Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereBio-Kristi No.128 Desember 2013 / Maria Magdalena

Maria Magdalena


Diringkas oleh: Berlin B.

Kota Magadan, juga dikenal dengan kota Magdala, terletak di tepi barat laut danau Galilea, kurang lebih 5 km dari kota yang terkenal, Kapernaum. Di situlah, Maria bertemu dengan Yesus untuk pertama kalinya. Di situlah, Tuhan Yesus melepaskannya dari kuasa Iblis. Di situ pula terjadi keajaiban dalam hidupnya, yang hanya bisa ia mengerti kemudian secara berangsur-angsur.

Sebelum bertemu Yesus, Maria dari Magadan adalah seorang wanita yang perlu dikasihi. Ia baru menyadari hal ini ketika ia melihat orang-orang lain yang dirasuki setan. Mereka tidak lagi pantas hidup di tengah-tengah masyarakat. Mereka lebih mirip binatang daripada manusia, mereka hidup di gua-gua -- orang-orang gila yang wajahnya tidak keruan dan matanya liar. Mereka diciptakan Allah, tetapi dikuasai Iblis.

Setelah Yesus memerintahkan ketujuh roh jahat keluar dari Maria, semuanya berubah. Rohnya dilepaskan dari belenggu, kaki tangannya yang kaku menjadi lemas kembali. Tatapan matanya menjadi teduh. Ia tidak tahu bagaimana menceritakan dengan tepat apa yang telah terjadi padanya. Pengalaman itu terlalu ajaib untuk diurai dengan kata-kata. Hanya Yesuslah yang tahu segala sesuatunya secara sempurna. Sebab itu, Maria meninggalkan kota Magadan dan mengikut Yesus.

Maria Magdalena ingin selalu dekat dengan Yesus karena beberapa alasan. Pertama, pengalamannya membuatnya menyadari bahwa dia tidak dapat meremehkan kuasa Iblis. Jika ia tidak tinggal dekat Tuhan, yang unggul atas Iblis, ia sendiri tidak akan berdaya melawannya. Jika Iblis menguasainya lagi, keadaannya akan lebih buruk dari sebelumnya. Tetapi, itu bukan satu-satunya alasan Maria untuk selalu tinggal dekat Kristus. Kasih dan rasa syukurnya kepada Tuhan membuat dia ingin melakukan lebih banyak lagi. Ia tidak mau hanya duduk-duduk di rumah sambil menceritakan semua yang terjadi padanya kepada penduduk Magadan.

Maria Magdalena yang dulu dirasuk setan, kini telah menerima gairah yang baru karena ia membiarkan Yesus menguasai dirinya. Yesus telah membawanya keluar dari kegelapan menuju terang. Perubahan ini memengaruhi masa depannya. Sejak itu, ia hanya mengakui satu Tuhan dan akan mengikuti-Nya seumur hidupnya. Sebab itu, ia mengikuti Yesus dan murid-murid-Nya, sama seperti para perempuan lain yang juga telah dibebaskan dari kuasa Iblis.

Pagi itu, jalanan masih sepi. Matahari belum terbit. Kegelapan masih menutupi kota Yerusalem, tetapi Maria Magdalena dan beberapa wanita yang lain berjalan menuju ke kubur Yesus. Mereka telah menghentikan kegiatan mereka pada hari Jumat malam karena mereka harus menaati peraturan hari Sabat. Maria berjalan paling depan dalam rombongan itu. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal dan dia tidak tertarik pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Berkali-kali, ingatannya melayang kembali ke peristiwa beberapa hari yang lalu, saat mereka berjalan dari Galilea menuju Yerusalem. Para murid dan beberapa perempuan sedang merasa berat hati karena Yesus telah menceritakan kepada mereka apa yang akan dialami-Nya.

Meski Yesus sudah menubuatkan apa yang akan dialami-Nya, mereka memasuki Yerusalem dalam suasana pesta. Orang banyak menyongsong mereka dalam kemeriahan. Dan, sambil menyerukan kata-kata pujian, banyak dari mereka menghamparkan pakaian ataupun dahan-dahan palem ke jalan yang akan dilalui Yesus. Tetapi, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, penduduk Yerusalem itu juga meneriakkan, "Enyahkan Dia! Salibkan Dia!"

Sejak itu, penderitaan Guru Maria Magdalena memasuki berbagai macam tahap. Namun, Maria terus mengikutinya dengan setia sampai akhir hidupnya. Ia hadir di gedung pengadilan ketika orang banyak menuntut nyawa-Nya. Ia mendengar Gubernur Pilatus menyerahkan-Nya kepada kemarahan musuh-musuh-Nya. Perasaannya mencekam saat melihat orang-orang mengejek dan menganiaya Gurunya, Orang yang selama ini telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepadanya. Ia mengikuti Gurunya ketika Ia membawa salib-Nya keluar dari tempat Pilatus menuju Golgota, tempat hukuman mati akan dijalankan. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang menyiksa-Nya sampai Ia jatuh terjerembab karena beban salib-Nya yang terlalu berat. Ia merasa sangat sedih, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk Orang yang telah melakukan semuanya baginya.

Di dekat salib, Maria Magdalena dan para perempuan lain menyaksikan tangan dan kaki Yesus ditembus paku. Mereka melihat tentara menikam lambung-Nya dengan tombak. Saat itu, mata Maria mencari murid-murid Yesus, tetapi mereka tidak terlihat, kecuali Yohanes. Siang itu, langit tiba-tiba menjadi gelap selama 3 jam dan terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Dari semua peristiwa itu, yang paling berkesan bagi Maria adalah seruan Yesus sesaat sebelum mati, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Maria bertanya-tanya, "Mengapa Yesus ditinggalkan oleh Allah dan oleh manusia? Mengapa Ia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri? Bukankah Dia berkuasa? Bukankah Dia lebih berkuasa dari Iblis dan maut? Mengapa Ia tidak menggunakan kekuasaan-Nya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri? Mengapa?"

Meskipun penderitaan Tuhan Yesus sangat mengerikan untuk dilihat, Maria dari Magadan tetap tinggal di situ sampai semuanya selesai, dan Tuhan Yesus berkata, "Sudah selesai." Ia tidak dapat meninggalkan Gurunya yang sangat berarti baginya, lebih dari siapa pun. Ia hadir dalam pemakaman-Nya dan setelah itu, ketika semua orang sudah pulang, kecuali Maria ibu Yakobus dan Yusuf, ia tetap tinggal dekat kubur. Ia tidak meninggalkan tempat itu sampai hukum Yahudi mengharuskannya pulang karena hari Sabat sudah dimulai.

Setelah lewat hari Sabat, perempuan-perempuan itu pergi ke kubur. Dalam perjalanan ke sana, terlintas dalam benak mereka kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. "Bagaimana kita dapat menggulingkan batu yang menutupi pintu kubur itu?" tanya seorang kepada yang lain. Selain itu, Pilatus juga telah menempatkan para penjaga supaya para murid tidak mencuri mayat Yesus.

Saat mereka hampir sampai ke kubur, dari jauh mereka sudah melihat batu besar itu. Tiba-tiba, mereka menahan napas. Apakah penglihatan mereka benar, tidak salah? Tidak, kubur itu benar-benar sudah terbuka. Batu penutup kubur itu telah digulingkan. Maria Magdalena langsung berbalik tanpa melihat ke dalam kubur itu terlebih dahulu. Ia berlari secepat mungkin ke rumah Petrus dan Yohanes. "Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan," kata Maria terengah-engah.

Mereka pergi ke kubur Yesus, kali ini mereka masuk ke kubur itu. Mereka mendapati kain kafan itu terlipat rapi. Jadi, mayat Yesus bukanlah dicuri. Murid-murid pulang dengan hati yang penuh tanda tanya. Namun, Maria tidak meninggalkan tempat itu. Ia tetap tinggal di luar kubur dengan air mata yang mengalir. Sambil menangis, ia melihat ke dalam kubur untuk terakhir kalinya. Namun, ia melihat dua malaikat berpakaian putih cemerlang duduk di tempat mayat Yesus pernah dibaringkan.

"Ibu, mengapa engkau menangis?" tanya mereka.

"Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan," jawab Maria sambil mengusap air matanya. Ia kemudian berjalan keluar kubur dan melihat seorang lain berdiri di luar. "Itu tukang kebun atau Yusuf dari Arimatea," pikirnya. Tanpa pendahuluan apa-apa, Maria berkata pada orang itu, "Tuan, jika tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilnya."

Sejak pertobatannya, Maria Magdalena setia kepada Tuhannya. Ia terus berada di dekat salib sampai saat-saat terakhir dan dia adalah orang pertama yang datang ke kubur Yesus. Di kubur itu, ia ingin melengkapi pernyataan kasihnya kepada Gurunya dengan satu perbuatan lagi, yaitu mengurapi mayat Tuhan Yesus dengan minyak rempah-rempah.

Setelah itu, ia mendengar suara Yesus, "Maria!"

Hanya Satu orang yang dapat mengucapkan namanya dengan nada demikian. Tidak ada orang lain yang dapat memberikan kesan mendalam seperti itu, penuh kehangatan yang memancar sampai ke dalam jiwa. Hati Maria dipenuhi dengan berbagai macam perasaan: takjub, sukacita, dan rasa syukur. Ia pun menyembah-Nya dengan kasih dan rasa hormat. "Rabuni," hanya itu yang dapat dikatakan Maria. Maria menjadi saksi pertama dari kebangkitan Yesus. Inti kebenaran yang menjadi kunci penyelamatan itu diungkapkan kepadanya. Sungguh, suatu hak yang istimewa!

Tuhan membuktikan bahwa Ia hidup lagi. Sejak itu, segalanya berubah. Ketika Maria hendak memegang kaki-Nya, Ia melarang. "Jangan engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa," katanya, "Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Dengan demikian, Yesus menjadikan Maria sebagai orang pertama yang memberitakan kebangkitan-Nya. Kehormatan itu tidak Ia berikan kepada Yohanes, sahabat-Nya yang paling akrab, atau Petrus, murid-Nya yang paling menonjol, atau bahkan, kepada ibu-Nya sendiri.

Cerita tentang Maria Magdalena begitu menarik sehingga diceritakan oleh keempat penulis Injil. Namanya selalu disebutkan pertama dalam penyebutan beberapa orang perempuan, kecuali pada peristiwa penyaliban, yang sudah sewajarnya kalau nama ibu Yesus disebutkan pertama. Nama Maria Magdalena muncul empat belas kali dalam Injil. Setiap penulis Injil juga menuliskan bahwa setelah bangkit, Yesus pertama kali menampakkan diri kepada Maria Magdalena.

Sayangnya, nama Maria Magdalena sering kali dihubungkan dengan pelanggaran susila. Orang-orang membicarakannya seakan-akan dia seorang perempuan tidak bermoral, seorang pelacur. Mungkin, pemikiran itu berasal dari Talmud Yahudi (kumpulan tulisan dari orang-orang Yahudi di abad pertama), yang menyatakan bahwa Magadan mempunyai reputasi yang tidak baik dan kota itu dimusnahkan karena kejahatan seks.

Titik kelemahan yang dipakai Iblis untuk memasuki kehidupan Maria tidaklah diketahui. Alkitab hanya menceritakan bahwa Iblis pernah menguasainya, bukan mengenai perbuatan asusila. Sebelum bertemu Yesus, hidup Maria bagaikan mimpi buruk yang menjemukan. Namun, hidupnya berubah menjadi berarti setelah bertemu Yesus. Pada pagi hari kebangkitan Yesus itu, kehidupan baru Maria di dalam Kristus mendapat tambahan dimensi lagi. Hubungan manusiawi dengan Gurunya telah berakhir, tetapi hubungan yang baru, yang rohani telah dimulai.

Pada hari Pentakosta, Maria mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya mengapa Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya dari kematian. Yesus bukan saja Tuhan, Ia juga Kristus, Juru Selamat, menurut khotbah Petrus yang penuh kuasa. Petrus kemudian menjelaskan kematian Kristus secara lebih luas. "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh."

Allah meninggalkan Anak-Nya di kayu salib karena Ia mengasihi manusia. Ia ingin setiap orang yang percaya kepada Kristus memperoleh hidup yang kekal. Kristus naik ke surga, tetapi Roh Kudus-Nya diturunkan untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman, serta untuk menuntun orang kepada kebenaran Allah.

Roh Kudus yang sama juga telah menolong Maria untuk terus hidup dekat dengan Kristus. Ia memberikan kuasa kepada Maria untuk dapat bersaksi tentang Kristus. Maria juga mengalami apa yang ditulis Paulus kemudian, "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka."

Sejak zaman Maria Magdalena itu, telah hidup jutaan perempuan lainnya, tetapi kebanyakan nama mereka telah dilupakan. Namun, nama Maria terus diingat. Ketika para ahli menemukan kota Magadan dua ribu tahun kemudian, kota itu mengingatkan mereka pada Maria Magdalena, dan berita itu sampai kepada pers internasional. Selama berabad-abad, para pujangga dan pelukis telah diilhami olehnya. Sebagai contoh adalah pelukis dari Flanders, Peter Paul Rubens, dalam lukisannya yang terkenal berjudul "Descent of The Cross".

Pertama-tama, cerita tentang Maria itu dipusatkan pada Yesus Kristus. Cerita itu menunjukkan kasih Tuhan kepada seseorang dan kuasa-Nya atas Iblis. Namun, cerita itu juga jelas menunjukkan perhatian-Nya kepada seorang perempuan. Cerita tentang Maria menggambarkan kenyataan bahwa Allah benar-benar menyediakan hak-hak istimewa bagi kaum perempuan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya karena kasih dan rasa syukurnya.

Diringkas dari:

Judul asli buku : Her Name Is Women (Book 2)
Judul buku terjemahan : Ia Dinamai Perempuan
Judul bab : Maria Magdalena, Seorang Perempuan yang Berjalan di Garis Depan dalam Mengikut Tuhan Yesus
Penyunting : Ny. Pauline Tiendas dan Yosep Kurnia, S.S.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2010.
Halaman : 272 -- 283

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru