Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Bio-Kristi

Loading

You are hereTahukah Anda / Tahukah Anda

Tahukah Anda


Meraih Penghargaan Nobel dan Menjadi Mentor Elie Wiesel


Ditulis oleh: N. Risanti

"The deep spiritual insight and the artistic intensity with which he has in his novels penetrated the drama of human life" (wawasan rohani mendalam dan intensitas artistik yang terdapat dalam novel-novelnya, menembus kisah kehidupan manusia - Red.) adalah alasan mengapa François Mauriac dianugerahi penghargaan Nobel dalam bidang sastra pada tahun 1952.

Augustinus dan Paham Manikheisme


Ditulis oleh: N. Risanti

Pada proses pencarian kebenaran dalam hidupnya, awalnya Augustinus menjadi penganut paham Manikheisme, yaitu paham yang berdasarkan ajaran dari Persia bernama Mani.

Elizabeth Fry dan Manifestasi Matius 25:31

Ditulis oleh: N. Risanti

Pada awal 1800-an, penjara Inggris merupakan tempat yang tidak manusiawi dan brutal bagi setiap tahanan yang tinggal di dalamnya. Ide penjara pada waktu itu adalah sebagai tempat untuk menghukum, dan bukan untuk merehabilitasi para tahanan.

Dukungan Albrecht Durer pada Reformasi Gereja

Dirangkum oleh: N. Risanti

Dukungan Albrecht Durer pada otoritas firman Tuhan atas gereja tampak pada karya lukisnya yang berjudul "Four Apostles". Durer berbicara banyak mengenai angin perubahan mendasar yang dibawa oleh Martin Luther melalui lukisan yang diberikannya kepada dewan kota Nuremberg tersebut.

Pengaruh Iman Tolkien

Ditulis oleh: N. Risanti

J.R.R. Tolkien adalah seorang penganut iman Katolik yang teguh. Iman percayanya itu diperolehnya berkat pengajaran Ibunya yang kuat serta teladan yang diberikan oleh pastur keluarganya, Fr. Francis Morgen. Menjadi putra altar untuk melayani misa adalah kegiatan yang kemudian selalu dilakukannya saat ia tinggal di Oratorium bersama saudaranya dalam tahun-tahun setelah kematian Ibu mereka. Iman tersebut kemudian tidak hanya berwujud dalam kehidupan cinta dan rumah tangga serta karakter pribadinya, melainkan juga telah berhasil membuat C.S. Lewis, penulis kisah klasik anak-anak "Narnia", bertobat, bahkan kemudian menjadi salah satu penulis apologetika Kristen yang terbesar.

Iman, Religiositas, dan Karya Literatur Theodore Roosevelt

TAHUKAH ANDA

Iman, Religiositas, dan Karya Literatur Theodore Roosevelt

Dirangkum oleh: N. Risanti

Theodore Roosevelt mungkin adalah presiden Amerika yang paling serius serta paling religius dalam imannya di antara semua presiden Amerika yang lain.

Dasar Etika Kristen dalam Pemikiran Paulo Freire

Ditulis oleh: N. Risanti

Meskipun dipengaruhi oleh ideologi "kiri" yang populer di negara-negara Amerika Latin, tetapi otentisitas humanisme Kristen menjadi kekuatan yang mendorong gairah Freire dalam berkarya. Setelah menikah, Freire dan istrinya, Elza, sama-sama berpartisipasi dalam Gerakan Aksi Katolik bersama beberapa teman mereka yang berasal dari kelas menengah. Hal tersebut menjadi tantangan yang sulit karena mereka harus berjuang dalam kontradiksi antara iman Kristen mereka dengan gaya hidup yang dimiliki oleh teman-teman mereka. Tantangan paling keras mereka terima ketika mengusulkan kepada teman-teman mereka tersebut bahwa pekerja yang mereka miliki harus diperlakukan sebagai sesama manusia.

Kelemahan dan Kekuatan Karakter Petrus

Ditulis oleh: N. Risanti

Petrus adalah pribadi yang awalnya sering kali memercayai pemikirannya sendiri dibanding beriman kepada Allah. Peristiwa ketika ia berjalan di air dan penyangkalannya sebanyak tiga kali di halaman rumah Imam Besar menjelaskan mengapa ia sering kali gagal untuk beriman secara teguh kepada Allah. Satu kali Paulus pernah mengatakan Petrus sebagai seorang munafik (Galatia 2:13) karena mengingkari orang-orang bukan Yahudi di bawah tekanan. Meskipun demikian, tidak ada pertentangan teologis pada Paulus dan Petrus sebab Paulus hanya menyorot mengenai praktik hidup Petrus yang tidak selaras dengan ajarannya.

Betsey Stockton Sebagai Pendidik

Ditulis oleh: N. Risanti

Betsey Stockton menjadi guru pada sekolah misi pertama yang didirikan di Hawai'i melalui peluang yang diberikan oleh pemimpin setempat kepada para misionaris Protestan untuk mengajar penduduk pribumi. Dengan bahasa setempat yang cukup dikuasainya, Betsey mengajar masyarakat umum, termasuk perempuan dan anak-anak, dengan keterampilan membaca, menulis serta berhitung. Ia kemudian juga melatih guru-guru yang berasal dari warga pribumi Hawai'i agar dapat menggantikan posisinya ketika ia meninggalkan tempat tersebut sampai misionaris yang baru datang. Sekolah misi yang didirikan oleh Stockton tersebut berhasil menetapkan arah yang baru dalam bidang pendidikan di Kepulauan Hawai'i, dan mungkin juga telah memengaruhi Samuel C. Armstrong, pendiri Hampton Institute (Perguruan tinggi bagi warga kulit hitam yang bersejarah di Virginia - Red.), yang pada periode itu juga melayani sebagai misionaris di Hawai'i. Selain itu, sekolah misi dari Betsey Stockton kemudian juga menjadi contoh bagi sekolah berasrama Hilo (sekolah untuk pendidikan keterampilan di Hawai'i - Red.), yang didirikan pada tahun 1836.

Komentar


 

Member login

Permohonan kata sandi baru