Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereTeolog dan Pendeta Lutheran / Dietrich Bonhoeffer

Dietrich Bonhoeffer


Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta gereja protestan Lutheran dan teolog yang aktif dalam perlawanan Jerman terhadap berbagai kebijakan Hitler dan Nazi.

Akibat perlawanannya terhadap rezim Nazi, Bonhoeffer ditangkap dan dieksekusi di kamp konsentrasi Flossian, di akhir-akhir bulan masa perang. Ia dikenang sebagai sebuah simbol penting dari perlawanan terhadap Hitler, dan pandangannya terhadap kekristenan semakin berpengaruh.

Bonhoeffer dilahirkan di Breslau, Jerman, pada tahun 1906. Keluarganya bukanlah keluarga yang religius, tetapi memiliki warisan yang kuat di bidang musik dan seni. Sejak masih sangat muda, Bonhoeffer telah menunjukkan bakat yang mengagumkan dalam bidang musik, dan musik menjadi hal yang penting di sepanjang kehidupannya. Keluarganya cukup terkejut ketika pada usia 14 tahun, ia menyatakan keinginannya untuk mendapat pelatihan dan menjadi seorang pendeta.

Pada tahun 1927, ia lulus dari Universitas Berlin. Ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang teologi untuk tesisnya yang sangat berpengaruh, Sanctorum Commnunio (Komuni Orang-orang Kudus). Setelah lulus, ia menghabiskan waktunya di Spanyol dan Amerika, yang memberinya wawasan yang lebih luas mengenai kehidupan dan menolongnya berpindah dari studi akademis kepada pemahaman Injil yang lebih praktis. Ia digerakkan oleh konsep keterlibatan gereja dalam ketidakadilan sosial dan perlindungan bagi mereka yang tertindas. Perjalanannya yang luas ke banyak tempat juga mendorong ketertarikannya yang lebih besar pada oikumene (persekutuan dengan berbagai denominasi gereja--red.).

Pada tahun 1931, ia kembali ke Berlin dan ditahbiskan menjadi pendeta pada usia 25 tahun. Awal tahun 30'an merupakan periode pergolakan besar di Jerman, dengan ketidakstabilan Weimar Jerman dan pengangguran massal pada masa Depresi Besar (Great Depression), yang mengarah pada pemilihan Hitler pada tahun 1933.

Sementara pemilihan Hitler diterima secara luas oleh penduduk Jerman, termasuk oleh bagian-bagian penting gereja, Bonhoeffer adalah penentang yang teguh terhadap filosofi Hitler. Dua hari setelah pemilihan Hitler sebagai Kanselir pada Januari 1930, Bonhoeffer melakukan siaran radio yang mengkritik Hitler, khususnya pada bahaya kultus pemberhalaan fuhrer (kata dalam bahasa Jerman yang berarti pemimpin--red.). Siaran radionya kemudian dihentikan saat masih mengudara.

Pada bulan April 1933, Bonhoeffer menunjukkan perlawanannya terhadap penganiayaan kepada orang-orang Yahudi, dan berpendapat bahwa gereja memiliki sebuah tanggung jawab untuk bertindak melawan kebijakan semacam ini. Bonhoeffer berupaya mengorganisasi Gereja Protestan agar dengan tegas menolak ideologi Nazi yang menyusup ke dalam gereja. Hal ini melahirkan sebuah gereja yang memisahkan diri -- Gereja yang Menjawab, Bonhoeffer membantu pembentukan gereja ini bersama dengan Martin Niemoller. Gereja yang Menjawab berusaha bertindak sebagai oposisi terhadap Nazi, yang didukung oleh gerakan Orang-orang Kristen Jerman.

Namun, dalam kenyataannya, sangat sulit untuk menyepakati prakarsa yang berani dalam menentang Nazifikasi terhadap masyarakat dan gereja. Bonhoeffer merasa kecewa dengan kelemahan gereja dan pihak oposisi. Pada musim gugur tahun 1933, ia setuju untuk menjabat suatu jabatan selama dua tahun di sebuah gereja Protestan berbahasa Jerman di London.

Setelah dua tahun berada di London, Bonhoeffer kembali ke Berlin. Ia merasakan panggilan untuk kembali ke negeri asalnya dan bersama-sama berjuang meskipun prospeknya suram. Tak lama setelah kembali ke Berlin, salah satu pemimpin Gereja yang Menjawab ditangkap dan pemimpin satunya melarikan diri ke Swiss. Otorisasi Bonhoeffer untuk mengajar dicabut pada tahun 1936 setelah dinyatakan sebagai seorang pasifis (orang yang percaya bahwa perang dan kekerasan tidak dapat dibenarkan--red.) dan musuh negara.

Seiring dengan pengawasan Nazi yang semakin diperketat, pada tahun 1937, seminari Gereja yang Menjawab ditutup oleh Himmler. Selama dua tahun berikutnya, Bonhoeffer melakukan perjalanan di sepanjang Jerman Timur, mengadakan seminari-seminari rahasia untuk mahasiswa-mahasiswa yang bersimpati padanya.

Selama periode ini, Bonhoeffer menulis panjang lebar dengan teologi sebagai subjek utamanya. Salah satunya adalah "The Cost of Discipleship" (Harga Sebuah Pemuridan), sebuah studi tentang Khotbah di Bukit dan alasan-alasan untuk memiliki disiplin dan praktik rohani yang lebih besar, demi meraih "anugerah yang mahal".

"Anugerah yang murah adalah anugerah yang kita berikan pada diri kita sendiri. Anugerah yang murah adalah pemberitaan pengampunan yang tidak mensyaratkan pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, Komuni tanpa pengakuan .... Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus, yang hidup dan menjelma menjadi manusia." (Dietrich Bonhoeffer, "The Cost of Discipleship")

Khawatir akan dipaksa mengambil sumpah setia kepada Hitler atau ditangkap, Bonhoeffer meninggalkan Jerman dan menuju ke Amerika Serikat pada bulan Juni 1939. Kurang dari dua tahun kemudian, ia kembali ke Jerman karena merasa bersalah telah mencari kenyamanan perlindungan, dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang dikhotbahkannya.

"Aku menyimpulkan bahwa aku telah membuat kesalahan dengan datang ke Amerika. Orang-orang Kristen di Jerman harus menghadapi alternatif mengerikan, yaitu bersedia menerima kekalahan negara mereka supaya peradaban Kristen dapat bertahan, atau bersedia menerima kemenangan negara mereka dan dengan demikian menghancurkan peradaban. Aku tahu alternatif mana yang harus harus kupilih, tetapi aku tidak bisa memilihnya dari suatu kenyamanan."

Dalam kepulangannya ke Jerman, Bonhoeffer tidak diberi hak untuk berbicara di depan umum atau menerbitkan suatu artikel. Akan tetapi, ia berencana bergabung dengan Abwehr, badan intelijen militer Jerman. Sebelum kunjungannya ke Amerika Serikat, Bonhoeffer sudah melakukan kontak dengan beberapa perwira militer yang menentang Hitler. Di dalam Abwehrlah, perlawanan terkuat terhadap Hitler terjadi. Bonhoeffer menyadari adanya berbagai rencana pembunuhan terhadap Hitler. Bonhoeffer mulai mempertanyakan pasifismenya (perjuangan dengan cara damai, red.) selama masa-masa terkelam dalam Perang Dunia Kedua karena ia melihat perlunya perlawanan keras terhadap rezim seperti Hitler.

Ketika Visser't Hooft, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia, bertanya kepadanya, "Apa yang Anda doakan hari-hari ini?" Bonhoeffer menjawab, "Jika Anda ingin tahu yang sebenarnya, aku berdoa untuk kekalahan bangsaku."

Dalam perlindungan Abwehr, Bonhoeffer bertindak sebagai pembawa pesan untuk gerakan perlawanan Jerman dalam skala kecil. Ia melakukan kontak dengan "rekan-rekan" pemerintahan Inggris -- meskipun mata-mata dari perlawanan Jerman diabaikan sebagai sekutu yang mengusahakan kebijakan dibutuhkannya "penyerahan tanpa syarat".

Di dalam Abwehr, usaha-usaha dilakukan untuk membantu beberapa orang Yahudi Jerman melarikan diri ke negara yang netral, yaitu Swiss. Keterlibatan Bonhoeffer dalam kegiatan inilah yang membuat ia ditahan pada bulan April 1943. Saat Gestapo (polisi rahasia Nazi, red.) berupaya mengambil alih tanggung jawab terhadap Abwehr, mereka menyibak keterlibatan Bonhoeffer dalam berbagai rencana pelarian. Selama satu setengah tahun, Bonhoeffer dipenjarakan dalam penjara militer Tegel. Di situ, ia melanjutkan tulisannya, seperti "Ethics". Dibantu oleh beberapa pengawal yang bersimpati padanya, tulisannya diselundupkan keluar. Setelah rencana pengeboman gagal pada tanggal 20 Juli 1944, Bonhoeffer dipindahkan ke penjara Gestapo yang memiliki tingkat keamanan tinggi sebelum dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald, dan akhirnya ke kamp konsentrasi Flossenburg.

Bahkan, selama penderitaannya di kamp konsentrasi, Bonhoeffer tetap mempertahankan kerohanian mendalam yang menjadi bukti imannya bagi tahanan lainnya. Bonhoeffer terus melayani rekan-rekan sesama tahanan. Payne Best, sesama narapidana dan petugas Angkatan Darat Inggris, menulis pengamatan ini tentang Bonhoeffer:

"Bonhoeffer seorang yang berbeda. Ia cukup tenang dan tampak biasa, tampak sempurna karena dapat bersikap santai .... Jiwanya benar-benar bersinar dalam gelap keputusasaan penjara kami. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah saya temui, yang dalam dirinya Tuhan tampak nyata dan pernah dekat dengannya."

Pada bulan April 1945, Bonhoeffer diajukan ke pengadilan militer yang berlangsung dengan cepat, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sama seperti para pembelot lainnya, ia digantung dengan kawat, untuk memperlama proses kematiannya. Ia digantung bersama dengan pembelot lainnya, seperti Admiral Wilhelm Canaris dan Hans Oster.

Hanya beberapa saat sebelum eksekusinya, ia meminta seorang sesama narapidana untuk menyampaikan pesan kepada Uskup George Bell dari Chichester "Inilah akhirnya. Tetapi, bagiku, ini adalah awal kehidupan".

Dokter di kamp konsentrasi yang menyaksikan proses eksekusi Bonhoeffer, pada akhirnya menulis:

"Saya melihat Pendeta Bonhoeffer ... berlutut di lantai untuk berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Saya sangat tersentuh oleh cara pria terkasih ini berdoa, begitu saleh dan begitu yakin bahwa Allah mendengar doanya. Di tempat eksekusi, ia kembali mengucapkan doa yang singkat dan kemudian naik beberapa langkah menuju tiang gantungan, dengan berani dan tenang. Kematiannya terjadi hanya dalam beberapa detik. Selama hampir 50 tahun saya bekerja sebagai dokter, sulit menemukan seorang pria yang mati dengan begitu tunduk pada kehendak Allah."

Teologi Bonhoeffer

Karena sifatnya yang terpisah-pisah, teologinya terbuka terhadap perdebatan. Akan tetapi, tema terpenting dari teologinya adalah:

"Tanggung jawab dari tindakan sosial untuk mewujudkan Injil yang ideal di tengah-tengah kehidupan. Ia juga memberikan keutamaan pada sifat utama Yesus Kristus, dan tanggung jawab orang Kristen untuk meniru kehidupan dan ajaran-ajaran-Nya. Secara khusus, ia berusaha mengajarkan pentingnya berjuang demi kesempurnaan rohani dan pengampunan dosa."

Prinsip perlawanan Bonhoeffer terhadap rezim Hitler merupakan sumber inspirasi bagi tokoh-tokoh perubahan lainnya, seperti Martin Luther King dan Uskup Desmond Tutu. Bonhoeffer juga memiliki banyak kesamaan ide dengan Mahatman Gandhi (Pada tahun 1935, ia menolak sebuah kesempatan untuk belajar di ashram Mahatma Gandhi). (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Biography Online
Alamat URL : http://www.biographyonline.net
Judul asli artikel : Dietrich Bonhoeffer Biography
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 12 Oktober 2013

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru