintis pembangunan Sekolah Sepak Bola (SSB) untuk anak-anak. Hingga saat ini, sudah banyak SSB lain yang tumbuh subur dan menyebar ke seluruh penjuru tanah air, dan menampung bakat-bakat pesepak bola cilik.

Kontribusi Doddridge di Bidang Pendidikan dan Kerohanian

Berdasarkan pada kebebasan beragama, Philip Doddridge menolak tawaran yang akan menuntunnya ke dalam pelayanan Anglican atau kariernya di bidang hukum. Pada tahun 1719, ia memilih untuk masuk ke akademi Dissenting di Kibworth, Leicestershire. Di tempat itu, ia diajar oleh John Jennings, yang membantu Doddridge meraih sukses dengan cepat pada tahun 1723. Setahun kemudian, dalam pertemuan umum para pelayan nonkonformis, Philip Doddridge dipilih menjadi pemimpin akademi yang baru saja didirikan beberapa kilo meter dari Pasar Harborough, yang kemudian dikenal dengan nama Akademi Daventry. Pada tahun yang sama, ia menerima sebuah undangan untuk menjadi pendeta di sebuah jemaat independen di Northampton. Di sinilah, kepopulerannya sebagai seorang pengkhotbah menjadi pokok pembicaraan, terutama karena ia memiliki "perasaan yang sangat mudah tersentuh, ditambah dengan kelebihan fisik, dan ketulusan yang sempurna". Ciri khas khotbahnya sangat praktis dan tujuannya adalah untuk membina para pendengarnya tentang bingkai pikiran rohani dan ketaatan.

Keluarga Niebuhr

Disadur oleh: Kusuma Negara

Keluarga Gustav dan Lydia Niebuhr memang keluarga yang berdampak. Selain Hulda yang menjadi profesor divinitas wanita pertama dan pengajar yang disegani, kedua adiknya juga merupakan teolog ternama pada masa itu. Keluarga Niebuhr ini menjadi salah satu keluarga Kristen yang anggota keluarganya paling banyak memberikan kontribusi teologis bagi gereja dan dunia. Adiknya yang pertama (Walter) berkarier di bidang jurnalisme dan bisnis. Ia menjadi tulang punggung keluarga sepeninggal ayah mereka (Pdt. Gustav). Reinhold Niebuhr, adiknya yang kedua, seorang teolog yang ternama karena realisme kekristenannya. Kutipannya yang terkenal adalah "Kapasitas manusia untuk berbuat adil memungkinkan lahirnya demokrasi; tetapi kecenderungan manusia untuk berbuat tidak adil mensyaratkan adanya demokrasi." H. Richard Niebuhr, adik ketiganya, menjadi salah seorang teolog dan sejarawan gereja paling penting pada abad ke-20 di Amerika Serikat. Pengajarannya tentang respons orang Kristen terhadap budaya dunia, dapat dibaca melalui bukunya "Christ and Culture" (1951) dan "Kristus Mentransformasikan Kebudayaan". Buku ini masih menjadi buku pelajaran wajib dalam seminari-seminari hingga saat ini.

Penggerak Gereja Kebangsaan

Sam Ratulangi adalah orang Kristen yang memiliki rasa kebangsaan yang cukup tinggi. Bahkan, rasa nasionalismenya tersebut dibawanya ke lingkup gereja. Sam Ratulangi menjadi salah satu motor penggerak terbentuknya gereja baru, yang disebut Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, yang disingkat menjadi KGPM. Sam memberi sumbangsih pada tercetusnya semboyan gereja ini yang berbunyi, "Yesus Kristus dalam kebangsaan, kebangsaan dalam Yesus Kristus."

Berintegritas Seperti Kristus

Selama tahun-tahun tersebut, Tyndale juga memberi diri untuk melakukan pekerjaan baik secara nyata dan berkata, "Bagianku bukan di dalam Kristus jika hatiku tidak mengikuti dan hidup sesuai dengan apa yang kuajarkan." Setiap hari Senin, Tyndale mengunjungi orang-orang yang mengungsi dari Inggris karena faktor agama, seperti dirinya. Setiap hari Sabtu, dia menelusuri jalanan Antwerp sambil melayani orang-orang miskin. Setiap hari Minggu, dia makan malam di rumah para pedagang serta membacakan Kitab Suci sebelum dan sesudah makan malam. Sisa hari dalam seminggu, dia dedikasikan untuk menulis traktat-traktat dan buku-buku serta menerjemahkan Alkitab. (t/Setya)

Bagi Albert Schweitzer, Tuhan Yesus adalah Tuan

Schweitzer dibesarkan sebagai seorang penganut Lutheran. Ayahnya adalah seorang pendeta Lutheran, tetapi pemakaian gedung gereja di desanya dibagi dengan pastor Katolik Roma dan jemaatnya. Sejak kecil, Schweitzer terpesona dengan kisah-kisah Alkitab, namun sekaligus merasa bingung. Ia ingin tahu mengapa keluarga Yesus bisa sangat miskin sementara mereka telah diberi hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur oleh para majus dari Timur.

Ampunilah Musuhmu, Berdoalah Baginya

Beberapa menit sebelum dieksekusi, Robert Wolter Monginsidi -- pemimpin gerilya yang ditakuti tentara Belanda -- menjabat tangan dan mengampuni regu serdadu yang bertugas menghabisi

Bahtera Nuh

Menurut Kejadian 6:14-16, bahtera yang dibuat oleh Nuh terbuat dari kayu gofir. Bahtera itu memiliki banyak ruang/petak. Bagian luar dan dalam bahtera ditutup dengan pakal (kulit kayu, sabut). Ukuran panjang bahtera Nuh adalah 300 hasta, lebarnya 50 hasta, dan tingginya 30 hasta. Bahtera tersebut memiliki atap dan pintu pada lambungnya dan disusun dengan bentuk bertingkat bawah, tengah, dan atas.

Gereja Harus Menjadi Terang Dunia

Satu catatan penting. Radius sangat memberi perhatian pada upaya kontekstualisasi teologi. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang kekristenannya. Nenek moyangnya berasal dari lingkungan Kiai Sadrach, penginjil Jawa karismatik, yang berusaha memahami Injil dari perspektif kulturalnya. Cara berteologi seperti ini telah membuka wawasan dan memberi perspektif lain bagi gereja-gereja Belanda dalam berteologi. Bahkan, dalam salah satu sambutannya, Dr. Radius mengatakan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, gereja harus mampu memberikan pelayanan terbaiknya bagi masyarakat.

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru