Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are herefilsuf / Francis Schaeffer Dan L`ABRI

Francis Schaeffer Dan L`ABRI


MASA BELAJAR

Francis Schaeffer (1912 -- 1984) lahir di Philadelphia, Pennsylvania. Meskipun lahir dalam keluarga Kristen, namun ia tidak dididik secara Kristen. Francis Schaeffer memilih menghadiri gereja Presbiterian Liberal sebagai tempat ibadahnya. Pada masa sekolah menengah, ia pun menjadi seorang agnostik (orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui -- red.). Schaeffer banyak membaca buku filsafat dan membaca Alkitab. Karena itu, akhirnya ia percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya jawaban yang memadai bagi pertanyaan-pertanyaan dasar dalam hidupnya.

Pada tahun 1930, dalam usia 18 tahun, Schaeffer bertobat. Hidupnya berubah secara drastis. Ia meninggalkan sekolah dagang dan memasuki perguruan tinggi. Tahun 1931, ia mulai kuliah di Hampden-Sidney College, Virginia. Tahun 1935, ia lulus dengan predikat "magna cum laude" dan merupakan mahasiswa Kristen yang paling menonjol di kelasnya.

Pada masa itu sedang terjadi pertentangan antara golongan modernis dan fundamentalis dalam gereja Protestan Amerika. Gereja Presbiterian Utara, denominasi Schaeffer, terpecah dan golongan teologi liberal mengambil alih kepemimpinan denominasinya. Puncaknya adalah ketika diadakan ceramah dan perdebatan tentang "mengapa Alkitab bukan firman Allah dan mengapa Yesus bukan Anak Allah". Dalam perdebatan tersebut, Schaeffer membela pandangan golongan ortodoks Kristen. Bersamanya ada seorang wanita, Edith Seville, yang memberikan pembelaan alkitabiah dan J. Gresham Machen, seorang pakar injili. Pada tahun 1935, Schaeffer menikah dengan Edith Seville. Kehidupan mereka selama 49 tahun dicirikan dengan pembelaan terhadap iman Kristen.

Pada tahun 1935, Schaeffer mulai kuliah di Westminster Theological Seminary sebagai persiapan memasuki bidang pelayanan. Di sini ia belajar di bawah bimbingan J. Gresham Machen dan Cornelius Van Til.

Pada tahun 1936, krisis teologi Gereja Presbiterian Utara berujung pada perpisahan antara golongan konservatif dan golongan modernis. Schaeffer merupakan salah seorang yang memisahkan diri.

PELAYANAN PASTORAL

Pada tahun 1938, Schaeffer memulai tugas kependetaan di Gereja Presbiterian Perjanjian di Grove City, Pennsylvania. Tiga tahun kemudian dipilih sebagai moderator The Great Lake Presbitery dari Gereja Presbiterian Alkitab, Chester, Pennsylvania; sekaligus sebagai pendeta di sana.

Pengalaman pelayanan pastoral Schaeffer membentuk pola kerja dalam hidupnya. Ia telah belajar bahwa apa pun tingkatan kehidupan seseorang, orang akan mengajukan pertanyaan dasar yang sama. Schaeffer mencoba menyajikan kebenaran dalam istilah-istilah yang dapat dimengerti semua anggota jemaatnya, apakah mereka itu dari kalangan pekerja atau dari golongan intelektual. Pada tahun 1943, Schaeffer dipanggil ke Gereja Presbiterian Alkitab di St. Lois, Missouri. Di sinilah ia melayani kaum muda yang akhirnya berkembang menjadi pelayanan kaum muda internasional.

Pada tahun 1947, selama pemulihan akibat Perang Dunia II, Schaeffer memperoleh cuti istimewa untuk mengadakan perjalanan ke Eropa. Selama di sana, ia mengamati keperluan rohani gereja yang memprihatinkan. Schaeffer merasa terpanggil untuk melayani di Eropa. Tahun 1948, Schaeffer dan keluarganya pindah ke Lausanne, Swiss, mendirikan badan penginjilan bagi anak-anak, Children for Christ. Di Eropa, Schaeffer terus berkhotbah melawan liberalisme dan aliran eksistensialisme.

KRISIS ROHANI

Tahun 1951, Schaeffer menghadapi krisis rohani. Di satu sisi, ia "merasakan beban yang kuat untuk memertahankan kekristenannya, tetapi di sisi lain, ia melihat kekristenan tidak banyak mengalami kemajuan". Masalah itu terkuak karena dua hal. Pertama, kehidupan kekristenan di kalangan ortodoks tidak terlihat jelas. Kedua, iman pribadinya bukanlah suatu pengalaman yang hidup dan penuh sukacita seperti sebelumnya.

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari Alkitab dan perenungan, ia berkesimpulan: "Sementara saya merenungkan kembali alasan mengapa saya menjadi orang Kristen, saya melihat kembali bahwa ada banyak alasan yang memadai untuk mengetahui bahwa Allah Yang Maha Kuasa yang bersifat pribadi benar-benar ada dan bahwa kekristenan itu benar."

L`ABRI

Pada tahun 1954, keluarga Schaeffer mengubah vila mereka menjadi sebuah tempat perlindungan orang-orang yang mencari pertolongan. Pada prinsipnya, pelayanan mereka (1) tidak akan meminta uang, tetapi lebih senang bila masalah mereka hanya diketahui Allah saja; (2) tidak akan melatih staf, tetapi tergantung sepenuhnya kepada Allah yang akan mengutus orang yang tepat bagi mereka; (3) hanya akan membuat rencana jangka pendek mengikuti pimpinan Allah; dan (4) tidak akan memublikasikan diri, tetapi percaya bahwa Allah akan mengirim mereka yang sedang dalam keperluan.

Pada tahun 1955, krisis besar mengancam pelayanan ini. Pemerintah setempat memutuskan bahwa izin tinggal bagi orang asing akan ditangguhkan. Tetapi Schaeffer percaya bahwa Allah menghendakinya untuk berada di Swiss. Ia membeli sebuah rumah, Vila les Melezes, di Huemoz. Akhirnya, izin untuk tinggal di Swiss diberikan oleh pemerintah federal dan pelayanan L`Abri dimulai. L`Abri menjadi sebuah "tempat perlindungan" bagi ribuan orang. Di vila tersebut, orang-orang dari pelbagai kalangan datang untuk mendengar Injil dan pengajaran.

APOLOGETIKA DAN KRITIK KULTURAL

Dalam Apologetika, Schaeffer membagikan aspek-aspek pengajaran Cornelius Van Til, terutama tentang praduga dan pemikiran religius. Argumentasinya adalah bahwa filsafat bukanlah suatu fungsi akademik yang terpisah, tetapi bahwa setiap orang memunyai pandangan hidup masing-masing. Dengan mendorong para penanya untuk mengikuti dengan saksama implikasi dari praduga religius mereka, ia memaksa mereka untuk menghadapi sudut pandang dunia yang dipegang mereka. Kritikan Schaeffer melacak adanya suatu perbedaan yang semakin mencolok dalam sejarah pemikiran Barat antara dunia empiris dan dunia yang dikenal, dan antara dunia metafisik dan yang dipertahankan dengan iman. Ia berargumentasi bahwa manusia modern telah terlibat dalam "suatu loncatan iman" untuk memersatukan keduanya, oleh karena itu mereka telah meninggalkan akal sehat dan menyangkal "kemanusiaannya". Ia berkata bahwa perlunya kekristenan yang alkitabiah sebagai suatu jawaban yang memadai terhadap persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dari kenyataan kepribadian manusia dan sifat dunia eksternal -- dan kegagalan filsafat ateistik humanisme dalam memberikan jawaban yang memuaskan.

Kebanyakan dari pemikiran Schaeffer yang kemudian muncul dari desakannya pada alam semesta pribadi di mana pria dan wanita hidup, yang diciptakan dalam gambar Allah yang berpribadi. Ia mengklaim bahwa "sejarah sedang menuju ke suatu tempat" dan bahwa eksistensi dari Allah yang berpribadi memberikan arti bagi ruang dan waktu. Misalnya, analisis kulturalnya termasuk perhatian penuh terhadap seni. Schaeffer tidak pernah merumuskan suatu filsafat seni, tetapi mengajarkan sebuah doktrin kreativitas yang kuat. Schaeffer merasa bertanggung jawab dalam sektor-sektor penginjilan yang kuat karena suatu kesadaran baru bahwa seni dan ketertiban kultural itu sesuatu yang sah dan sebagai bidang yang dapat dimasuki oleh orang Kristen.

PELAYANAN YANG MAKIN MELUAS

Dalam perkembangan selanjutnya, pengajaran Schaeffer lebih bersifat sosiologis dan politis. Dia melontarkan serangkaian analisis tentang subjek besar, seperti ekologi, gereja, kemurnian doktrin, aborsi, eutanasia, perang dan damai, dan hak warga negara. Dia juga menulis banyak buku yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pelayanannya terus berkembang ditandai dengan semakin seringnya undangan untuk menjadi pembicara seminar. Pada tahun 1974, ia menghadiri Kongres Penginjilan Dunia di Lausanne. Pembelaannya yang tanpa kompromi bahwa Alkitab tak mungkin salah -- "batas air yang membelah" -- dan kritikannya terhadap golongan injili kontemporer membuatnya sering menjadi tokoh kontroversial. Pelayanannya semakin meluas dengan mulai membuat film, terutama ketika membut film yang kedua. Film yang berjudul "Whatever Happened to the Human Race?" (1979) tersebut menarik perhatian para dokter dan membuka kesempatan untuk mendiskusikan aborsi dan topik-topik terkait.

PENGARUH PASTORAL DAN GEREJA

Inti pelayanan pastoral Schaeffer ialah belas kasihan pribadi yang disertai dengan sistem apologetika seutuhnya. Caranya adalah mendengarkan keluhan orang secara saksama dan simpatik. Ia disiapkan untuk "menghapus air mata yang sesungguhnya" bagi orang-orang yang dilukai oleh masalah-masalah kontemporer dan bagi masyarakat yang terhilang dan terjebak untuk melakukan aborsi.

Menurutnya, prapenginjilan diperlukan sebagai persiapan bagi seseorang untuk menerima Injil, dan hanya dengan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, seseorang dapat memberikan jawaban yang tepat. Para pakar atau orang yang buta huruf pun harus menjalani rute pertobatan yang sama dengan iman dalam karya Allah di dalam Kristus. Prapenginjilan ialah membawa orang-orang untuk mengenal kebutuhan tersebut.

Walau pernah mengalami iklim perpecahan gereja, namun Schaeffer tidak pernah berhenti membina kemurnian gereja, dan dalam akhir masa hidupnya, ia tetap mengkritik penginjilan kontemporer. Pengalaman denominasinya bahkan menimbulkan krisis rohani yang berat bagi dirinya. Dia mendokumentasikannya dalam "True Spirituality" dan tulisan lainnya. Surat-suratnya pada masa itu memerlihatkan suatu kesadaran akan banyak kesalahan yang dilakukan oleh para pemecah dan semakin kuatnya kenyataan rohani dalam hidupnya. Ia membimbing rekan-rekannya yang ikut memisahkan diri untuk memerlihatkan kasih dan juga membela kebenaran. Ia juga memasuki suatu pengertian baru tentang hubungan antara berjuang untuk memertahankan iman dan dipimpin Roh Kudus. Schaeffer banyak mempengaruhi perkembangan gereja-gereja Presbiterian konservatif di Amerika.

PRESTASI SCHAEFFER

Tema utama karya Schaeffer adalah "ketuhanan Kristus dalam totalitas kehidupan". Baginya, hidup tidak dapat dibagi menjadi suatu bagian "rohani" dan bagian "bukan rohani". Jika Yesus Kristus benar-benar Tuhan, Ia harus menjadi Tuhan dari segala hal, dalam segala bidang.

Jika pada awalnya, dari L`Abri, Schaeffer menekankan ketuhanan Kristus secara intelektual dan seni. Namun, karena kemerosotan kultur Barat, ia kemudian mengarahkan keprihatinannya ke arah ketuhanan Kristus atas isu-isu sosial.

Schaeffer telah menolong ribuan orang mencari Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan Tuhan dari kehidupan. Banyak yang telah menjadi para pemimpin intelektual dan seniman yang berhasil. Selain itu, ribuan anak yang belum dilahirkan telah diselamatkan sebagai respons terhadap aktivitasnya yang mendukung kehidupan.

Diringkas dari:

Nama majalah : Sahabat Gembala
Edisi : Mei 1991
Judul artikel : Francis Schaeffer dan L`Abri (1912 -- 1984)
Penulis : Tidak dicantumkan
Halaman : 40 -- 47

 

Diringkas oleh: Riwon Alfrey

Sumber: Bio-Kristi 23

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru