Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereMisionaris / Bonifasius

Bonifasius


Hampir seperti Elia di atas bukit Karmel, Bonifasius, misionaris berdarah Sakson dari Inggris, melawan kekafiran di jantung negeri Jerman.

Di hadapannya ada Pohon Petir yang besar, sebuah tanda perbatasan setempat yang dikeramatkan bagi dewa petir oleh orang-orang kafir. Bahkan sebagian orang yang sudah bertobat dan menjadi Kristen karena ajaran-ajaran Bonifasius, diam-diam masih menyembah pohon tersebut.

Dengan berani Bonifasius menentang penyembahan sesat ini. Ia memunyai sebuah kapak di tangannya. Sebagai wakil Allah yang sejati bagi orang-orang Kristen, ia memusnahkan lambang Iblis tersebut. Ia menebang "pohon suci" tersebut dengan kapaknya dan Pohon Petir itu pun tumbang dengan suara gemuruh.

Itulah legendanya, benar atau tidak, sekurang-kurangnya cerita ini mengungkapkan keberanian dan iman yang ditampilkan Bonifasius melawan kepercayaan yang salah.

Bonifasius dilahirkan dalam keluarga Kristen di Wessex pada tahun 680. Nama aslinya ialah Winfred. Ia dilatih di sebuah biara Benediktus dan ditahbiskan pada usia 30 tahun. Ia dianugerahi keterampilan untuk belajar dan memimpin. Sebenarnya, ada peluang baginya di Inggris untuk belajar, mengajar, dan mungkin juga memimpin sebuah biara, namun ia merasa terpanggil untuk orang-orang yang belum mengaku percaya kepada Kristus. Beribu-ribu orang Sakson di wilayah Belanda dan Jerman sangat membutuhkan Injil.

Pada tahun 716, Winfred berangkat ke Frisia, tempat para misionaris Inggris telah mengerjakan ladang berpuluh-puluh tahun lamanya. Raja Frisia, Radbod, menentang kekristenan. Tekanan di situ sangat kuat dan Winfred pun kembali ke Inggris. Inilah kegagalan misinya yang pertama.

Teman-temannya di biara Benediktus memintanya menjadi kepala biara. Setelah pengalaman yang menyakitkan di Frisia, ia mungkin saja tergiur dengan tawaran ini, tetapi visi Winfred masih mengarah ke luar. Ia pergi ke Roma pada tahun 718, dan di sana ia menerima tugas misionaris dari Sri Paus. Ia ditugaskan untuk pergi lebih jauh, melewati Sungai Rhein, dan mendirikan gereja di antara orang Jerman di sana.

Jerman umumnya telah terbuka untuk kekristenan jenis apa pun, namun tidak ada gereja yang kuat di sana. Pada abad keempat, suku-suku Jerman terikat dengan Arianisme yang mereka campurkan dengan takhayul mereka sendiri. Kemudian, para misionaris bangsa Kelt telah memenangkan sejumlah jiwa, tetapi mereka tidak pernah ada di bawah naungan organisasi gereja yang kuat. Sri Paus ingin sekali menghadirkan gereja yang kokoh di sana.

Mula-mula, Winfred mendatangi Thuringia untuk menghidupkan gereja yang mulai melemah di sana. Kemudian setelah ia mendengar bahwa musuhnya, Radbod, telah mati, ia kembali ke Frisia. Otoritas Sri Paus agaknya telah memberikan Winfred wibawa atas pemerintah setempat. Di sana ia bekerja selama 3 tahun, kemudian berpindah ke arah tenggara, ke Hesse.

Ia kembali ke Roma pada tahun 723 dan diangkat sebagai uskup. Itulah saatnya ia menerima nama barunya -- Bonifasius. Ia juga diberikan surat perkenalan untuk Charles Martel, raja suku Franka. Ketangkasan Charles di bidang militer sangat terkenal (ia yang memukul mundur pasukan Islam di Tours [di tengah-tengah negara Perancis modern, Red.]). Perlindungannya memberikan dukungan kuat bagi Bonifasius. Sekembalinya dari Hesse, Bonifasius melanjutkan pemusnahan kekafiran dan mendirikan gereja. Hal ini terjadi ketika ia menumbangkan Pohon Petir yang dianggap suci tersebut. Mungkin saja ketakutan warga pada Charles Martel yang mencegah mereka menjatuhkan Bonifasius, namun, hasil yang tampak ialah bahwa kekristenan menjadi kekuatan baru yang harus diperhitungkan di Jerman. Jika pohon suci mereka saja tidak dapat dilindungi para dewa orang Jerman, maka mereka tidak memiliki apa pun untuk dibandingkan dengan Allahnya Bonifasius.

Bonifasius menjadi daya tarik bagi sejumlah misionaris dari Inggris. Para biarawan dan biarawati ingin sekali melayani bersamanya. Dengan bantuan mereka, ia mendirikan organisasi gereja yang kuat di seluruh kawasan itu. Ironisnya, pelindungnya, Charles Martel sedang mengupayakan perubahan gereja di antara orang-orang Franka. Charles mengambil kuasa atas gereja-gereja di sana dengan merampas tanah mereka dan menjual instansi-instansi gereja. Hanya setelah ia wafat, pada tahun 741, Bonifasius dapat memulihkan gereja Franka tersebut.

Pada tahun 747, Bonifasius sekali lagi ke Roma. Di sana ia diangkat menjadi Uskup Agung Mainz dan pemimpin spiritual seluruh Jerman. Namun, setelah melewati umur 70 tahun, ia berkeinginan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertinggal. Setelah mengundurkan diri dari jabatan uskup agungnya pada tahun 753, ia kembali ke Frisia, tempat ia memulai karya misionarisnya. Di sana ia memanggil kembali orang-orang yang telah ia baptis dan yang sekarang telah kembali ke kekafiran, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah yang belum dijangkau.

Pada hari Minggu Pentakosta tahun 755 di Dokkum, di sepanjang Sungai Borne, ia merencanakan kebaktian di tempat terbuka untuk mengajar dan meneguhkan orang-orang percaya baru. Ketika sedang berdiri di tepi sungai, sambil menyiapkan kebaktian, segerombolan penjahat kafir menyerangnya. Orang-orang yang ada di pihaknya mencoba melawan mereka, tetapi Bonifasius berteriak: "Hentikanlah dari pertikaian, anak-anakku. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Terimalah dengan tenang serangan maut sesaat ini, agar engkau dapat hidup dan memerintah bersama-sama Kristus selama-lamanya." Menurut saksi mata ia mati dengan Injil di tangannya.

Tidak ada yang dapat meragukan kesalehan, keberanian, ataupun kesetiaan pelayanan Bonifasius. Seperti yang ditulis sejarawan Kristen Kenneth Scott Latourette, "Tidak banyak, jika pun ada, misionaris Kristen yang telah menyajikan dengan lebih tepat, idealisme iman mereka yang hendak disebarluaskan dengan perilaku mereka. Rendah hati, meskipun ada kesempatan yang menggiurkan untuk mendapatkan posisi gerejawi yang tinggi; tanpa cacat skandal; seorang yang mandiri dan tekun berdoa; berani; mengorbankan diri sendiri; dan adil. Bonifasius adalah salah seorang panutan yang luar biasa bagi kehidupan Kristen."

Diambil dan disunting dari:

Judul artikel : 716: Bonifasius Berangkat sebagai Misionaris
Judul buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta
Halaman : 41 -- 43

 

Sumber: Bio-Kristi 55

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru