Skip to main content

Kisah Rut

Membaca Kitab Rut

Tergantung apakah Anda menggunakan versi Kristen atau Yahudi, Kitab Rut ditempatkan di antara Hakim-Hakim dan Samuel atau di antara Kidung Agung dan Ratapan. Namun, bagaimanapun kitab itu muncul dalam Alkitab Anda, Anda akan ingin mencarinya dan mempelajarinya lagi setelah membaca "Ruth -- Big Theme, Little Book" (Rut -- Cerita Besar, Kitab Pendek), yang aslinya diterbitkan dalam Bible Review (Ulasan Alkitab) edisi Agustus 1996. Dalam artikel ini, Adele Berlin berpendapat bahwa Rut menjelaskan tema utama Alkitab Ibrani: keberlangsungan umat Allah di negeri mereka. - Editor.

Rut -- Tema Besar, Kitab Pendek

Oleh Adele Berlin

Dalam versi Alkitab yang berbeda, Kitab Rut ditempatkan berbeda pula. Dalam Alkitab Kristen, kitab itu diselipkan di antara Hakim-Hakim dan Samuel, di antara kitab-kitab sejarah. Dalam Alkitab Ibrani, kitab itu ditempatkan jauh berbeda, di bagian ketiga, yang dikenal sebagai Tulisan-Tulisan. Kitab itu tampak tidak terlalu cocok berada di antara kitab-kitab dalam Alkitab. Jika hal ini memberi kesan bahwa kitab Rut merupakan anomali, saya hendak menunjukkan bahwa sebaliknya, hubungan tematiknya dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan secara umum.

Di permukaannya, kitab Rut merupakan cerita pendek yang berdiri sendiri, tidak terhubung ke urutan narasi Kejadian hingga Raja-Raja. Kisahnya dimulai bukan di Israel ataupun Yehuda, melainkan di Moab, tempat orang Israel Naomi dan suaminya, Elimelekh, serta kedua anaknya, Mahlon dan Kilyon, pergi selama kelaparan di Yehuda. Di sana, suaminya mati, dan kedua anaknya menikahi perempuan Moab bernama Rut dan Orpa.

Gambar: Kisah Rut

Saat ceritanya dimulai, anak-anak Naomi baru saja mati. Setelah tiga kali kehilangan figur penyedia bagi mereka, Naomi memutuskan untuk pulang ke Yehuda karena dia mendengar bahwa Tuhan telah memberikan makanan kepada umatnya di Betlehem. Dia mendorong Rut dan Orpa agar tetap tinggal di Moab bersama keluarga orang tua mereka. Orpa setuju, tetapi Rut menolak dengan perkataan yang bergema:

"... ke mana engkau pergi, aku pun akan pergi. Di tempat engkau akan menetap, aku pun akan menetap. Bangsamu akan menjadi bangsaku, dan Allahmu akan menjadi Allahku. Di tempat engkau mati, aku pun akan mati dan di sanalah aku akan dikuburkan. Kiranya TUHAN berbuat demikian kepadaku, dan lebih dari itu, biarlah hanya kematian yang akan memisahkan aku dan engkau." (Rut 1:16-17, AYT)

Bersama-sama, mereka pergi ke kampung halaman Naomi di Betlehem.

Namun, setibanya di sana, mereka harus memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Oleh karena waktu itu adalah musim untuk menuai jelai, Rut memutuskan untuk memungut jelai dari ladang. Meski dia tidak mengetahuinya, ladang yang dia pilih adalah kepunyaan seorang kerabat Elimelekh yang kaya bernama Boas. Saat Boas mengunjungi ladangnya dan mendengar tentang kesetiaan Rut terhadap kerabatnya, Naomi, dia memerintahkan kepada para pekerjanya untuk mengizinkan dia memungut jelai tanpa diganggu, bahkan agar mereka meninggalkan jelai tambahan di sepanjang jejaknya.

Sementara itu, dalam upaya untuk mencarikan suami bagi Rut, Naomi menasihatkan kepadanya untuk pergi ke pengirikan pada malam ketika Boas menampi jelai, untuk mandi dan mempersiapkan dirinya, lalu menyingkapkan kaki Boas dan berbaring di sebelahnya saat dia tertidur. Rut pun melakukannya. Saat Boas terbangun, terkejut mendapati Rut berada di kakinya, Rut memintanya untuk membentangkan jubahnya atasnya -- suatu tindakan simbolis untuk menggambarkan pendukungan -- karena Boas adalah "penebus", yaitu orang yang berhak menebus kepunyaan Elimelekh dan pada saat yang bersamaan menikahi janda anak-anaknya dengan tujuan "untuk melanjutkan nama orang itu melalui milik pusakanya" (Rut 4:5). Boas, yang terkesan karena Rut telah memilihnya, seorang yang lebih tua, karena kesetiaan terhadap keluarga, menyetujui dengan antusias untuk menebus dia, asalkan penebus lain di Betlehem yang lebih dekat kepada mereka tidak menginginkan Rut untuknya sendiri.

Perkara itu pun segera terselesaikan. Saat Boas dan kerabat yang berhak itu bertemu di gerbang kota, kerabat yang lain itu berkata kepada Boas, "Ambillah hakku untuk menebus bagi dirimu sendiri apa yang seharusnya aku tebus, sebab aku tidak dapat menebusnya" (Rut 4:6). Dan, sebagaimana kebiasaan di Israel pada waktu itu, Boas melepaskan sandalnya untuk mengesahkan transaksi bahwa dia yang akan menjadi penebus, lalu berkata kepada para saksi mata:

"Pada hari ini, engkau semua menjadi saksi bahwa aku telah membeli dari tangan Naomi semua yang menjadi milik Elimelekh dan semua yang menjadi milik Kilyon dan Mahlon. Selain itu, Rut, perempuan Moab itu, janda Mahlon, telah aku beli menjadi istriku untuk melanjutkan nama orang yang telah mati itu melalui milik pusakanya supaya nama orang yang sudah mati itu tidak akan putus dari antara saudara-saudara dan pintu gerbang dari tempat asalnya." (Rut 4:9-10, AYT)

Demikianlah mereka menikah dan memiliki anak, Obed, yang adalah "ayah Isai, ayah Daud" (Rut 4:17).

Fakta bahwa kitab Rut dibacakan di sinagoge pada hari raya Shavuot, yang memperingati hari Allah memberikan Hukum Taurat (Lima Kitab Musa), mengingatkan kita tentang kemungkinan koneksinya dengan Taurat. Meski demikian, baik penjelasan umumnya (bahwa Shavuot merayakan panen jelai musim semi, yang membentuk latar kitab tersebut) dan berbagai penjelasan yang lebih jarang diketahui (bahwa Daud, cicit Rut, mati pada hari raya Shavuot atau bahwa kesetiaan Rut kepada Naomi menggambarkan kesetiaan Israel kepada Taurat) hanya menyentuh koneksi yang bersifat dangkal atau jelas-jelas merupakan upaya midrasik[1] untuk membentuk suatu koneksi.

Saya mengajukan hubungan yang jauh lebih mendasar dan berjangkauan luas antara Rut dan Taurat -- benar, dengan seluruh Alkitab -- suatu hubungan yang masuk hingga ke inti dari tema Alkitab secara menyeluruh.

Tema yang menyatukan kitab-kitab dari Kejadian hingga Raja-Raja dan menerangkan sebagian besar dari Kitab Para Nabi dan Tulisan-Tulisan adalah negeri dan umat Israel. Perjanjian Allah dengan Abraham terletak pada intinya. Allah berfirman kepada Abraham:

"Angkatlah matamu, dan dari tempatmu berdiri ini, pandanglah ke arah utara dan selatan, serta ke timur dan ke barat, sebab seluruh tanah yang kaulihat itu akan Aku berikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selamanya. Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah sehingga jika ada orang yang dapat menghitung jumlah debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung." (Kejadian 13:14-16, AYT)

Pasal-pasal pertama dalam kitab Kejadian merupakan pendahuluan terhadap perjanjian ini, menjelaskan tentang penciptaan semua daratan di dunia dan segala orangnya, hingga narasinya berfokus pada satu keluarga khusus: keluarga Abraham. Kitab Kejadian selebihnya berkonsentrasi pada pertumbuhan keluarga ini ("bangsa") saat mereka pindah dari Haran ke Kanaan, ke Negev, ke Mesir, ke Hebron, ke Dan, dan ke Bersyeba. Pada akhir kitab Kejadian, keluarga besar itu berdiam di Mesir.

Keluarga Abraham pertama kali disebut bangsa dalam kitab Keluaran: Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita" (Keluaran 1:8-9, AYT).

Narasi dari Keluaran hingga Ulangan mengaitkan kembalinya bangsa ini dari Mesir ke tanah yang telah dijanjikan kepada mereka. Bagian dari tradisi Yahudi yang dikenal dengan sebutan "Nabi-Nabi Awal" (Yosua, Hakim-Hakim, Samuel, dan Raja-Raja) menjelaskan secara mendetail tentang kemalangan bangsa tersebut di tanah perjanjian, hingga, pada akhir kitab Raja-Raja, raja Babel, Nebukadnezar, menaklukkan wilayah Yehuda dan mengirim orang-orang di dalamnya ke pembuangan. Ezra/Nehemia menceritakan kembalinya bangsa itu ke tanah perjanjian dan pemulihan komunitas di dalamnya.

Kitab Rut juga merupakan kitab tentang pembuangan dan kepulangan, tentang negeri dan bangsa. Seperti Abraham, dan seperti keluarga Yakub (lihat kisah Yusuf), keluarga Elimelekh dipaksa pergi oleh kelaparan dari rumahnya di tanah Israel, lalu bertahan hidup di negeri asing. Saat kelaparan mereda, Naomi pulang ke Betlehem. Jauh dari perpindahan yang sederhana, pentingnya pulang ditekankan dalam pasal 1 dengan repetisi kata 'shuv', "pulang", sebanyak dua belas kali saat Naomi menyuruh pada menantu perempuannya pulang ke keluarga mereka di Moab dan saat dia pulang ke Yehuda bersama dengan Rut. Secara teknis, Rut tidak dapat pulang ke Betlehem karena perempuan Moab itu tidak pernah ke sana sebelumnya. Kepulangannya adalah kepulangan Naomi; Rut dikenal di Betlehem sebagai "perempuan yang pulang bersama-sama dengan Naomi" (Rut 2:6).

Tanah memainkan peranan besar dalam kitab Rut. Pertama, Rut menetapkan keterhubungan fisik dengan negeri yang baru saja dia adopsi saat dia memungut jelai di ladang Boas. Kedua, dan lebih rumit, Naomi menawarkan sebidang tanah yang tadinya milik suaminya, Elimelekh, untuk dibeli atau ditebus.

Transaksi ini menimbulkan beberapa pertanyaan hukum, tetapi yang lebih penting, warisan tanah yang tepat memiliki signifikansi khusus dalam Alkitab. Tanah tidak seharusnya dijauhkan dari pemilik aslinya atau dari keturunan pemilik aslinya. Prinsip ini terletak di balik banyak hukum dan narasi Alkitab -- mulai dari pembagian harta antara Lot dan Abraham, saat Lot memilih dataran Sungai Yordan dan Abraham tetap tinggal di tanah Kanaan (Kejadian 13:9-12); hingga klaim anak-anak perempuan Zelafehad, yang mendapatkan hak untuk mewarisi tanah pusaka saat ayah mereka mati tanpa memiliki anak laki-laki (Bilangan 27); hingga hukum tentang tahun Yobel saat tanah dikembalikan kepada pemilik aslinya (Imamat 25); dan hukuman yang jatuh kepada Raja Ahab dan Ratu Izebel karena membuat Nabot terbunuh supaya mereka bisa mendapatkan kebun anggurnya (