Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereKarya / Don Richardson

Don Richardson


Awal Kehidupan Don Richardson

Don Richardson lahir di Kanada pada tahun 1935. Setelah lulus SMA, Don mengambil studi ke Sekolah Alkitab Prairie di Alberta, Kanada. Di sana, ia bertemu dengan calon istrinya, Carol. Kencan, bagaimanapun, sangat tidak disarankan di Sekolah Alkitab. Satu hal yang diperhatikan oleh Don tentang Carol adalah komitmennya untuk mengasihi Yesus di atas segalanya dan untuk misi dunia. Setelah lulus dari Sekolah Alkitab, Don melanjutkan ke Summer Institute of Linguistics (SIL) sementara Carol belajar untuk menjadi seorang perawat berlisensi. Selama itu, Don dan Carol tetap menjalin relasi sampai mereka menikah. Keduanya membuat komitmen untuk menjadi misionaris.

Suku Sawi

Suku Sawi di Papua, Indonesia, dikenal karena pengkhianatan dan kebohongan mereka. Mereka akan menjadi teman sesuku dari suku sekitarnya. Mereka akan memberikan makanan kepada anggota suku dan mengundang mereka ke pesta untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Ketika kepercayaan mereka telah diperoleh, orang-orang dari suku akan membunuh pengunjung. Mereka kemudian akan makan daging dari orang yang mereka telah menyerang.

Inilah suku yang menjadi tujuan misi dari Richardson. Mereka tahu risiko besar yang mereka ambil untuk menjangkau suku ini, tetapi mereka tahu masalah itu cukup layak demi menjangkau mereka dengan Injil.

Yudas, Pahlawan Mereka

Pelayanan di antara suku Sawi adalah berat. Dengan bantuan seorang guru Sawi, Don belajar untuk berbicara dengan bahasa suku Sawi. Pada gilirannya, ia mengajar suku Sawi bagaimana menggunakan alat seperti kapak. Carol menyediakan klinik untuk merawat suku Sawi yang sakit.

Begitu Don bisa berbicara bahasa Sawi dengan lancar, ia mencoba untuk menjelaskan Injil. Anggota suku itu mendengarkan dengan sopan. Namun, orang-orang tidak melihat Yesus sebagai pahlawan, melainkan, Yudas karena pengkhianatannya terhadap Yesus. Ini mengejutkan Don. Dengan mentalitas suku Sawi, bagaimana ia bisa berbagi Injil dengan mereka? Jawabannya akan menjadi kejutan bagi Don.

Pertempuran

Orang-orang Sawi terbagi menjadi kelompok-kelompok yang berbeda. Richardson tinggal di kelompok yang pergi bertempur untuk melawan suku sekitarnya. Pertempuran berlangsung selama berbulan-bulan. Keluarga Richardson membantu orang yang terluka dengan usaha medis. Setelah berbulan-bulan pertempuran dan tidak ada yang bertobat, Richardson berada di ambang batas kekuatan mereka sendiri. Hingga saat itu, mereka telah mengandalkan pendidikan mereka. Mereka berada di titik, di mana mereka harus bergantung pada Tuhan. Keluarga Richardson membuat ultimatum. Kedua suku Sawi harus menghentikan pertempuran mereka di antara mereka sendiri atau mereka akan pergi. Suku Sawi ingin keluarga Richardson untuk tinggal, karena mereka membawa berbagai peralatan dan juga obat-obatan.

Perdamaian

Dua suku berkumpul untuk menjalani upacara anak perdamaian. Upacara anak perdamaian adalah acara di mana orang-orang dari suku yang berbeda bertemu bersama-sama, dan kepala suku menukar satu-satunya anak lelaki mereka. Ini adalah satu-satunya kasus di mana suku-suku tidak akan mengalami pengkhianatan apapun. Selama anak-anak itu hidup, suku-suku akan berdamai.

Analogi penebusan

Don menggunakan analogi ini untuk menyebarkan Injil. Ia mengatakan Yesus adalah anak perdamaian tertinggi. Selama Yesus hidup, akan ada perdamaian. Dari sini, Don berusaha menggunakan teori misi analogi penebusan. Ia berargumen bahwa setiap budaya memiliki analogi yang telah diatur Allah pada posisinya dalam rangka untuk menarik mereka pada diri-Nya sendiri ketika saatnya tiba.

Pertobatan

Dari ini, sejumlah besar orang Sawi datang untuk mengenal Yesus, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat jumlah petobat bertambah, sebuah gereja dibangun. Don pun menerjemahkan Perjanjian Baru ke Sawuy.

Bantuan terus masuk melalui misionaris lainnya. Mereka akan membawa pasokan medis dan bahan lainnya (seperti alat) untuk membantu orang-orang Kristen yang baru.

Warisan

Melalui kesaksian dari orang-orang Sawi, lima dari suku-suku sekitarnya datang kepada Yesus.

Tanpa semua peristiwa pembunuhan dan penyakit, umur panjang meningkat. Ketika Don dan putranya, Paul, pergi mengunjungi suku itu 50 tahun kemudian, masih ada orang yang hidup dari ketika Don menjadi seorang misionaris di sana. Beberapa dari mereka berusia 70-an.

Permusuhan di antara suku-suku sudah dihancurkan. Tidak ada lagi adalah orang-orang Sawi yang berbahaya. Sebaliknya, orang-orang dari berbagai suku bertemu di bawah gereja yang sama tanpa takut terjadi pengkhianatan.

Generasi muda memiliki keinginan untuk maju dan mengambil peran kepemimpinan dalam gereja. Mereka tidak ingin kembali ke cara lama dalam melakukan segala sesuatu seperti sebelum kedatangan para misionaris, melainkan ingin terus menjalani iman nenek moyang mereka yang telah diajarkan kepada mereka.

Konsep analogi penebusan telah digunakan para misionaris di seluruh dunia demi menjangkau orang lain dengan Injil. Misalnya, dengan orang-orang Karen di Burma, ada legenda bahwa buku hitam telah hilang, dan bahwa seorang pria kulit putih akan datang dan menyampaikan hal itu. Ketika seorang misionaris datang dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa mereka, legenda mereka membuka jalan baginya untuk berbagi Kabar Baik dan banyak orang bertobat karena pelayanannya. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Missions Box
URL : http://missionsbox.org/missionary-bio/don-richardson/#.WH3UfbnLKl0
Judul asli artikel : Don Richardson – Missionary to Indonesia
Penulis artikel : Tim Missions Box
Tanggal akses : 17 Januari 2017

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru