Bio-Kristi No.123 September 2013

warning: Creating default object from empty value in /home/sabda/public_html/biokristi/modules/taxonomy/taxonomy.pages.inc on line 33.

Pengantar Bio 123 September 2013

Anugerah yang besar menuntut tanggung jawab yang besar pula. Pernyataan ini jelas tidak mengandung unsur pengecualian, bahkan ketika diterapkan pada kehidupan anak-anak Tuhan.

Gabriel Garcia Moreno

Pada Perayaan Transfigurasi, 6 Agustus 1875, seorang negarawan dibunuh oleh pembunuh Masonik di teras katedral di ibu kota negaranya. Banyak orang menyebut negarawan ini sebagai negarawan terbesar di dunia sejak masa Reformasi. Beberapa saat sebelum dibunuh, ia sedang menikmati Sakramen Kudus, sampai sebuah pesan palsu, yang mengatakan bahwa ia sangat dibutuhkan di tempat lain, membuatnya keluar.

Ia jatuh dari teras dan tergeletak di tanah. Kepalanya berdarah, lengan kirinya terputus, dan tangan kanannya terkena sabetan parang. Korban yang termasyhur itu mengenali para penyerangnya -- mengenal dalam arti mengetahui untuk siapa mereka bertindak. Beberapa catatan mengatakan bahwa ia terengah-engah saat mengucapkan kata-kata terakhirnya. Beberapa yang lain mengatakan bahwa ia mampu meneriakkan kata-kata terakhirnya dengan lantang. Namun, kedua sumber setuju bahwa korban mengatakan kata-kata ini sebelum napas terakhirnya, "Dios no muere!" 'Tuhan tidak mati'!

Keajaiban dalam Serangan Brutal

Kaum Revolusioner berharap bahwa terbunuhnya Garcia Moreno akan memicu sebuah revolusi yang akan menentang gereja Katolik Roma. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Bangsa Ekuador berkabung untuk presiden mereka, menganugerahi Garcia Moreno sebagai bapak dan pembaru Ekuador. Mereka menganggap Garcia sebagai seorang martir.