Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereTeolog / Karl Rahner

Karl Rahner


Karl Rahner lahir 5 Maret 1904 di Freiburg -- Breisgau, Jerman. Orang tuanya, Karl dan Luise (Trescher) Rahner, memiliki 7 anak dan Karl adalah anak keempat. Ayahnya adalah seorang dosen di universitas setempat. Karena kesalehan ibunya, suasana, rumah Rahner menjadi akrab dan rukun. Sekolah Karl, sebuah SD dan SMP di Freiburg, mendidiknya menjadi murid yang berjiwa toleran dan berpikir liberal. Karl memutuskan untuk masuk Serikat Yesuit setelah lulus, dan masuk dalam biara Yesuit di provinsi Jerman Timur pada tanggal 20 April 1922, tepatnya 4 tahun setelah kakaknya masuk dalam Ordo yang sama. Awal mula, Karl menjadi biarawan adalah karena pengaruh spiritualitas Ignatius Loyola. Bahkan seluruh program teologinya menyerap pemikiran Ignatius, khususnya dalam hal "menemukan Tuhan dalam segala hal". Pendidikan Karl Rahner ketika berada dalam biara mencakup pengenalan tentang ilmu filsafat Katolik dan filsuf Jerman modern. Sejak saat itu, sepertinya dia tertarik dengan pemikiran Immanuel Kant, dua pengikut Thomas Aquinas, yaitu Joseph Maréchal and Pierre Rousselot. Kedua orang inilah yang kemudian memengaruhi pemahaman Rahner tentang Thomas Aquinas.

Pada tahun pertama keberadaannya sebagai anggota Yesuit, pengaruh spiritualitas Ignatius semakin kental dalam diri Rahner. Ketika dia mengambil kuliah filsafat di Feldkirch and Pullach pada tahun 1922-1927, Rahner mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan Immanuel Kant, Joseph Maréchal (seorang Yesuit Belgia), dan Pierre Rousselot (seorang Yesuit Perancis). Kedua orang ini, terutama Maréchal, juga memberikan pengaruh yang cukup besar dalam filsafat dan karya teologisnya. Maréchal sangat terkenal dengan studinya tentang Kant dan Thomisme (pengikut ajaran Thomas). Selain mengikuti pelatihan Yesuit, Rahner juga mendapat tugas untuk mengajar bahasa Latin untuk para biarawan di Feldkirch dari tahun 1927 hingga 1929. Setelah itu, dia memulai kuliah teologinya di Valkenburg, Belanda. Dia juga tertarik dengan teologi spiritual, mistis, dan sejarah keimanan. Tanggal 26 Juli 1932, Rahner ditahbiskan menjadi pendeta dan mengikuti pelatihan teologi terakhir seperti yang disyaratkan dalam akhir studinya. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk berdoa dan mendapatkan pengalaman sebelum memulai pelayanan formalnya. Rahner menyelesaikan pelatihannya di St. Andrea, Austria tahun 1933. Selanjutnya dia menghabiskan "masa-masa tenangnya" di St. Andrea di bukit Lavanttal Austria.

Karena senior Rahner memutuskan bahwa dia akan mengajar filsafat di Pullach, dia kembali ke Freiburg tahun 1934 untuk mendapat gelar doktor filsafat. Selama kurun waktu itu dia memperdalam filsafat Kant dan Maréchal, dan pada waktu yang sama dia pun mengikuti seminar yang dibawakan oleh Martin Heidegger selama 2 tahun. Oleh karena hal ini, dia disebut sebagai murid Sekolah Katolik Heidegger (upaya untuk menyatukan pandangan-pandangan pengikut Heidegger dengan re-inter-pretasi pandangan Thomas Aquinas), bersama dengan J.B. Lotz, G. Siewerth, B. Welte, and M. Müller. Disertasi filsafatnya yang berjudul "Geist im Welt", sebuah interpretasi epistemologi yang menarik, yang dipengaruhi oleh ajaran Thomisme transenden milik Joseph Maréchal dan eksistensialisme Martin Heidegger, ditolak oleh mentornya yaitu Martin Honecker. Menurut Honecker, disertasinya terlalu dipengaruhi oleh Heidegger dan tidak cukup mencerminkan tradisi neo- skolastik Katolik. Menurut Vorgrimler, penolakan Honecker tersebut menunjukkan sikap antipatinya terhadap filsafat Heidegger. Tiga puluh empat tahun kemudian, Fakultas Filsafat Universitas Innsbruck memberikan gelar doktor atas karya-karya filsafatnya, khususnya atas disertasinya yang gagal, yang kemudian diterbitkan tahun 1939. Namun, pada awal tahun 1930-an Rahner menyampaikan keyakinannya bahwa penelitian manusia akan makna hidup berakar pada ketidakterbatasan cakrawala Pribadi Tuhan yang nyata di dalam dunia.

Tahun 1936, Rahner dipindahkan ke Innsbruck oleh seniornya untuk melanjutkan studinya di bidang teologi. Dengan pengetahuan dasar yang dia miliki sebelumnya tentang teologi patristik, dia pun berhasil menyelesaikan disertasinya yang kedua sebagai prasyarat mengajar di universitas. Segera setelah dia menyelesaikan tugasnya, dia ditunjuk menjadi dosen di fakultas teologi Universitas Innsbruck, tepatnya bulan Juli 1937.

Meskipun disertasi filsafatnya yang pertama ditolak, minat Rahner dalam bidang filsafat masih tetap membara. Selama musim panas tahun 1937, ia mengirimkan beberapa kumpulan tulisan ke Sekolah Musim Panas Salzburg dengan judul "Foundations of a Philosophy of Religion," yang kemudian diterbitkan tahun 1941. Tulisan-tulisannya ini merepresentasikan jejak peningkatan Rahner dalam bidang filsafat antropologi. Selain itu, tulisannya juga merepresentasikan dialog antara metafisik Thomisme dan gejala-gejala ontologi Heidegger.

Tahun 1939, saat Rahner masih tinggal di Austria, kelompok Nazi mengambil alih universitas dan Rahner diminta pergi ke Vienna untuk bekerja di Institut Pastoral. Di sana dia harus mengajar dan sekaligus aktif mengerjakan tugas pastoral. Ketika perang terjadi tahun 1939-1949, Rahner harus meninggalkan Jerman dan pergi ke Vienna untuk mengajar teologi dan melayani sebagai pendeta di sana.

Seiring berjalannya waktu, Rahner semakin banyak mendapatkan kesulitan dengan hierarki Roma. Secara blak-blakan, pendekatan-pendekatannya mengenai isu yang terjadi dan hal-hal menyangkut kreativitasnya tampak menantang, dan pendekatan nontradisional terhadap teologi sering membuatnya mendapat masalah dengan pemerintah yang cenderung memiliki pemikiran yang lebih tradisional, khususnya masalah pengajaran Gereja Katolik yang ketat dan kaku. Tahun 1962, tanpa ada peringatan lebih dulu, senior Rahner dalam Ordo memberitahukan bahwa dia mendapat sensor dari pihak Roma. Dengan begitu, dia tidak bisa menerbitkan atau mengajar tanpa izin. Tujuan penguasa Roma pada dasarnya hanya ingin mengawasi pandangan Rahner tentang ekaristi dan mariologi. Akan tetapi, penentuan keputusan ini tidak lagi diberlakukan ketika pada bulan November 1962, Paus Yohanes XXIII tanpa ada keberatan menunjuk Rahner menjadi pengawas ahli di Konsili Vatikan II. Rahner pun memperoleh akses ke konsili dan berbagai kesempatan untuk membagikan pemikirannya. Pengaruh Rahner di Vatikan II pun semakin meluas. Dia juga terpilih sebagai salah satu dari ketujuh teolog yang selanjutnya mengembangkan "Lumen Gentium", yaitu penjelasan dogma tentang doktrin gereja. Selain itu, dia juga banyak dilibatkan dalam presentasi-presentasi konsili lainnya.

Selama terlibat dalam konsili, Rahner diminta untuk menjadi dosen mata kuliah Dasar-dasar Kekristenan dan Filsafat Agama di Universitas Munich. Dia bersedia dengan tawaran tersebut dan mulai mengajar tahun 1964. Materi-materi kuliahnya di Universitas Munich menjadi inti bahasan dalam bukunya yang berjudul "Foundations of Christian Faith". Ironisnya, karena Rahner mengajar filsafat, ia kemudian tidak diberi kesempatan untuk mengajar mahasiswa S2 yang sebenarnya sangat dia inginkan. Alhasil, dia diterima menjadi dosen teologi dogma di fakultas teologi Katolik di Universitas Münster. Dia bekerja di sana hingga masuk masa pensiun tahun 1971.

Pengaruh Rahner dalam dunia teologi bisa dikatakan cukup besar, meskipun begitu, seorang Rahner selalu tidak ingin kehidupan pribadinya disoroti. Ia tidak terlalu banyak melayani wawancara. Seandainya dia mau diwawancara pun, dia selalu menggunakan kesempatan untuk berbicara tentang masalah teologi dan keadaan gereja daripada berbicara mengenai dirinya. Bila didesak, ia seringkali berusaha membuat cerita tentang hidupnya sedapat mungkin agar kedengaran tidak menarik. Ia tumbuh dalam sebuah keluarga Kristen kelas menengah, keluarga yang biasa-biasa saja. Bahkan saat dia ditanya mengapa dia memilih menjadi seorang Yesuit, dia menjawab dengan alasan umum seperti yang diberikan oleh orang-orang Yesuit pada umumnya. Tidak berbeda saat dia ditanya soal tulisan-tulisannya yang banyak. Dia hanya menjawab bahwa semuanya tidak ada yang menarik atau istimewa. Dia menganggap bahwa semua itu sebagai hobinya, dan menulis adalah hal yang bisa terjadi dengan sendirinya.

Di antara para mahasiswa dan rekannya sesama dosen, Rahner terkenal sebagai seorang dosen yang karismatik dan mampu membangkitkan kesetiaan dan kehangatan di antara mereka yang mengenalnya. Dia bukan seorang pendiam. Menurut beberapa rekannya, Rahner adalah seorang pria normal yang suka makan es krim, suka mobil balap, pesawat, usaha rekayasa, senang berkunjung ke toko mainan, dan melakukan tindakan-tindakan yang agak mengejutkan. Lebih jauh lagi, para rekan dan pengagumnya menekankan adanya kesesuaian yang istimewa antara spiritualitas dengan karya teologi Rahner. Menurut para pewawancaranya, Rahner adalah pribadi yang mudah marah tapi menarik. Rahner memang bukan tokoh heroik yang istimewa seperti Dietrich Bonhoeffer, namun kehidupannya yang tenang dan penuh dengan kerja keras itu sejalan dengan pemikiran teologi dan penekanannya pada pertemuan dengan Allah dalam melaksanakan tugas dan pengalaman hidup sehari-hari.

Dirangkum dari:

  1. "Karl Rahner". Dalam http://people.bu.edu/wwildman/bce/rahner.htm
  2. Karen Kilby. 2001. "Karl Rahner". Yogyakarta: Kanisius

Sumber: Bio-Kristi 60

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru