Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

You are hereKarya / Lillian Trasher Terpaksa Meninggalkan Mesir

Lillian Trasher Terpaksa Meninggalkan Mesir


Peradaban Sungai Nil merupakan salah satu yang paling kuno di dunia. Akan tetapi, seorang wanita Kristen pada awal abad ke-20 kemudian terkenal sebagai "Ibu Sungai Nil". Apa yang dilakukan Lillian Trasher untuk mendapatkan kehormatan itu?

Lillian Traher

Lillian lahir di Boston dari keluarga Quaker (komunitas yang mengedepankan kehidupan Kristen yang saleh - Red.) yang pindah ke Georgia setelah Perang Saudara di Amerika Serikat. Meskipun dia meninggalkan rumahnya di Boston yang indah untuk pindah ke lahan pertanian yang kurang menghasilkan uang, dia senang dengan perubahan itu. Kemudian, ketika dia harus tinggal di Mesir dengan makanan seadanya dan bekerja keras, dia sudah terbiasa dengan hal itu. Para tetangga mengatakan kepadanya bahwa dia dapat memiliki hubungan yang benar dengan Kristus dan dia memercayai mereka. Ketika masih muda, dia pergi ke hutan dan berdoa, "Tuhan, aku ingin menjadi gadis kecil-Mu." Kemudian, dia menambahkan kata-kata yang berani, "Tuhan, jika aku dapat melakukan sesuatu untuk-Mu, beritahukan kepadaku dan aku akan melakukannya."

Setelah gagal mendapatkan pekerjaan di kantor surat kabar yang benar-benar diinginkannya (dia dipekerjakan, tetapi seorang staf secara keliru mengatakan kepadanya bahwa pekerjaan itu telah diberikan kepada orang lain) dia melayani di sebuah panti asuhan North Carolina yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip iman. Dia bertemu Tom dan merasa yakin bahwa pria itu akan menjadi suaminya. Sepuluh hari sebelum pernikahan yang sudah direncanakan, dia mendengar seorang misionaris dari India berbicara dan tahu bahwa Allah menginginkannya untuk menjadi misionaris. Sembari menangis tersedu-sedu, dia membatalkan rencana pernikahannya dan memberi tahu Tom bahwa dia akan pergi ke Afrika.

Gereja Holiness tempat dia berjemaat tidak dapat mendukungnya. Jadi, dia menjual semua kepunyaannya yang sedikit dan mengumpulkan uang untuk pergi. Seorang saudarinya menggunakan uang itu untuk membayar utang, meninggalkan Lillian dengan $18 -- yang hanya cukup untuk membawanya ke Washington, DC. Dia tetap berangkat, meyakini bahwa Tuhan yang akan menyediakan. Dan, Dia memang melakukannya.

Pada 1910, dia berada di Mesir. Kemudian, datanglah tahun-tahun keputusasaan yang panjang. Dia makan makanan yang paling tidak enak, termasuk Besara, sereal yang dia benci. Dia bahkan tidur di penjara saat tengah membangun kepercayaan dengan otoritas lokal. Akhirnya, dia mengumumkan bahwa Allah akan membangun panti asuhan Kristen yang besar di Mesir, yang akan beroperasi berdasarkan iman.

""Tuhan, jika aku dapat melakukan sesuatu untuk-Mu, beritahukan kepadaku dan aku akan melakukannya." Lillian Trasher
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Allah akan melakukan hal itu. Namun, Mesir memasuki masa gejolak politik. Orang-orang Inggris memerintahkan agar Lillian keluar dari negara itu. Pada hari itu, 27 Maret 1919, dia berdiri di geladak kapal dan menangis. "Mesir, aku mencintaimu!" katanya, bersumpah untuk kembali. Di Amerika Serikat, Assemblies of God yang baru dibentuk menerima Lillian di tengah-tengah mereka. Dia kembali ke Mesir pada 1920, dan berjanji kepada Tuhan bahwa dia akan menerima siapa pun yang Allah kirimkan ke panti asuhannya. Mereka bergantung kepada-Nya untuk menyediakan makanan dan dana.

Dia menepati janjinya. Dan, Tuhan juga menggenapi janji-Nya. Lillian menjadi terkenal di seluruh dunia. Itulah sebabnya dia dikenang sebagai "Ibu Sungai Nil."

Bibliografi:

  1. Durkin, Jim. "The Profound Impact of Lillian Thrasher [sic] on My Life." http://verbo.org/site/durkin17.htm
  2. Howell, Beth Prim. "Lady on a Donkey." New York: E.P. Dutton, 1960.
  3. Berbagai ensiklopedia misi dan artikel internet.

(t/N.Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Christianity.com
Alamat situs : https://christianity.com/church/church-history/timeline/1901-2000/lillian-trasher-forced-to-leave-egypt-11630719.html
Judul asli artikel : Lillian Trasher forced to Leave Egypt
Penulis artikel : Dan Graves

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru