Skip to main content

Tokoh Indonesia

Amir Syarifuddin Harahap

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengenal sosok perdana menteri Indonesia yang beragama Kristen ini secara mendalam. Padahal, kiprahnya di dunia pemerintahan cukup berpengaruh. Bahkan, namanya dicantumkan dalam buku-buku pelajaran sejarah Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Seperti apakah kehidupan tokoh ini? Hal-hal positif apa yang bisa kita pelajari dari tokoh ini?

Anton Moedardo Moeliono

Putra ketiga dari pasangan R. M. Moeliono Prawirohardjo dan Maria A. Igno ini sesungguhnya tidak pernah bermaksud mendalami bahasa Indonesia. Saat itu, ia secara kebetulan membaca iklan beasiswa ikatan dinas masuk ke Fakultas Sastra (FS) Universitas Indonesia (UI) untuk menjadi pegawai bidang bahasa. Setelah meraih gelar sarjana bahasa pada tahun 1958, ia mengajar sebagai dosen sekaligus menjadi tenaga tidak tetap di Lembaga Bahasa dan Kebudayaan. Selama tiga tahun, terhitung sejak 1960, ia menjabat sebagai Kepala Bidang Perkamusan, merangkap Ketua Jurusan Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin, Sastra Indonesia UI. Dari sanalah kepakaran dia sebagai ahli bahasa mulai berkembang.

Dr. Johannes Leimena

Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu) lahir tanggal 6 Maret 1905 di Ambon. Ia keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo". Ia seorang Kristen yang berbudi luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh pamannya.

Friedrich Silaban

Diringkas oleh: N. Risanti

Friedrich Silaban adalah seorang arsitek yang mengukir sejarah toleransi beragama di Indonesia. Lahir pada tanggal 16 Desember 1912, di Bonandolok, Sumatera Utara. Ia dijuluki Presiden pertama RI dengan, 'By the grace of God" (karena anugerah Tuhan - Red.) karena berhasil memenangkan sayembara merancang masjid Istiqlal di Jakarta.

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Salah satu pendiri Partai Katolik Indonesia ini dikenal berpegang teguh pada kebenaran, menolak oportunisme, dan menjunjung tinggi etika berpolitik yang bermartabat. Dia pernah beberapa kali menjabat sebagai menteri dan turut berjasa memperjuangkan kemerdekaan dan pluralisme di Indonesia. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011.

Siapakah dia? Dia adalah Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono. Kasimo terlahir di Yogyakarta, pada 10 April 1900. Dia adalah seorang negarawan yang banyak berjasa bagi bangsa Indonesia. Dia berasal dari keluarga feodal keraton. Ayahnya bernama Ronosentiko, seorang prajurit keraton, Mantrijeron. Ibunya bernama Dalikem.

Ignatius Slamet Riyadi

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Slamet Riyadi, seorang Pahlawan Nasional Indonesia, pada awalnya bernama Sukamto. Slamet Riyadi lahir di Donokusuman, Solo, pada tanggal 28 Mei 1926. Slamet Riyadi adalah putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta. Karakter yang sangat menonjol dari sosok Slamet Riyadi adalah kecakapan dan keberaniannya, terutama setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Ia merupakan pencetus pasukan khusus TNI yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kopassus.

Laksamana Muda TNI Yosaphat Sudarso

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Yosaphat Sudarso, yang dikenal dengan sebutan Yos Sudarso, lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925. Yos Sudarso lahir dari pasangan Sukarno Darmoprawiro (polisi) dan Mariyam. Yos berperawakan kecil, cerdas, pembawaannya tenang, dan santun. Saat anak-anak, Yos bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School), setingkat SD, di Salatiga. Setelah tamat dari HIS pada tahun 1940, orang tuanya menginginkan Yos menjadi guru, tapi ia malah masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Semarang. Baru 5 bulan di situ, Jepang datang. Yos pun kembali ke Salatiga, kemudian masuk SMP Negeri di sana. Dia berhasil menamatkan pendidikan SMP pada tahun 1943. Setelah lulus SMP, Yos masuk ke Sekolah Guru di Muntilan, namun sekolah ini tidak dapat ditamatkannya karena pada masa itu terjadi peralihan pendudukan dari Belanda ke Jepang. Pada zaman pendudukan Jepang, Yos melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang selama setahun dan mengikuti pendidikan opsir di Goo Osamu Butai. Di sana, Yos termasuk salah satu lulusan terbaik. Oleh karena itu, pada tahun 1944, ia dipekerjakan sebagai mualim di Kapal Goo Osamu Butai.