Rut: Bukan Kisah Cinta Biasa

Kitab Rut mengambil latar selama masa gelap dalam sejarah Israel, meskipun kebanyakan ahli meyakini bahwa kitab itu ditulis pada kemudian hari. Tidak banyak hal baik yang terjadi selama periode Hakim-Hakim -- periode itu berakhir dengan perkataan, "Pada waktu itu, belum ada raja di Israel sehingga setiap orang melakukan yang benar sesuai pandangannya sendiri" (21:25). Namun, Rut merupakan pengingat bahwa tidak segala sesuatu itu merupakan malapetaka dan kesuraman. Pada intinya, kitab ini adalah cerita cinta -- meskipun itu bukan jenis cerita yang mungkin kita bayangkan, atau melebihi yang kita bayangkan.

Gambar: Rut dan Boas

Memahami kitab tersebut menuntut kita sadar terhadap beberapa perbedaan budaya pada zaman itu dibandingkan dengan masa sekarang. Suatu kelaparan di Israel mendorong Elimelekh, Naomi, dan keluarga mereka pergi ke Moab untuk bertahan hidup. Anak-anak laki-laki mereka menikah dengan perempuan Moab, tetapi satu per satu, semua laki-laki dalam keluarga itu mati. Naomi ditinggalkan dalam posisi yang putus asa, jauh dari rumah, dan, sebagai seorang janda pada waktu ketika keluarga dan suku merupakan satu-satunya jaringan dukungan, sama sekali tanpa perlindungan. Akan tetapi, kedua menantu perempuannya -- yang jelas sangat mengasihinya -- dibebaskan untuk pulang ke rumah keluarga mereka dan menikah lagi. Salah satu dari mereka, Orpa, pulang, tetapi Rut "memegang erat kepadanya".

Dan, hal ini, melebihi relasinya dengan Boas, adalah kisah cintanya: alih-alih mengambil jalan yang aman, Rut mengikuti ibu almarhum suaminya pergi ke tanah asing, tanpa alasan lain selain karena dia tidak mampu berpisah dengan mertuanya. Perkataannya yang terkenal, "Sebab, ke mana engkau pergi, aku pun akan pergi. Di tempat engkau akan menetap, aku pun akan menetap. Bangsamu akan menjadi bangsaku, dan Allahmu akan menjadi Allahku" (1:16) sering kali digunakan pada upacara pernikahan, tetapi perkataan tersebut aslinya adalah tentang sesuatu yang cukup berbeda.

Jadi, Naomi dan Rut pulang bersama-sama menuju tempat tinggal leluhurnya di Betlehem. Akan tetapi, mereka tidak berada dalam posisi yang baik; sebagai janda miskin, mereka bergantung pada memungut sisa dari ladang untuk bertahan hidup.

Masuklah Boas. Dia adalah salah seorang kerabat Naomi yang kaya, yang tertarik dengan keduanya -- khususnya pada Rut. Dia memerintahkan kepada para pekerjanya untuk berlaku baik kepadanya dan memastikan bahwa dia mendapat cukup untuk makan. Sebagai perempuan yang lebih tua, Naomi berinisiatif untuk menjodohkan dan memerintahkan Rut untuk mendekati Boas dan memberi isyarat tentang ketersediannya -- untuk membuka selimutnya dan berbaring "di kakinya".

Di sinilah hal-hal bisa menjadi sedikit rumit, dan kita perlu menyadari fakta bahwa semuanya ini terjadi jauh pada masa lampau. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa Rut sedang mencoba untuk menggoda Boas. Pada waktu yang sama, dia sedang memperlihatkan kepercayaan terbesar yang mungkin diungkapkannya terhadap laki-laki itu; akan mudah bagi Boas untuk memanfaatkan Rut, lalu mengingkarinya.

Meski begitu, secara mendasar, pertanyaannya bukanlah apakah Boas mencintai Rut, sebagaimana yang mungkin kita pikirkan pada masa kini. Masyarakat kuno pada waktu itu diperintah oleh berbagai aturan rumit tentang warisan, kekerabatan, dan tanggung jawab kekeluargaan. Meskipun seorang Moab, Rut masih dipandang sebagai istri dari almarhum suaminya, Mahlon. Jika dia menikah lagi, kepemilikan yang diwarisinya akan mengikutinya -- dan kepemilikan itu akan menjadi milik anak-anaknya, bukan suaminya yang baru ataupun anak-anaknya yang lain.

Dalam pasal 4, dilemanya ditunjukkan dalam cara sebaliknya, dengan pertanyaan tentang kepemilikan terlebih dahulu. Kerabat terdekat memiliki hak untuk membeli atau "menebus" kepemilikan itu -- tetapi dengan melakukannya, dia juga mengambil tanggung jawab untuk Rut. Karena dia tidak ingin melakukannya, hak itu jatuh kepada Boas -- dan sejauh yang kita tahu, mereka hidup bahagia selamanya.

... cara yang lebih baik untuk memikirkan tentang cerita ini barangkali adalah dengan mengatakan bahwa cerita itu adalah tentang pengorbanan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Jelas ada cerita cinta di sini -- jelas antara Rut dan Naomi, dan juga, mungkin, antara Rut dan Boas. Akan tetapi, dalam kasus mereka, tidak ada emosi apa pun yang dicatat. Boas adalah seorang yang terhormat yang berusaha melakukan hal yang benar, merawat seseorang yang sangat rentan karena dia merasa bahwa dia harus melakukannya. Karena itu, cara yang lebih baik untuk memikirkan tentang cerita ini barangkali adalah dengan mengatakan bahwa cerita itu adalah tentang pengorbanan. Rut mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi kepentingan-kepentingan Naomi; Boas mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi kepentingan-kepentingan Rut -- dan lewat tindakan mereka, berkat besar mengalir, karena mereka menjadi leluhur Raja Daud dan Yesus sendiri.

Cara lain untuk melihatnya adalah sebagai pengingat bahwa kehidupan tidaklah sederhana dan bahwa melakukan hal yang benar tidak selalu mudah. Boas harus menawarkan kesempatan untuk menebus tanah ini kepada orang lain, termasuk Rut pula (perhatikan juga bahwa Rut, sebagai seorang perempuan dalam masyarakat patriark, tidak punya banyak pilihan dalam perkara ini) -- tanpa jaminan bahwa "kerabat-penebus" yang terdekat akan menolak tawaran tersebut (4:6). Dia dan Rut merupakan bagian dari suatu jaringan kewajiban dan relasi, dan tidak dapat sesukanya mengikuti kehendak mereka sendiri. Allah memberkati mereka saat mereka bertindak dengan integritas, tetapi hal-hal tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan atau rencanakan.

Maka dari itu, kitab Rut merupakan kisah yang sangat manusiawi, tentang masalah-masalah manusia -- tetapi itu juga Kitab Suci yang diilhamkan, yang diceritakan untuk menuntun kita ke kebenaran yang abadi. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Bible Society
Alamat situs : https://www.biblesociety.org.uk/explore-the-bible/bible-articles/ruth-not-your-average-love-story/
Judul asli artikel : Ruth: Not your average love story
Penulis artikel : Mark Woods
Tanggal akses : 17 Mei 2021